Oleh: Mayjend TNI (Purn.) Fulad, S.Sos, M.Si
Penasihat Militer RI untuk PBB 2017–2019
dan Kandidat Doktor lmu Pertanian Unsoed
Pendahuluan
KITA adalah bangsa dengan deretan gelar di belakang nama. Doktor, profesor, master dari kampus-kampus bergengsi dunia. Generasi mudanya fasih coding, lincah berdesain, dan lihai berpidato di panggung internasional. Dengan 280 juta jiwa, kita seharusnya menjadi raksasa yang disegani.
Lalu, mengapa kita masih terkapar di lumpur persoalan yang itu-itu saja?
Jawabannya bukanlah kurangnya anggaran, bukan pula kurangnya sumber daya alam. Jawabannya pahit, menusuk tulang, dan sering kita hindari: negeri ini subur oleh kecerdasan, tetapi gersang oleh kejujuran.
Pintar Yang Menjadi Pengkhianat
Kecerdasan tanpa kejujuran adalah pisau bermata dua. Di satu sisi tampak tajam dan berguna, di sisi lain siap menikam pemiliknya sendiri. Inilah realitas kita hari ini.
Di ruang rapat, para cendekia menyusun laporan dengan grafik nan elok. Target tercapai, pertumbuhan menggembirakan. Namun, angka-angka itu adalah anak kandung kebohongan, lahir dari rahim manipulasi.
Di proyek strategis, insinyur andal menghitung Rincian Anggaran Biaya dengan presisi. Namun, 30 persennya menguap entah ke mana, berganti menjadi mobil mewah dan rekening di luar negeri.
Di rumah sakit, dokter-dokter terbaik yang mampu melakukan transplantasi jantung justru sibuk menyusun skenario rujukan berbayar, mengorbankan rakyat kecil yang hanya menggenggam kartu BPJS.
Di ruang kelas, guru berprestasi mencetak juara olimpiade. Namun, di balik itu, ijazah dijual layaknya komoditas, dan “les wajib” menjadi momok bagi wali murid yang tidak punya.
Pintar? Sungguh pintar. Tapi, di mana letak amanah?
Kita membangun menara ilmu yang menjulang, tetapi fondasinya adalah pasir ketidakjujuran. Maka, robohnya adalah keniscayaan, bukan kejutan.
Harga Yang Harus Kita Bayar
Ketika kecerdasan berada di tangan orang yang tidak jujur, rakyat kecilah yang menanggung akibatnya. Cermati sekeliling kita.
Harga BBM melonjak bukan karena langka, tetapi karena ada yang pintar mengatur kuota impor untuk keuntungan sesaat. Cadangan minyak kita tersisa 20 hari, sebuah angka yang memalukan di tengah kelimpahan karena tata kelola energi dicederai oleh integritas yang cacat.
Proyek-proyek mangkrak menjadi monumen kebodohan yang dibangun oleh orang-orang pintar. Janji-janji manis pejabat yang berlatar belakang pendidikan cemerlang hanya berakhir sebagai angin lalu, menyisakan kekecewaan yang mengakar.
Kompas, 11 Agustus 2026, mengabarkan perang Iran menaikkan harga minyak dunia ke US$130 per barel. Ancaman global memang nyata. Tetapi, ancaman yang lebih membahayakan daripada rudal dan konflik adalah musuh dalam selimut: orang pintar yang tidak jujur yang duduk nyaman di kursi kekuasaan.
Penjajah asing bisa kita usir dengan senjata dan nyawa. Tuan baru bisa kita lawan dengan demonstrasi. Tapi, bagaimana melawan musuh yang berdasi, menyandang gelar, dan membawa stempel resmi negara?
Mengembalikan Marwah
Imam Al-Ghazali, 900 tahun silam, menorehkan nasihat abadi: “Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah.”
Izinkan saya menambahkan untuk konteks kita hari ini: pintar tanpa jujur adalah racun dalam kemasan emas.
Rasulullah tidak dijuluki Al-Qawi (Yang Perkasa) atau Al-Fashih (Yang Pintar Berbicara). Beliau dijuluki Al-Amin, Yang Terpercaya. Sebelum menjadi pemimpin, beliau adalah saudagar yang jujur. Sebelum berdakwah, beliau adalah tetangga yang amanah.
Ki Hajar Dewantara mewariskan filosofi agung: “Ing Ngarso Sung Tulodo”—di depan, berilah teladan.
Teladan apa yang paling utama? Bukanlah kecerdasan, bukan pula kekayaan. Teladan utama adalah kejujuran. Sebab, kepemimpinan tanpa kejujuran hanyalah tiran yang bersembunyi di balik topeng kebaikan.
Jujur memang berat. Jujur terasa merugi di awal. Jujur acap kali mengorbankan posisi dan jabatan. Tetapi, ingatlah, kehancuran sebuah bangsa tidak pernah datang dari orang bodoh. Kehancuran datang ketika orang-orang pintar sepakat untuk berbohong.
Mulai Dari Sekarang
Jangan lagi menunggu presiden turun tangan. Jangan menunggu menteri memberi instruksi. Kejujuran tidak butuh perintah; kejujuran adalah pilihan hati nurani.
Pertama, jika engkau ASN: Tolaklah “uang rokok” sekecil apa pun. Satu juta rupiah yang kau terima dari rakyat adalah seribu duri di hati mereka. Itu bukan rezeki, itu adalah bara api yang kelak menyala di akhirat.
Kedua, jika engkau guru: Ajarilah dengan benar. Jangan jual LKS wajib di luar ketentuan. Ingat, ilmu yang kau ajarkan dengan ketulusan adalah investasi pahala abadi.
Ketiga, jika engkau pengusaha: Bayarlah pajak dengan jujur. Negara butuh dana untuk membangun jalan dan sekolah, bukan untuk memenuhi ambisimu.
Keempat, jika engkau rakyat: Pilihlah pemimpin karena rekam jejaknya, bukan karena amplop yang menebal. Jual beli suara adalah pengkhianatan paling keji terhadap masa depan anak cucu kita.
Nabi bersabda dengan ancaman yang menggetarkan: “Tidaklah seorang hamba diberi amanah memimpin, lalu ia menipu rakyatnya, melainkan Allah haramkan surga atasnya.” (HR. Bukhari).
Inilah taruhannya. Kejujuran bukanlah sekadar etika sosial. Ini adalah urusan antara diri kita dan Tuhan.
Penutup
Kita tidak butuh seratus orang jenius dengan IPK 4,0 yang menghitung celah. Kita butuh satu juta orang biasa dengan integritas 10,0 yang teguh pada kebenaran.
Jujur dalam berjualan. Jujur dalam mengajar. Jujur dalam menulis berita. Jujur dalam membuat laporan. Jujur ketika tidak ada yang melihat. Jujur ketika hanya Tuhan yang menjadi saksinya.
81 tahun lalu, bangsa ini merdeka bukan karena orang-orang pintar, tetapi karena orang-orang jujur yang rela mengorbankan nyawa.
Hari ini, bila kita ingin menjadi bangsa yang besar, bukan hanya dengan teknologi dan kecerdasan buatan yang hebat, tetapi karena kita berani hidup dengan kebenaran.
Mari berhenti berlomba menjadi yang paling pintar.
Mari kita berlomba menjadi yang paling jujur.
Karena negeri ini tidak kekurangan orang pintar.
Negeri ini, dan selamanya, akan selalu kekurangan orang jujur.
Maka, Jadilah Bagian Dari Solusi
Untuk rakyat. Untuk anak cucu. Untuk Indonesia.
JUJUR !
Jakarta, Agustus 2026