
Oleh:Ākhmad Fauzi, S.S., S.Pd.
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari
Kabupaten Purbalingga
SETIAP kali membicarakan mutu pendidikan, perhatian kita sering tertuju pada hal-hal yang tampak fisik dan megah: gedung sekolah bertingkat, kelas ber-AC, papan tulis digital, hingga kurikulum berlabel internasional. Sekolah dengan fasilitas lengkap kerap dianggap sebagai jaminan masa depan cerah bagi anak-anak.
Padahal, dalam kenyataan sehari-hari, keberhasilan pendidikan tidak selalu lahir dari kemewahan fasilitas. Ada sekolah sederhana yang mampu melahirkan murid berkarakter kuat. Sebaliknya, tidak sedikit sekolah dengan berbagai kelengkapan modern yang justru kesulitan menanamkan kedisiplinan dasar kepada muridnya.
Di tengah euforia modernisasi pendidikan, muncul gejala sosial yang perlahan menguat. Semakin banyak orang tua yang merasa tugas mendidik selesai ketika anak sudah melewati gerbang sekolah setiap pagi. Seolah-olah pendidikan dapat “dititipkan” sepenuhnya kepada guru.
Tanpa disadari, sekolah pun sering diperlakukan seperti bengkel: tempat orang tua menyerahkan anak untuk “diperbaiki”, lalu berharap anak pulang dengan hasil yang lebih baik. Pandangan inilah yang menjadi salah satu persoalan mendasar dalam dunia pendidikan kita.
Ilusi Pendidikan yang “Dititipkan”
Masalah utama yang jarang dibicarakan secara jujur adalah munculnya ilusi bahwa pendidikan dapat sepenuhnya dialihkan kepada sekolah. Banyak orang tua merasa cukup dengan memilih sekolah yang baik dan membayar biaya pendidikan. Sementara itu, peran mendidik di rumah perlahan berkurang.
Padahal, rumah tetap merupakan sekolah pertama bagi seorang anak. Di sanalah anak pertama kali belajar tentang sopan santun, kejujuran, tanggung jawab, dan empati. Bahkan sebelum mengenal huruf di papan tulis, seorang anak telah belajar banyak hanya dengan meniru perilaku orang tuanya.
Guru di sekolah tentu memiliki peran penting sebagai pembimbing intelektual dan sosial. Namun waktu mereka bersama murid terbatas. Guru hanya bertemu murid beberapa jam setiap hari, sementara proses pembentukan karakter berlangsung sepanjang waktu, terutama di rumah.
Jika fondasi yang dibangun di rumah rapuh, sekolah sering hanya menjadi tempat transfer pengetahuan, bukan tempat pembentukan manusia seutuhnya.
Dua Sayap Pendidikan: Guru dan Orang Tua
Hubungan antara orang tua dan guru sebenarnya sederhana: seperti dua sayap seekor burung. Seekor burung hanya dapat terbang jika kedua sayapnya bergerak seimbang. Jika salah satu sayap lemah, burung itu hanya akan berputar-putar tanpa pernah benar-benar terbang.
Guru berusaha mengembangkan kemampuan berpikir, kedisiplinan, dan tanggung jawab murid. Menariknya, hubungan ini tidak hanya membentuk murid, tetapi juga menghidupkan semangat guru. Kelucuan murid, kreativitas yang kadang tak terduga, hingga kenakalan kecil di kelas sering menjadi dinamika yang membuat dunia pendidikan tetap hangat. Tidak sedikit guru yang bercanda bahwa muridlah yang membuat mereka tetap “awet muda”.
Saya teringat sebuah cerita sederhana dari sebuah pesantren kecil di pedalaman Jawa Tengah. Suatu hari seorang santri dipanggil oleh kiai karena beberapa kali terlihat kurang disiplin dalam kegiatan belajar.
Setelah menasihatinya dengan sabar, sang kiai berkata pelan,
“Yang mendidik kamu bukan hanya saya di pesantren. Orang tuamu di rumah juga mendidikmu. Kalau kami berjalan searah, kamu akan mudah melangkah.”
Beberapa hari kemudian, sang kiai justru mengundang orang tua santri tersebut datang ke pesantren. Mereka duduk santai di serambi, berbincang sambil menyeruput teh panas. Tidak ada suasana mengadu atau saling menyalahkan. Yang ada hanyalah percakapan tentang bagaimana mendampingi anak dengan cara yang sama.
Perubahan kecil pun mulai terlihat. Santri itu menjadi lebih tertib dan bersemangat belajar. Cerita sederhana ini menunjukkan satu hal penting: pendidikan akan lebih berhasil ketika rumah dan sekolah berjalan bersama.
Ketika Rumah dan Sekolah Berjalan Searah
Kesulitan sering muncul ketika guru dan orang tua justru saling menyalahkan. Guru merasa orang tua kurang peduli, sementara orang tua merasa semua sudah menjadi tanggung jawab sekolah. Dalam situasi seperti ini, yang paling bingung tentu saja anak, karena ia menerima dua pesan yang berbeda.
Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari nilai rapor atau akreditasi sekolah. Keberhasilan yang sesungguhnya terjadi ketika apa yang diajarkan di ruang kelas sejalan dengan apa yang dicontohkan di ruang keluarga.
Sekolah yang hebat memang bisa melahirkan banyak sarjana. Namun hanya kerja bersama antara rumah dan sekolah yang mampu melahirkan manusia.
Mungkin di sinilah kita perlu sedikit bercermin. Jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk memilih sekolah terbaik, tetapi lupa menjadi orang tua yang benar-benar hadir dalam pendidikan anak.
Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar soal biaya sekolah yang mahal. Pendidikan adalah soal perhatian, keteladanan, dan waktu—tiga hal yang tidak pernah bisa digantikan oleh gedung megah atau kurikulum modern.
Jika dua sayap—guru dan orang tua—benar-benar bergerak bersama, anak-anak kita tidak hanya akan pandai terbang. Mereka juga akan tahu ke mana harus terbang.(***)