Mereka Gagal, Kita Belajar

Bagikan :

Oleh: Akhmad Fauzi, S.S.,S.Pd., C.PIM
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari, Purbalingga

ADA nasihat orang tua yang hampir selalu kita dengar ketika hendak merantau: “Pandai-pandailah memilih teman.” Nasihat itu sederhana. Bahkan sangat masuk akal. Orang tua tentu ingin anaknya berada di lingkungan yang baik, berteman dengan orang-orang yang dapat membawa pengaruh positif, dan menjauh dari pergaulan yang berisiko.

Namun, setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan, saya mulai memahami bahwa nasihat tersebut memiliki sisi lain yang sering luput kita pikirkan.

Memilih teman jangan sampai berubah menjadi memilih manusia berdasarkan statusnya. Sebab, tanpa sadar, kita bisa membangun lingkaran pergaulan yang terlalu nyaman. Kita berteman dengan mereka yang pendidikan dan pekerjaannya dianggap baik, kehidupannya mapan, pemikirannya sama, dan masa lalunya tidak banyak masalah.

Di luar lingkaran itu, kita mulai memberi jarak. Kita menyebut seseorang gagal. Kita menyebut yang lain nakal. Ada yang kita anggap tidak punya masa depan. Ada pula yang cukup kita lihat dari pekerjaan, keluarga, lingkungan, atau kesalahan masa lalunya.

Padahal, kita sering lupa satu hal. Kita hanya melihat satu halaman dari buku kehidupan seseorang. Lalu, kita merasa sudah membaca seluruh ceritanya.

Perjalanan kuliah di Yogyakarta menjadi salah satu fase kehidupan yang perlahan mengubah cara saya memandang manusia. Yogyakarta bukan sekadar tempat untuk memperoleh gelar dan menyelesaikan tugas akademik. Kota itu juga seperti ruang kelas yang tidak memiliki papan tulis.

Di sana saya bertemu dengan banyak orang dari latar belakang berbeda. Ada mahasiswa yang datang dengan dukungan keluarga kuat. Ada yang harus hidup sederhana. Ada yang bekerja sambil kuliah. Ada pula yang memiliki mimpi besar, tetapi harus berjuang menghadapi keadaan yang tidak selalu berpihak.

Semakin banyak berinteraksi dengan manusia dan kehidupan yang beragam, semakin saya menyadari bahwa setiap orang memiliki cerita. Cerita itu tidak selalu terlihat dari permukaannya.

Belajar Memahami Manusia
Pelajaran tersebut semakin kuat ketika saya melakukan riset dan observasi lapangan. Kegiatan itu berlangsung di lingkungan yang oleh sebagian masyarakat dianggap sebagai kawasan marjinal.

Pada awalnya, sangat mudah memberikan penilaian. Kita datang membawa nilai, norma, keyakinan, dan pengalaman hidup sendiri. Tanpa sadar, semua itu digunakan sebagai penggaris untuk mengukur kehidupan orang lain.

Yang berbeda kita anggap salah. Yang tidak sesuai standar kita dianggap buruk. Mereka yang pernah gagal pun dianggap tidak layak dijadikan teman.

Namun, penelitian lapangan justru mengajarkan saya hal berbeda. Datang untuk memahami tidak sama dengan datang untuk membenarkan.

Kita dapat memahami kehidupan seseorang tanpa mengikuti semua pilihannya. Kita dapat menghargai manusia tanpa menyetujui seluruh perilakunya. Di situlah empati mulai tumbuh.

Ada kalimat yang menurut saya layak direnungkan: “Sesekali duduklah bersama orang yang pernah gagal.”

Mereka memiliki pengalaman, bukan kesombongan. Mereka tahu rasanya jatuh, diremehkan, dan harus bangkit ketika tidak banyak orang yang peduli.

Saya tidak memahami kalimat itu sebagai ajakan mencari pergaulan tanpa batas. Bukan pula ajakan menganggap semua perilaku benar. Lebih jauh dari itu, kalimat tersebut merupakan ajakan menurunkan sedikit kesombongan sebagai manusia.

Terkadang kita terlalu cepat merasa lebih baik. Alasannya sederhana. Hidup kita saat ini terlihat lebih baik.

Kita lupa bahwa keberhasilan seseorang tidak selalu ditentukan kecerdasan dan kerja keras. Ada keluarga yang mendukung. Ada kesempatan yang datang pada waktu tepat. Ada lingkungan yang memberi ruang. Ada orang-orang yang membantu ketika kita jatuh.

Sebaliknya, sebagian orang harus berjuang dengan keadaan jauh lebih berat. Mereka mungkin pernah mengambil keputusan yang salah. Mereka mungkin pernah gagal sekolah, bekerja, membangun hubungan, atau memenuhi harapan keluarga.

