Kolaborasi Seniman Inggris-Jogja Angkat Filosofi Batik Tambalan

Bagikan :

*Pameran di Cardiff Suarakan Kesetaraan Penyandang Disabilitas

Para seniman di baris depan dari kiri ke kanan (Butong, Nano Warsono, Edi Priyanto) berfoto bersama tim dan penyelenggara Pameran Baik Tambalan. Sabtu (18/7/2026). (Foto: Harta Nining Wijaya/EDUKATOR).

YOGYAKARTA, EDUKATOR–Seni kembali menjadi ruang untuk menyuarakan hak-hak penyandang disabilitas. Melalui Projek Tambalan, seniman disabilitas asal Inggris, Andrew Bolton, bersama Jogja Disability Arts (JDA) menghadirkan kolaborasi lintas budaya yang mengangkat filosofi batik tambalan sebagai simbol penyembuhan, pemulihan, dan pembaruan.

Kolaborasi ini menjadi medium untuk menyuarakan pentingnya pengakuan, kesetaraan, praktik merawat (care work), serta penghormatan terhadap martabat penyandang disabilitas.

Suasana pembukaan pameran “Batik Tambalan” di Galeri RJ Katamsi, Sabtu, 18 Juli 2026.(Foto: Harta Nining Wijaya/EDUKATOR).

Pameran dibuka di Galeri R.J. Katamsi ISI Yogyakarta, Sabtu (18/7/2026), dan berakhir Minggu (19/7/2026). Dalam hal ini, Projek Tambalan mempertemukan tradisi batik Indonesia dengan budaya Welsh melalui program kolaborasi dan pertukaran seniman, penciptaan karya bersama, serta dialog lintas budaya yang melibatkan komunitas disabilitas di Indonesia dan Wales.

Karya-karya yang dihasilkan berangkat dari pengalaman hidup para seniman disabilitas di kedua negara. Pengalaman tersebut kemudian diterjemahkan menjadi karya seni yang merefleksikan identitas, ketangguhan, kepedulian, serta pentingnya setiap orang merasa diakui, didengar, dan direngkuh.

Penyelenggara menegaskan bahwa perjuangan memenuhi hak penyandang disabilitas tidak dapat dipisahkan dari pemenuhan hak dasar, penghormatan terhadap martabat manusia, dan kesejahteraan seluruh warga. “Seni menjadi jembatan untuk membangun solidaritas sekaligus memperluas ruang-ruang yang inklusif,” demikian keterangan penyelenggara.

Suasana pembukaan pameran “Batik Tambalan” di Galeri RJ Katamsi, Sabtu, 18 Juli 2026.(Foto: Harta Nining Wijaya/EDUKATOR).

Batik Tambalan Simbol Penyembuhan dan Pembaruan
Konsep Projek Tambalan mulai dikembangkan sejak Oktober 2024 dan memasuki tahap implementasi pada April 2026 melalui serangkaian diskusi antara Andrew Bolton, Jogja Disability Arts, dan para seniman disabilitas yang terlibat.

Filosofi batik tambalan dipilih karena melambangkan proses penyembuhan, pemulihan, dan pembaruan. Nilai-nilai tersebut diterjemahkan dalam kolaborasi seni yang menghubungkan pengalaman penyandang disabilitas dari Indonesia dan Wales.

Dari proses kreatif itu lahir tiga tema utama, yakni Lihat, Dengar, dan Rengkuh, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Inggris, Jawa, dan Welsh.

Mengajak Masyarakat Lebih Inklusif
Tema Lihat mengajak masyarakat mengakui keberadaan, kebutuhan, dan hak penyandang disabilitas, termasuk mereka yang memiliki disabilitas tak tampak (invisible disabilities).

Tema Dengar menempatkan pengalaman hidup penyandang disabilitas sebagai sumber utama dalam membangun pemahaman sekaligus mendorong perubahan sosial.

Sementara itu, tema Rengkuh menyoroti pentingnya praktik merawat (care work) beserta peran para pendamping yang selama ini menjadi penopang kehidupan penyandang disabilitas, tetapi kerap belum memperoleh penghargaan yang layak.

Program Kolaborasi Seni di Wales dan Yogyakarta
Rangkaian Projek Tambalan berlangsung di Wales dan Indonesia. Pada Juni 2026, tim Jogja Disability Arts mengikuti program pertukaran dan kolaborasi seniman di Bangor, Cardiff, dan Wrexham, Wales, bersama para seniman disabilitas Welsh.

Selama program tersebut mereka tinggal sementara untuk berkarya, berdiskusi, bertukar pengalaman, serta memperdalam pemahaman tentang seni dan budaya kedua negara.

Para peserta juga mengikuti lokakarya membatik, pelatihan pewarnaan alami, serta menggelar berbagai workshop bagi komunitas Indonesia dan Inggris, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Program kemudian berlanjut di Yogyakarta pada Juli 2026 untuk menyelesaikan dua karya utama bertema Lihat dan Rengkuh, sedangkan karya bertema Dengar diselesaikan di Cardiff oleh Ophelia Dos Santos.

Dipamerkan di Cardiff, Wales
Tiga karya hasil kolaborasi internasional tersebut dijadwalkan dipamerkan di Craft in The Bay Gallery, Cardiff, Wales, pada Agustus 2026.

Projek Tambalan mendapat dukungan dari Arts Council for Wales–Create Fund dan Wales Arts International–International Opportunities Fund, serta melibatkan berbagai organisasi seni dan komunitas dari Indonesia maupun Welsh.

Melalui kolaborasi ini, para seniman berharap seni tidak hanya menjadi media berekspresi, tetapi juga menjadi sarana memperkuat dialog lintas budaya, memperjuangkan kesetaraan, serta menumbuhkan penghargaan terhadap martabat penyandang disabilitas di tengah masyarakat.

Kolaborasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa seni mampu menjadi bahasa universal untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif dan menghargai keberagaman.(Harta Nining Wijaya/Prs)

 

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-07-19 at 15.16
Memprihatinkan, Penyalahguna Narkoba Mayoritas Anak Usia Sekolah
FAUZI PAKAIAN JAWA
Membangun Karakter melalui Lingkungan Sekolah
WhatsApp Image 2026-07-19 at 11.32
Nathan Melaju ke FLS2N Nasional Berkat Ketekunan dan Dukungan Keluarga
WhatsApp Image 2026-07-19 at 12.15
Sambut 98 Warga Belajar Baru, PKBM Cakra Gelar MPLS
wonogiri
PGRI Wonogiri Ajak PPPK dan PPPK Paruh Waktu Ikut Daspen