
BANYUMAS, EDUKATOR–Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) meluncurkan Program Bunila (Budidaya Ikan Lokal Anti Anemia) dan Program Besti Tani (Bersama Bertani Atasi Anemia) di Balai Desa Kalisalak, Kabupaten Banyumas. Kegiatan berlangsung Jumat (31/7/2026).
Program Bunila dan Program Besti Tani lahir sebagai implementasi subproposal “Dopamin: Program Revitalisasi, Optimalisasi, dan Integrasi Masyarakat Desa Kalisalak Guna Mencegah dan Mengurangi Angka Anemia Remaja Menuju Desa Sehat”.
Inovasi ini menjadi wujud nyata pengabdian mahasiswa dalam mencegah anemia remaja melalui pemanfaatan potensi lokal, sekaligus mendorong ketahanan pangan dan peningkatan ekonomi masyarakat.
Kegiatan dihadiri Dosen Pendamping PPK Ormawa BEM Fakultas Farmasi UMP Apt. Anjar Mahardia Kusuma, M.Si., Kepala Desa Kalisalak Ilham Triyono beserta jajaran, perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Banyumas, kelompok budidaya ikan, pengurus PKK, perangkat desa, serta masyarakat Desa Kalisalak.

Kolaborasi Kampus dan Desa Cegah Anemia
Workshop diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Universitas Muhammadiyah Purwokerto, dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an sebagai ungkapan syukur atas terselenggaranya kegiatan.
Dalam sambutannya, Dosen Pendamping PPK Ormawa BEM Fakultas Farmasi UMP, Apt. Anjar Mahardia Kusuma, M.Si., menegaskan pentingnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang mampu menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk menjawab persoalan kesehatan masyarakat.
“Mahasiswa harus mampu menghadirkan solusi nyata sesuai kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Kalisalak, Ilham Triyono, mengapresiasi kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah desa dalam mendukung pembangunan kesehatan masyarakat.
Optimalkan Potensi Lokal untuk Atasi Anemia
Sesi utama workshop menghadirkan narasumber dari Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Banyumas, Arif Yulianto, S.Pi., yang menjelaskan potensi budidaya ikan nila sebagai sumber protein hewani bergizi, mudah dibudidayakan, dan memiliki nilai ekonomi.
Menurutnya, peningkatan konsumsi ikan nila dapat membantu memenuhi kebutuhan protein keluarga sehingga mendukung upaya pencegahan anemia.
Selanjutnya, Supriyono, S.Kom. dari Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas memperkenalkan Program Besti Tani melalui budidaya tanaman anggur dan tanaman katuk sebagai diversifikasi pangan berbasis pekarangan.
Ia menjelaskan, tanaman katuk kaya zat besi, vitamin, dan nutrisi yang berperan dalam pembentukan sel darah merah, sedangkan anggur memiliki nilai ekonomi yang dapat menjadi peluang usaha bagi masyarakat.
Melalui kombinasi budidaya ikan nila, tanaman katuk, dan anggur, program tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan status gizi masyarakat, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga Desa Kalisalak.
Berlanjut dengan Aksi Nyata
Workshop tidak berhenti pada penyampaian materi. Tim PPK Ormawa BEM Fakultas Farmasi UMP bersama pemerintah desa dan mitra melanjutkan kegiatan dengan penyebaran benih ikan nila ke kolam budidaya serta penanaman simbolis bibit anggur dan tanaman katuk.
Kegiatan tersebut menjadi penanda dimulainya implementasi Program Bunila dan Program Besti Tani yang selanjutnya akan terus didampingi oleh Tim PPK Ormawa BEM Fakultas Farmasi UMP bersama pemerintah desa dan mitra terkait.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa penanganan anemia tidak cukup dilakukan melalui edukasi kesehatan semata. Pemenuhan gizi, penguatan ketahanan pangan keluarga, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat harus berjalan beriringan agar memberikan dampak yang berkelanjutan.
Program Mendapat Sambutan Positif
Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Salah seorang peserta, Badrun, menilai Program Bunila dan Program Besti Tani menjadi inovasi yang mampu mendukung peningkatan kesehatan masyarakat.
“Program ini sangat baik untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi dan menurunkan angka anemia di desa,” katanya.
Apt. Anjar Mahardia Kusuma berharap semangat masyarakat terus terjaga sehingga program dapat berkembang dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
“Program ini harus terus berlanjut agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Apresiasi juga disampaikan Arif Yulianto, S.Pi. dari Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Banyumas. Menurutnya, kolaborasi mahasiswa dengan pemerintah daerah menjadi nilai tambah karena tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga terjun langsung mendampingi masyarakat.
“Kegiatan ini sangat baik karena mahasiswa tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga berbagi ilmu secara langsung kepada masyarakat,” katanya.
Hal senada disampaikan Said dari Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Kebasen. Ia menilai program tersebut sangat relevan dengan kondisi Desa Kalisalak yang masih menghadapi persoalan gizi.
“Budidaya ikan nila, tanaman katuk, dan anggur diharapkan mampu membantu menurunkan angka anemia sekaligus meningkatkan kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Melalui Program Dopamin, Tim PPK Ormawa BEM Fakultas Farmasi UMP menghadirkan model pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan aspek kesehatan, pertanian, perikanan, dan ekonomi dalam satu gerakan bersama.
Program ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konsumsi pangan bergizi, memperkuat ketahanan pangan desa, membuka peluang ekonomi baru melalui budidaya.Hal ini sekaligus menjadi langkah konkret dalam menekan angka anemia remaja menuju Desa Kalisalak yang sehat, mandiri, dan berdaya. (Prasetiyo)