
Oleh: Akhmad Fauzi, S.S.,S.Pd., C.PIM
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari, Purbalingga
SEBUAH berita di harian Suara Merdeka beberapa waktu lalu mengangkat pandangan Prof. Mindy Blaise dari Edith Cowan University, Australia, mengenai pentingnya pembelajaran berbasis lingkungan. Menurutnya, anak tidak cukup belajar melalui buku dan penjelasan guru di dalam kelas. Mereka perlu mengalami, mengamati, menyentuh, dan berinteraksi langsung dengan lingkungan di sekitarnya agar pembelajaran menjadi lebih bermakna.
Gagasan tersebut sesungguhnya mengingatkan kita pada sebuah kenyataan sederhana yang sering terlupakan. Sekolah bukan hanya tempat mentransfer ilmu pengetahuan. Sekolah adalah rumah kedua bagi anak-anak. Di sanalah mereka belajar bukan hanya membaca dan berhitung, tetapi juga belajar menjadi manusia.
Di era sekarang, tantangan pendidikan tidak lagi hanya berkaitan dengan capaian akademik atau penggunaan telepon pintar. Tantangan yang jauh lebih besar adalah bagaimana membentuk karakter murid, agar mampu hidup berdampingan dengan lingkungan secara bertanggung jawab.
Sekolah yang bersih, aman, sehat, dan nyaman bukan sekadar menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, melainkan juga menjadi laboratorium kehidupan tempat karakter tumbuh setiap hari.
Setiap sudut sekolah sesungguhnya sedang mengajar. Halaman yang hijau mengajarkan cinta terhadap alam. Tempat sampah mengajarkan disiplin. Taman mengajarkan kepedulian. Toilet yang bersih mengajarkan tanggung jawab. Bahkan cara guru memperlakukan lingkungan menjadi pelajaran yang jauh lebih kuat daripada seribu nasihat di dalam kelas.
Lingkungan Sekolah Mengajarkan Lebih dari Sekadar Pelajaran
Sayangnya, berbagai persoalan masih sering kita jumpai. Sampah masih berserakan di kelas, koridor, maupun halaman sekolah meskipun tempat sampah telah tersedia. Bungkus makanan dibiarkan begitu saja setelah jam istirahat. Tanaman sekolah kurang terawat, bahkan fasilitas umum terkadang digunakan tanpa rasa memiliki.
Persoalan ini mungkin terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan pesan besar. Kebiasaan membuang sampah sembarangan bukan sekadar persoalan kebersihan. Ia mencerminkan rendahnya rasa tanggung jawab, disiplin, dan kepedulian terhadap lingkungan bersama.
Pemandangan bungkus jajanan yang tercecer hampir setiap hari masih penulis temui di lingkungan sekolah. Padahal sampah-sampah itu berasal dari jajanan yang baru saja dinikmati para murid.
Mereka mungkin tidak menyadari bahwa tindakan kecil meninggalkan bungkus makanan begitu saja sesungguhnya menunjukkan belum tumbuhnya rasa tanggung jawab terhadap lingkungan yang mereka gunakan bersama.
Ketika Karakter Diuji Tanpa Pengawasan Guru
Pengalaman sederhana yang pernah penulis lakukan beberapa tahun lalu semakin menguatkan keyakinan tersebut. Peristiwa itu terjadi ketika penulis masih mengajar di sekolah sebelumnya.
Penulis memang terbiasa datang ke sekolah sebelum pukul 07.30. Namun pada suatu pagi, penulis sengaja datang jauh lebih awal, yakni pukul 06.00, ketika belum ada seorang pun murid yang hadir.
Ada sebuah “prank pendidikan” yang ingin dilakukan, bukan untuk mempermalukan murid, melainkan untuk melihat bagaimana karakter bekerja ketika tidak ada guru yang mengawasi.
Sebuah tempat sampah di depan ruang kelas VII sengaja penulis rebahkan hingga seluruh isinya tumpah ke lantai. Bungkus-bungkus makanan ringan berserakan tepat di dekat pintu masuk kelas sehingga setiap murid yang datang pasti melihatnya. Setelah itu penulis kembali ke ruang guru sambil mengamati satu demi satu murid yang mulai berdatangan.
Murid pertama datang. Ia melihat sampah itu, tetapi tetap melangkah masuk kelas. Murid kedua melakukan hal yang sama. Demikian pula beberapa murid berikutnya. Tidak ada yang tergerak untuk membenahi keadaan. Hingga akhirnya datang seorang siswi.
