Pendamping Desa di Purbalingga Soroti Pupuk, Irigasi, dan Pentingnya SWOT di Bidang Pertanian

Bagikan :

Dekan Fakultas Peternakan Unsoed Ir. Novie Andri Setianto, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng (kiri) dan Mus Mulyadi, narasumber dalam sarasehan. (Foto: Budi Yuswinanto/EDUKATOR).

BANYUMAS, EDUKATOR – Keluhan petani mengenai sulitnya memperoleh pupuk, persoalan irigasi, hingga pentingnya analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats (SWOT) dalam mengembangkan sektor pertanian mengemuka dalam Sarasehan Peran Pendamping Desa dalam Meningkatkan Ketahanan Pangan Berbasis Community Development di Kabupaten Purbalingga.

Kegiatan yang digelar Program Studi S-2 Agribisnis Pascasarjana Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) itu berlangsung di Pendopo Oemah Ndeso, Baturraden, Banyumas, Jumat (24/7/2026).

Narasumber Mus Mulyadi foto bersama peserta sarasehan. (Foto: Budi Yuswinanto/EDUKATOR).

Sarasehan menghadirkan narasumber Mus Mulyadi, mahasiswa S-2 Agribisnis Pascasarjana Unsoed, yang juga Perwira Pendamping TNI di Kementerian Pertanian RI.

Acara diikuti perwakilan pendamping desa, gabungan kelompok tani (Gapoktan), penyuluh pertanian, dan petani dari Kabupaten Purbalingga.

Hadir juga dalam sarasehan tersebut, Dekan Fakultas Peternakan Unsoed Ir. Novie Andri Setianto, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng yang mendukung kegiatan tersebut. Hal ini sebagai bentuk kegiatan ilmiah verifikasi dan triangulasi data sumber untuk memperdalam dan mempertajam hasil temuan penelitian tugas akhir.

Suasana Sarasehan Peran Pendamping Desa dalam Meningkatkan Ketahanan Pangan Berbasis Community Development di Kabupaten Purbalingga. (Foto; Budi Yuswinanto/EDUKATOR).

Mus Mulyadi mengatakan, pendamping desa memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan pangan melalui pemberdayaan masyarakat.

Menurutnya, keberadaan pendamping tidak hanya membantu petani dalam aspek teknis budidaya, tetapi juga memfasilitasi akses permodalan, memperkuat kelembagaan petani, serta membangun kolaborasi dengan berbagai pihak.

“Pendamping desa menjadi penghubung agar petani memperoleh akses yang lebih baik terhadap berbagai program pembangunan pertanian,” ujarnya.

Gendhu-gendhu rasa berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. (Foto: Budi Yuswinanto/EDUKATOR).

Peran Pendamping Kian Dibutuhkan
Mus Mulyadi yang pernah berdinas di Bataliyon Infanteri 406 Candra Kusuma , Bojong, Purbalingga dari tahun 1998-2006 menjelaskan, pemerintah terus memperkuat ketahanan pangan melalui berbagai program, seperti pencetakan sawah baru, pembentukan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), hingga penempatan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang akan mendukung pembangunan di desa.

Ia menilai keberhasilan program tersebut membutuhkan sinergi antara pendamping desa, penyuluh pertanian lapangan (PPL), Gapoktan, Babinsa, pendamping keluarga harapan (PKH), serta berbagai unsur lainnya di tingkat desa.

Menurut Mus Mulyadi, pembangunan pertanian harus berorientasi pada keberlanjutan (sustainable development), sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.

Ia juga mengingatkan bahwa jumlah petani milenial masih sekitar enam persen sehingga regenerasi petani menjadi tantangan besar yang harus segera diatasi.

Pupuk dan Irigasi Jadi Persoalan Utama
Dalam sesi diskusi, sejumlah peserta menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi petani di lapangan.

Ketua Gapoktan Sida Muncul, Kecamatan Bukateja, Sentot Budi Santosa, mengungkapkan distribusi pupuk bersubsidi masih belum sesuai kebutuhan petani.

Ia menjelaskan, jenis pupuk yang diajukan melalui Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) kerap tidak disetujui sehingga petani menerima pupuk jenis lain.

“Kami mengajukan jenis pupuk tertentu, tetapi yang datang justru Ponska,” katanya.

Selain pupuk, persoalan irigasi juga menjadi keluhan utama petani. Jauhari, peserta dari Kecamatan Kemangkon, menyampaikan wilayah Kedungbenda masih menghadapi kendala pasokan air irigasi yang berdampak pada produktivitas pertanian.

SWOT Jadi Bekal Pengembangan Pertanian
Pada bagian lain Mus Muyadi mengemukakan, setiap pendamping desa harus mengenali potensi daerah sekaligus memahami berbagai tantangan yang dihadapi. Setiap permasalahan yang muncul perlu dianalisa melalui Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats (SWOT).

Hal itu dikandung maksud agar program pertanian yang disusun sesuai dengan kondisi desa. Melalui analisis ini, pendamping dapat memetakan kekuatan, seperti lahan yang subur dan Gapoktan yang aktif, sekaligus mengidentifikasi kelemahan, misalnya keterbatasan irigasi dan sulitnya memperoleh pupuk bersubsidi.

Selain itu, pendamping juga harus mampu menangkap peluang, seperti adanya program ketahanan pangan, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), dan akses permodalan bagi petani.

Di sisi lain, berbagai ancaman, seperti perubahan iklim, serangan hama, dan rendahnya minat generasi muda menjadi petani, perlu diantisipasi melalui strategi yang tepat.

Dengan pendekatan SWOT, program pemberdayaan pertanian menjadi lebih terarah, efektif, dan berkelanjutan.

Kepedulian Akademisi
Menanggapi sarasehan tersebut, pakar pemberdayaan masyarakat Unsoed, Prof. Dr. Adhi Iman Sulaiman SIP, M.Si, mengatakan, kegiatan ini merupakan bentuk verifikasi dan klarifikasi data melalui Focus Group Discussion (FGD) yang dikemas secara lebih terbuka, humanis, dan dialogis dalam format sarasehan atau Gendhu-gendhu Rasa.

Menurutnya, kegiatan ini menjadi wujud kepedulian akademisi, khususnya mahasiswa magister, dalam mengidentifikasi berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, sekaligus menggali potensi sumber daya manusia, sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan.

“Hasilnya tidak hanya memperkuat analisis penelitian, tetapi juga menghasilkan rekomendasi program pemberdayaan masyarakat yang lebih tepat sasaran dan konstruktif,” jelas Prof Adhi Iman Sulaiman. (Prasetiyo)

 

 

 

 

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-07-23 at 19.17
Jumberseri, Wujudkan MTs Ma'arif NU 05 Majasari yang Bersih dan Sehat
FAUZI PAKAIAN JAWA
Ketika Integritas Menjadi Mata Pelajaran yang Terlupakan
WhatsApp Image 2026-07-24 at 20.47
RN Talks Perkuat Komitmen Bersama Berantas Korupsi
sarasehan1
Pendamping Desa di Purbalingga Soroti Pupuk, Irigasi, dan Pentingnya SWOT di Bidang Pertanian
WhatsApp Image 2026-07-25 at 07.38
Program Unggulan GALAKSI Perkuat Integritas Kemenag Purbalingga