
Penampilan Syafii Efendi saat menggembleng guru-guru di Purbalingga.
PURBALINGGA, EDUKATOR — Sebanyak 1.900 guru PAUD, TK, SD, dan SMP di Kabupaten Purbalingga mengikuti Seminar Nasional “How To Be A Great Teacher” atau bagaimana menjadi guru hebat di Erhanesia Convention Center, Sabtu (1/8/2026). Menghadirkan motivator nasional Syafii Effendi, M.Si, seminar ini menggembleng para guru agar tidak sekadar menjadi pengajar, tetapi juga mampu menjadi guru hebat yang menginspirasi dan membentuk karakter generasi penerus bangsa.
Kegiatan yang diselenggarakan Teacherpreneur Nusantara (TPN) Jawa Tengah bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Purbalingga tersebut berlangsung dalam dua sesi. Sesi pagi diikuti guru PAUD, TK, dan SD, sedangkan sesi siang diperuntukkan bagi guru SMP.
Peserta seminar How T Be A Great Teacher
Motivator MURI Berbagi Inspirasi
Syafii Effendi bukan sosok baru di dunia pengembangan sumber daya manusia. Ia tercatat sebagai salah satu motivator termuda di Indonesia yang pernah meraih dua Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Salah satunya diperoleh berkat penyelenggaraan seminar dengan frekuensi terbanyak, yakni 120 seminar dalam kurun waktu tiga bulan.
Selain aktif memberikan pelatihan di berbagai daerah, Syafii juga menjabat sebagai Presiden Indonesian BRICS Youth Forum, Presiden Islamic Young Economic Forum, serta pendiri Indonesian Entrepreneur Club. Materi yang disampaikannya banyak berfokus pada pembangunan karakter, kepemimpinan, kemandirian finansial, dan pembentukan pola pikir sukses bagi generasi muda.
Guru Hebat Berawal dari Perubahan Pola Pikir
Dalam paparannya, Syafii Effendi menegaskan bahwa menjadi guru hebat harus diawali dengan perubahan pola pikir (growth mindset). Menurutnya, perubahan besar tidak akan terjadi tanpa keberanian memperbaiki diri terlebih dahulu.
“Jika ingin mengubah buahnya, Anda harus mengubah akarnya terlebih dahulu,” ujar pria kelahiran tahun 1991 ini.
Syafii mengajak para guru untuk tidak menjalani hidup berdasarkan penilaian orang lain, melainkan berpegang pada nilai-nilai kebaikan dan keyakinan kepada Tuhan.
Ia juga mengingatkan pentingnya memaafkan masa lalu, berhenti menyalahkan orang lain, serta fokus meningkatkan kualitas diri melalui berbagai sumber belajar, seperti buku, seminar, organisasi, maupun lingkungan pergaulan.
Ketua TPN Jateng Slamet Muridan SE MM (baju biru) bersama Kepala Dindikbud Purbalingga dan tamu undangan.
“Anda tidak akan bergerak maju sebelum memaafkan masa lalu,” katanya.
Menurut Syafii, growth mindset adalah pola pikir yang meyakini bahwa kemampuan seseorang dapat terus berkembang melalui belajar, latihan, kerja keras, disiplin, dan kemauan memperbaiki diri.
Guru yang memiliki pola pikir ini tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan, tetapi menjadikan setiap kesulitan sebagai kesempatan untuk belajar dan terus bertumbuh.
Ia menilai guru yang memiliki growth mindset akan selalu meningkatkan kompetensinya, terbuka terhadap perubahan, berani mencoba metode pembelajaran baru, serta mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Memahami Karakter Generasi Z dan Alpha
Syafii menjelaskan bahwa guru masa kini juga harus memahami karakter murid yang berasal dari Generasi Z dan Generasi Alpha.
Generasi Z merupakan mereka yang lahir sekitar tahun 1997–2012. Mereka tumbuh bersama internet, media sosial, dan teknologi digital sehingga terbiasa memperoleh informasi secara cepat, berpikir kritis, dan menyukai pembelajaran yang interaktif.
Sementara itu, Generasi Alpha adalah anak-anak yang lahir mulai sekitar 2013. Mereka merupakan generasi pertama yang sejak kecil akrab dengan gawai, kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan berbagai teknologi digital. Karena itu, mereka lebih menyukai pembelajaran yang kreatif, kolaboratif, dan didukung media visual maupun teknologi.
Menurut Syafii, guru tidak bisa lagi mengandalkan metode pembelajaran konvensional. Guru harus mampu beradaptasi dengan karakter murid tanpa meninggalkan nilai-nilai pendidikan karakter.
“Jangan hanya menjadi guru yang baik, tetapi jadilah guru yang hebat,” pesannya.
Ia menambahkan, guru hebat bukan hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga mampu membangkitkan semangat belajar, membentuk karakter, dan menjadikan pelajaran yang dianggap sulit menjadi menarik serta mudah dipahami murid.
Selain itu, guru hebat harus memiliki komitmen, disiplin, kemampuan komunikasi yang baik, serta semangat belajar sepanjang hayat agar tetap relevan dengan perkembangan dunia pendidikan.
Guru Hadapi Tantangan yang Semakin Kompleks
Seminar nasional tersebut dibuka oleh Bupati Purbalingga yang diwakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Purbalingga, Heru Sri Wibowo, S.Sos., M.Si.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kavupaten Purbalingga Heru Si Wibowo, S.Sos, M.Si
Heru mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru di Kabupaten Purbalingga di tengah perubahan dunia pendidikan yang semakin dinamis.
Menurutnya, guru saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Selain dituntut menguasai materi pembelajaran, mereka juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital serta memahami karakter murid dari Generasi Z dan Generasi Alpha.
“Tantangan guru semakin besar. Masyarakat juga memiliki harapan tinggi terhadap kinerja sekolah. Karena itu, guru harus terus meningkatkan kompetensi dan profesionalismenya,” ujarnya.
Heru mengapresiasi dedikasi para guru yang tetap menjalankan tugas mendidik di tengah berbagai tuntutan administrasi maupun perubahan kebijakan pendidikan. Ia berharap seminar ini mampu memperluas wawasan peserta, membangun pola pikir baru, serta meningkatkan kemampuan komunikasi sehingga guru dapat menjadi jembatan antargenerasi di lingkungan sekolah.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi penyemangat bagi guru untuk terus berkembang dan menjadi pendidik yang mampu menginspirasi murid,” katanya.
Senada dengan itu, Ketua TPN Jateng Slamet Muridan SE MM menegaskan bahwa TPN hadir untuk memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat peran guru sebagai salah satu pilar pembangunan bangsa. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mendorong perubahan pola pikir atau mindset guru agar lebih siap menghadapi tantangan zaman.
Menurutnya, masih ada sebagian pendidik yang menjalankan tugas mengajar sebatas formalitas. “Sejatinya, guru dituntut untuk terus belajar, berinovasi, dan mengembangkan diri agar mampu menjawab kebutuhan murid di era modern,” tegas Slamet Muridan. (Prasetiyo)