Tetapi, bukankah gagal melakukan sesuatu tidak berarti gagal menjadi manusia? Pertanyaan itulah yang sering kita lupakan.

Pendidikan Karakter Bukan Sekadar Menghakimi
Di sekolah, kita sering mengajarkan kepada anak-anak tentang benar dan salah. Itu penting. Namun, pendidikan karakter tidak boleh berhenti pada kemampuan mengatakan, “Ini salah.”

Anak juga perlu belajar bertanya, “Mengapa seseorang sampai melakukan itu?”

Pertanyaan tersebut bukan untuk membenarkan kesalahan. Pertanyaan itu menjadi pintu menuju pemahaman.

Seorang anak yang melanggar aturan mungkin memang perlu mendapatkan konsekuensi. Namun, sebelum memberikan label “anak nakal”, bukankah kita perlu mengetahui apa yang sedang terjadi dalam hidupnya?

Seorang siswa yang kehilangan motivasi belajar mungkin bukan malas. Bisa jadi ia sedang menghadapi persoalan yang tidak pernah diceritakan.

Seorang anak yang mudah marah mungkin bukan sekadar “bermasalah”. Bisa jadi ia belum memiliki cara sehat untuk mengelola emosinya.

Di sinilah pendidikan karakter menemukan maknanya. Mendidik bukan hanya mengubah perilaku. Mendidik juga berarti berusaha memahami manusia di balik perilaku tersebut.

Kita sering berbicara tentang empati di ruang kelas. Kita membuat definisi dan materi. Kita meminta siswa menuliskan contoh perilaku peduli kepada sesama.

Namun, empati yang sesungguhnya sering lahir melalui pengalaman langsung. Terutama ketika seseorang berhadapan dengan kehidupan yang berbeda dari kehidupannya sendiri.

Ketika seorang anak bertemu dengan mereka yang hidup dalam keterbatasan, ia belajar memahami realitas. Ketika mendengarkan cerita seseorang yang kehilangan pekerjaan, ia belajar memahami perjuangan.

Ketika berbicara dengan orang yang gagal meraih cita-cita, ia belajar menerima kenyataan. Ketika melihat kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana, ia belajar memahami dunia secara lebih luas.

Di situlah anak mulai belajar bahwa kehidupan tidak sesederhana hitam dan putih.

Mungkin, pada saat itu, muncul sebuah pertanyaan dalam dirinya: “Kalau aku berada di posisi mereka, apakah aku akan tetap seperti sekarang?”

Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi awal kedewasaan.

Gagasan tersebut memiliki landasan kuat dalam dunia pendidikan. Lawrence Kohlberg, melalui teori perkembangan moralnya, menjelaskan bahwa perkembangan moral manusia bergerak menuju kemampuan mengambil keputusan berdasarkan prinsip lebih luas.

Prinsip tersebut mencakup keadilan dan penghargaan terhadap martabat manusia. Artinya, menjadi baik bukan sekadar karena takut dihukum atau ingin dipuji.

Ada saatnya seseorang berbuat baik karena menyadari orang lain juga memiliki hak untuk dihargai sebagai manusia.

Lev Vygotsky kemudian mengingatkan bahwa manusia berkembang melalui interaksi sosial. Cara berpikir dibentuk dan diperkaya melalui perjumpaan dengan orang lain.

Semakin beragam pengalaman sosial yang dimiliki, semakin besar kesempatan melihat dunia dari perspektif berbeda.

Sementara itu, Paulo Freire mengajak pendidikan untuk tidak sekadar membuat seseorang pandai membaca buku. Pendidikan juga harus membuat seseorang mampu membaca realitas kehidupan.

Membaca kemiskinan. Membaca ketidakadilan. Membaca keterpinggiran. Dan yang lebih penting, memiliki keberanian bertanya: “Apa yang bisa saya lakukan?”

Di titik itu, pendidikan tidak lagi hanya menghasilkan orang pintar. Pendidikan mulai menghasilkan manusia yang peduli.

Empati Yang Tetap Memiliki Prinsip
Sebagai pendidik, tentu kita tidak ingin anak-anak kehilangan prinsip. Empati bukan berarti membiarkan mereka mengikuti semua perilaku orang lain.

Karena itu, ada satu prinsip penting yang perlu ditanamkan: pahami manusianya, tetapi tetap kritis terhadap perilakunya.

Kita dapat berteman dengan siapa saja, tetapi tetap memiliki batas. Kita dapat mendengarkan cerita orang lain tanpa mengikuti pilihan hidupnya.

Kita dapat membantu seseorang bangkit tanpa membenarkan kesalahannya. Kita dapat menghargai seseorang tanpa menjadikannya contoh dalam semua hal.

Inilah yang saya sebut sebagai empati yang berprinsip.

