Pasang Bendera untuk Siapa? Ketika Merah Putih Menjadi Properti, Bukan Komitmen

Bagikan :

Oleh: Mayjend TNI (Purn.) Fulad, S.Sos, M.Si
Penasihat Militer RI untuk PBB 2017–2019
dan Kandidat Doktor Ilmu Pertanian Unsoed

Pendahuluan
AGUSTUS kembali datang. Tiang-tiang bambu berdiri di depan rumah. Merah Putih berkibar di setiap sudut negeri. Jalan-jalan dipenuhi umbul-umbul, media sosial sesak oleh ucapan kemerdekaan, dan pidato-pidato tentang nasionalisme kembali menggema.

Namun saya ingin bertanya dengan jujur.

Untuk siapa sebenarnya bendera itu kita pasang?

Apakah untuk menghormati jasa para pahlawan, atau sekadar memenuhi tradisi tahunan?

Sebab di saat Merah Putih berkibar megah, harga kebutuhan pokok terus menekan rakyat. Petani masih kesulitan memperoleh pupuk, nelayan menghadapi biaya operasional yang semakin mahal, buruh bekerja keras dengan daya beli yang terus menurun, sementara hukum masih sering dipersepsikan lebih tajam kepada mereka yang lemah daripada kepada mereka yang berkuasa.

Kita menyanyikan Indonesia Raya dengan penuh semangat, tetapi sering kali kehilangan keberanian untuk membela nilai-nilai yang diperjuangkan lagu itu.

Lalu, untuk siapa sebenarnya bendera itu dikibarkan?

Bendera Bukan Aksesori Nasionalisme
Setiap Agustus kita berubah menjadi bangsa yang sangat patriotik. Merah Putih berkibar di mana-mana.

Namun ketika September tiba, bendera diturunkan. Bersamaan dengan itu, seolah ikut diturunkan pula semangat kebangsaan kita.

Nasionalisme tidak boleh berhenti ketika kalender berganti bulan.

Nasionalisme bukan tradisi musiman, melainkan watak yang hidup sepanjang tahun.

Cobalah bertanya kepada diri sendiri.

Berapa hari kita memasang bendera?

Lalu bandingkan dengan pertanyaan yang lebih penting.

Berapa hari kita membela keadilan?

Berapa hari kita menolak korupsi?

Berapa hari kita memikirkan nasib petani, guru, nelayan, prajurit, dan anak-anak bangsa yang masa depannya bergantung pada keputusan hari ini?

Jangan sampai bendera hanya menjadi hiasan yang menutupi kegagalan kita memenuhi cita-cita kemerdekaan.

Tiga Wajah Pemasang Bendera
Saya melihat setidaknya ada tiga jenis orang yang memasang bendera.

Pertama, mereka yang memasangnya karena cinta.

Mereka adalah prajurit yang menjaga perbatasan, guru yang mengajar di pelosok, petani yang mengolah sawah, nelayan yang menantang ombak, serta tenaga kesehatan yang melayani tanpa banyak sorotan.

Mereka tidak membutuhkan tepuk tangan.

Mereka tidak membutuhkan kamera.

Mereka tidak mengejar popularitas.

Bagi mereka, Merah Putih adalah amanah yang diwujudkan melalui pengabdian.

Kedua, mereka yang memasang karena kewajiban sosial.

Mereka takut dianggap tidak nasionalis, takut menjadi bahan pembicaraan, atau takut ditegur lingkungan.

Tidak ada yang salah dengan memasang bendera karena kewajiban. Namun akan lebih baik jika kewajiban itu tumbuh menjadi kesadaran.

Ketiga, mereka yang menjadikan bendera sebagai panggung pencitraan.

Inilah ironi yang paling menyakitkan.

Ada pejabat yang berbicara tentang nasionalisme tetapi mengkhianati amanat jabatan.

