
Halaman depan SMPN 1 Poncowarno, Kebumen yang tertata bersih dan asri. (Foto: Humas SMPN 1 Poncowarno/EDUKATOR)
KEBUMEN, EDUKATOR— SMP Negeri 1 Poncowarno, Kabupaten Kebumen memanfaatkan sampah organik dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bahan pembuatan pupuk kompos dan pupuk organik cair. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi penumpukan sampah sekaligus mendukung target sekolah meraih predikat Adiwiyata Nasional.

Kader Adiwiyata di setiap kelas sedang memproses sampah organik dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), diolah menjadi pupuk kompos dan pupuk organik cair. (Foto: Humas SMPN 1 Poncowarno/EDUKATOR)
Kepala SMPN 1 Poncowarno, Eko Wahyudi, SPd. M.Pd mengatakan, program pengolahan sampah organik tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah memperkuat budaya peduli lingkungan secara berkelanjutan, menuju predikat sekolah Adiwiyata Nasional.
“Target kami, SMPN 1 Poncowarno menyandang sekolah Adiwiyata Nasional. ,” tegas Eko Wahyudi kepada EDUKATOR di SMPN 1 Poncowarno, Sabtu (9/5/2026).
Kepala SMPN 1 Poncowarno, Eko Wahyudi, SPd. M.Pd. (Dok Pribadi/EDUKATOR)
Sampah organik yang dimanfaatkan berasal dari sisa program MBG, seperti kulit semangka, melon, jeruk, serta buah dan sayuran lainnya. Limbah tersebut tidak dibiarkan menumpuk di tempat pembuangan akhir, tetapi diolah menjadi pupuk yang bermanfaat bagi tanaman di lingkungan sekolah.
SMPN 1 Poncowarno, kini memiliki murid kelas 7, 8 dan 9 sebanyak 697 orang. Tentu saja, limbah MBG yang dihasilkan dari ana-anak itu, cukup banyak. 
Hidup bersih dan sehat melalui senam pagi selalu ditanamkan kepada para murid SMPN 1 Poncowarno, Kebumen. (Foto: Humas SMPN 1 Poncowarno/EDUKATOR)
Libatkan Ratusan Kader Adiwiyata
Pendamping Program Adiwiyata sekolah, Nurul Widayati S.Si menambahkan, pengumpulan sampah organik dilakukan oleh Kader Adiwiyata di setiap kelas. Sedikitnya 130 murid tergabung dalam tim tersebut dan aktif mengawal gerakan 3R, yakni Reduce, Reuse, dan Recycle.
Reduce merupakan upaya mengurangi timbulnya sampah. Reuse berarti menggunakan kembali barang yang masih layak pakai. Sedangkan Recycle adalah mendaur ulang limbah menjadi barang atau produk yang lebih bermanfaat.
“Kami mengumpulkan sampah organik ini nantinya dibuat kompos,” terang Nurul.
Melalui gerakan itu, murid diajak mengurangi timbulnya sampah, memanfaatkan kembali barang bekas, serta mendaur ulang limbah menjadi sesuatu yang lebih berguna. Program tersebut menjadi bagian dari pembiasaan menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan sekolah.
Sampah sisa MBG yang terkumpul setiap hari kemudian diolah menjadi pupuk organik cair melalui proses fermentasi anaerob. Bahan organik dari buah dan sayuran busuk dicampur air, molase atau tetes tebu, serta decomposer M4 untuk mempercepat fermentasi.
Pupuk cair hasil olahan digunakan sebagai nutrisi tambahan tanaman, dengan cara disemprotkan ke daun atau disiramkan di sekitar tanah tanaman.
Bukti Konsistensi Sekolah Peduli Lingkungan
Eko Wahyudi menegaskan, peningkatan status dari Adiwiyata Provinsi Jawa Tengah menuju tingkat nasional, bukan sekadar mengejar penghargaan. Namun bukti bahwa program lingkungan di sekolah telah berjalan secara konsisten.
Gerbang masuk ke SMPN 1 Poncowarno. Sekolah ini beralamat di Jl. Poncowarno Km 1, Desa Poncowarno, Kecamatan Poncowarno, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.(Foto: Humas SMPN 1 Poncowarno/EDUKATOR)
SMPN 1 Poncowarno sendiri telah menyandang predikat Adiwiyata Provinsi Jawa Tengah sejak 2019. Sekolah tersebut memiliki visi mewujudkan generasi beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan peduli lingkungan.
Secara geografis, sekolah berada di kawasan hijau dekat area pegunungan dan jauh dari sumber limbah maupun polusi. Karena itu, edukasi tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan terus diperkuat agar kesadaran murid terhadap ancaman pencemaran lingkungan semakin meningkat. (Prasetiyo)