Anak tidak perlu dibentuk menjadi manusia yang mudah menghakimi. Namun, mereka juga tidak perlu menjadi manusia yang kehilangan batas.

Yang kita perlukan adalah manusia yang berhati lembut sekaligus berpikir jernih.

Karena itu, pendidikan karakter seharusnya tidak hanya berbentuk nasihat. Anak-anak perlu diberi pengalaman melalui diskusi kasus sosial, proyek kepedulian, kegiatan pelayanan masyarakat, dan wawancara dengan berbagai kelompok masyarakat.

Mereka juga perlu melakukan refleksi setelah mengikuti kegiatan sosial. Yang paling penting, mereka membutuhkan kesempatan untuk mendengarkan cerita orang lain.

Guru dapat mengajukan pertanyaan sederhana. “Mengapa kita mudah menilai seseorang yang gagal?”

“Apakah orang yang pernah melakukan kesalahan masih pantas mendapatkan kesempatan kedua?”

“Apa perbedaan memahami seseorang dan membenarkan perilakunya?”

Atau pertanyaan yang lebih menggugah: “Jika kita mengalami kegagalan, apakah ingin dijauhi?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak menghasilkan jawaban sempurna. Namun, pendidikan memang tidak selalu tentang menemukan jawaban.

Kadang-kadang pendidikan adalah tentang menumbuhkan pertanyaan. Pertanyaan yang membuat seseorang berpikir lebih manusiawi.

Pada akhirnya, kita perlu berhati-hati dengan keberhasilan sendiri. Sebab, keberhasilan terkadang membuat seseorang lupa bahwa ia pernah dibantu.

Ia lupa pernah ada guru yang memberinya kesempatan. Pernah ada orang tua yang menopangnya. Pernah ada teman yang menguatkannya.

Pernah ada seseorang yang memaafkan kesalahannya.

Karena itu, ketika melihat orang lain sedang jatuh, mungkin tidak selalu diperlukan kalimat, “Saya sudah bilang.”

Mungkin yang lebih dibutuhkan adalah, “Kamu baik-baik saja? Apa yang bisa saya bantu?”

Dua kalimat tersebut sama-sama dapat keluar dari mulut manusia. Namun, dampaknya bisa sangat berbeda.

Kalimat pertama membuat seseorang merasa semakin kecil. Kalimat kedua memberi ruang untuk bangkit.

Pada Akhirnya, Kita Semua Pernah Menjadi “Mereka”
Kita mungkin merasa berhasil hari ini. Namun, siapa yang menjamin kita tidak mengalami kegagalan esok hari?

Kita mungkin merasa berada di jalan yang benar. Namun, siapa yang menjamin kita tidak tersesat suatu saat nanti?

Kita mungkin sedang berdiri di tempat yang tinggi. Namun, jangan lupa, setiap manusia memiliki kemungkinan untuk jatuh.

Karena itu, jangan terlalu tinggi memandang mereka yang sedang berada di bawah.

Sesekali turunlah. Duduklah. Dengarkan ceritanya.

Bukan untuk ikut jatuh. Bukan pula untuk membenarkan kesalahan.

Namun, untuk memahami bahwa di balik setiap manusia yang kita beri label “gagal”, mungkin ada perjuangan yang tidak pernah kita ketahui.

Dan mungkin, ketika kita bersedia duduk bersama mereka, sebenarnya bukan hanya mereka yang sedang kita bantu.

Kita sedang belajar menjadi manusia.

Sebab, pendidikan yang paling tinggi bukanlah ketika kita mampu mengatakan bahwa diri kita lebih baik daripada orang lain.

Pendidikan yang lebih matang adalah ketika kita mampu berkata: “Saya berbeda denganmu. Saya mungkin tidak menyetujui pilihanmu. Tetapi saya tetap menghargaimu sebagai manusia.”

Barangkali, itulah makna terdalam dari pendidikan karakter.

Bukan sekadar membentuk manusia yang tahu mana yang benar. Melainkan membentuk manusia yang ketika melihat orang lain sedang jatuh, tidak sibuk menghakimi, tetapi berusaha mengulurkan tangan.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika giliran kita yang jatuh, kita akan bersyukur pernah belajar melakukan hal yang sama.(*)

BERITA TERKINI

FAUZI PAKAIAN JAWA
Mereka Gagal, Kita Belajar
WhatsApp Image 2026-09-09 at 21.29
Pasar PJOK Banjarnegara Pamerkan Inovasi Guru Olahraga
WhatsApp Image 2026-09-09 at 14.09
39 Pasukan Tunas Muda Dikukuhkan
WhatsApp Image 2026-09-09 at 16.13
2.447 Lulusan Unsoed Diwisuda, 57,6 Persen Cumlaude
FULAD6
Krisis Multipolar: Ketika Diplomasi Militer Diuji Di Antara Poros Barat dan Timur