Ada pelaku usaha yang menikmati kekayaan negeri tanpa menghadirkan keadilan bagi masyarakat di sekitarnya.

Ada elite politik yang mengucapkan sumpah kepada bangsa, tetapi lebih setia kepada kepentingan kekuasaan daripada kepada kepentingan rakyat.

Ketika simbol dipakai untuk menutupi penyimpangan, Merah Putih kehilangan makna moralnya.

Bendera tidak pernah salah.

Yang salah adalah mereka yang berlindung di baliknya.

Suara yang Datang dari Dapur

Suatu hari saya mendengar seorang ibu di pasar berkata,

“Pak, kalau harus memilih membeli bendera atau membeli beras, saya pilih beras. Anak saya harus makan.”

Kalimat sederhana itu bukan penghinaan terhadap bendera.

Justru di situlah suara rakyat yang paling jujur.

Karena kemerdekaan sejati baru terasa ketika dapur tetap mengepul, sekolah tetap terjangkau, pelayanan kesehatan dapat diakses, dan rakyat memperoleh keadilan tanpa harus membeli hukum.

Bendera adalah simbol.

Tetapi kesejahteraan adalah bukti.

Dan sejarah selalu menilai bukti, bukan sekadar simbol.

Berhenti Menghias, Mulailah Membela

Merah Putih tidak membutuhkan penghormatan yang berlebihan.

Yang dibutuhkan bangsa ini adalah keberanian untuk menghidupi nilai-nilai yang dikandungnya.

Apakah hukum sudah benar-benar adil?

Apakah pangan kita sudah benar-benar berdaulat?

Apakah sumber daya alam dikelola sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat?

Apakah kesempatan hidup layak telah dinikmati seluruh warga negara?

Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu masih menyisakan kegelisahan, maka pekerjaan rumah kita belum selesai.

Setinggi apa pun tiang yang didirikan, sebesar apa pun bendera yang dibentangkan, semuanya akan kehilangan makna apabila keadilan terus dikalahkan oleh kepentingan.

Penutup
Sebelum memasang Merah Putih tahun ini, berhentilah sejenak.

Bukan untuk melihat ke atas.

Tetapi untuk melihat ke dalam diri sendiri.

Sudahkah hari ini kita berlaku jujur?

Sudahkah kita menolak korupsi dalam bentuk sekecil apa pun?

Sudahkah kita membela mereka yang lemah ketika memiliki kesempatan?

Karena sesungguhnya bangsa ini tidak kekurangan bendera.

Bangsa ini lebih sering kekurangan keteladanan.

Saya teringat pesan Jenderal Sudirman bahwa kemerdekaan adalah hasil perjuangan, bukan pemberian. Pesan itu tetap relevan hingga hari ini. Kemerdekaan tidak dipertahankan dengan seremoni, melainkan dengan keberanian menjaga integritas, menegakkan keadilan, dan mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi.

Maka, pasanglah Merah Putih dengan penuh hormat.

Tetapi jangan berhenti di tiangnya.

Kibarkan pula kejujuran dalam pekerjaan, keberanian dalam sikap, keadilan dalam keputusan, dan kepedulian kepada sesama.

Merdeka!!!. (*)

Jakarta, Agustus 2026

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-08-04 at 15.48
KWT Mardi Rahayu Kalialang - Unperba Ubah Sekam Jadi Arang Briket
6309736240265236923
Pemkab Purbalingga-BI Perkuat Sinergi Ekonomi Daerah
6307484440451551675
Dzikrina, Murid SMAN 1 Purbalingga Lolos Paskibraka Jateng 2026
FULAD6
Pasang Bendera untuk Siapa? Ketika Merah Putih Menjadi Properti, Bukan Komitmen
WhatsApp Image 2026-08-04 at 16.59
Dr Ir Nurul Hidayat, S.Pt, M.Kom: AI Harus Jadi Mitra Belajar, Bukan Ancaman