Ia berhenti sejenak karena langkahnya terhalang tempat sampah yang terguling. Tanpa diminta, ia menegakkan kembali tempat sampah tersebut. Setelah itu ia mengambil sapu dan mulai membersihkan bungkus-bungkus makanan yang berserakan di lantai.
Sebelum pekerjaannya selesai, penulis menghampirinya. Penulis menanyakan namanya dan mengucapkan terima kasih atas kepedulian yang ditunjukkannya.
Sejak hari itu, siswi tersebut menjadi perhatian khusus penulis. Bukan karena nilai akademiknya yang tinggi, melainkan karena ia telah memperlihatkan karakter yang tidak mudah diajarkan melalui ceramah, yaitu tanggung jawab yang lahir dari kesadaran, bukan karena perintah.
Peristiwa sederhana itu meninggalkan pelajaran yang sangat berharga. Pendidikan karakter ternyata tidak selalu tampak ketika guru sedang menjelaskan materi di depan kelas.
Karakter justru muncul ketika seseorang dihadapkan pada pilihan-pilihan kecil yang mungkin tidak diperhatikan orang lain: membiarkan atau peduli, berlalu atau bertindak. Di situlah sesungguhnya pendidikan berlangsung.
Keteladanan Menjadi Kunci Tumbuhnya Karakter
Sesungguhnya, lingkungan sekolah merupakan “buku pelajaran” yang dibaca anak setiap hari. Jika setiap hari mereka melihat lingkungan yang bersih, tertata, dan dipelihara bersama, maka nilai kepedulian akan tumbuh secara alami. Sebaliknya, jika lingkungan dibiarkan kotor dan tidak terurus, anak akan menganggap keadaan tersebut sebagai sesuatu yang biasa.
Pesan Nabi Muhammad SAW bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman seharusnya tidak berhenti menjadi slogan yang ditempel di dinding sekolah. Nilai tersebut harus hidup melalui kebiasaan sehari-hari.
Karena itulah, membangun budaya sekolah yang aman, nyaman, dan bersih tidak bisa dibebankan hanya kepada petugas kebersihan. Guru, tenaga kependidikan, peserta didik, bahkan orang tua memiliki tanggung jawab yang sama.
Guru menjadi teladan pertama. Anak-anak lebih cepat meniru daripada mendengar. Ketika guru memungut sampah tanpa diminta, membuang sampah pada tempatnya, merapikan kursi setelah digunakan, atau menyiram tanaman di sela-sela aktivitasnya, sesungguhnya ia sedang mengajarkan karakter melalui keteladanan.
Pendidikan yang paling kuat memang bukan berasal dari kata-kata, melainkan dari contoh nyata.
Budaya positif juga perlu dibangun melalui kegiatan yang rutin. Program Jumat Bersih, piket kelas yang dijalankan dengan sungguh-sungguh, penghijauan sekolah, hingga penghargaan bagi kelas terbersih bukan sekadar kegiatan seremonial.
Semua itu merupakan bagian dari ekosistem pendidikan karakter yang mengajak murid belajar bertanggung jawab melalui pengalaman nyata.
Lebih jauh lagi, kepedulian terhadap lingkungan dapat diintegrasikan dalam setiap mata pelajaran. Guru IPA dapat mengajak murid mengamati keanekaragaman hayati di halaman sekolah. Guru Bahasa Indonesia dapat meminta murid menulis artikel tentang lingkungan.
Guru Seni Budaya dapat memanfaatkan barang bekas menjadi karya kreatif. Guru Matematika bahkan dapat menggunakan data volume sampah sebagai bahan pembelajaran statistika. Dengan demikian, lingkungan sekolah benar-benar menjadi sumber belajar yang kontekstual.
Membangun budaya sekolah yang aman, nyaman, bersih, dan hijau bukan sekadar memenuhi program sekolah. Ini adalah investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial serta tanggung jawab terhadap lingkungan.
Prestasi terbaik sebuah sekolah bukan hanya terlihat dari deretan piala yang menghiasi etalase. Prestasi sesungguhnya tampak ketika para lulusannya memiliki kebiasaan menjaga kebersihan, peduli terhadap lingkungan, menghargai fasilitas umum, dan rela melakukan kebaikan meskipun tidak ada yang melihat.
Sebab pada akhirnya, sekolah yang paling berhasil bukanlah sekolah yang sekadar mengajarkan ilmu pengetahuan, melainkan sekolah yang berhasil menanamkan karakter. Dan sering kali, pelajaran tentang karakter itu dimulai dari sesuatu yang tampak sangat sederhana: selembar bungkus makanan yang dipilih untuk dipungut, bukan dibiarkan. (*)