
Oleh: Tukijo, S.Pd., M.Pd.
Mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan Bahasa UNNES
Mengajar di SMP Negeri 17 Semarang
HARI Pramuka ke-65 pada 14 Agustus 2026 mengusung tema yang ambisius, yakni “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045.” Pertanyaan besarnya, bisakah Gerakan Pramuka, yang dikenal dengan seragam cokelat dan tali-temali, benar-benar menjadi motor penggerak swasembada pangan?
Jawabannya mungkin terletak pada seberapa jauh kita mampu melihat Pramuka bukan sekadar ekstrakurikuler, melainkan sebagai ekosistem pembinaan karakter dan keterampilan hidup.
Pilihan tema tersebut bukan tanpa alasan. Pangan merupakan isu fundamental yang berkaitan dengan kesehatan, stabilitas ekonomi, dan kedaulatan bangsa. Di sisi lain, Pramuka memiliki kekuatan struktural yang luar biasa dengan sekitar 25 juta anggota yang tersebar hingga ke tingkat desa.
Kondisi ini menjadikan Pramuka sebagai organisasi massa dengan jangkauan akar rumput yang sulit ditandingi. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, bahkan menilai nilai disiplin, gotong royong, dan kemandirian yang diajarkan Pramuka sangat relevan untuk menghadapi tantangan pangan.
Dari Gerakan Menanam Hingga Scout Farm
Potensi tersebut mulai diterjemahkan ke dalam aksi nyata. Menteri Pertanian, misalnya, meluncurkan tantangan bagi Pramuka untuk menanam 250 juta pohon. Logikanya sederhana, jika 25 juta anggota masing-masing menanam 10 pohon, dampaknya tentu akan luar biasa.
Program ini tidak hanya bersifat simbolis. Penanaman komoditas bernilai ekonomi, seperti cabai, kelapa, atau kakao, diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus membantu menekan inflasi. Gagasan besar tersebut mulai diimplementasikan melalui berbagai program.
Salah satunya dilakukan Kwartir Cabang Sumenep melalui program Scout Farm yang mendorong setiap gugus depan mengembangkan ketahanan pangan secara mandiri, seperti budidaya hidroponik atau ikan lele.
Langkah strategis lainnya adalah penguatan Satuan Karya Tarunabumi sebagai wadah bagi Pramuka Penegak dan Pandega untuk mendalami pertanian modern. Harapannya, mereka tidak hanya menjadi petani, tetapi juga inovator dan wirausahawan di bidang pangan.
Upaya ini penting untuk menjawab tantangan regenerasi petani, mengingat masih banyak generasi muda yang memandang pertanian sebagai pekerjaan yang kotor dan kurang menjanjikan.
Tantangan Mengubah Wajah Pertanian
Meski optimisme cukup tinggi, mewujudkan Pramuka sebagai garda depan swasembada pangan bukan tanpa rintangan. Tantangan terbesar mungkin terletak pada perubahan cara pandang. Pramuka harus mampu memperkenalkan wajah baru pertanian yang modern, berbasis teknologi, dan menguntungkan.
Pertanian masa depan bukan hanya tentang cangkul dan sawah. Pertanian modern telah berkembang menuju konsep smart farming, pemanfaatan drone, analisis data, otomatisasi, hingga pemasaran digital.
Karena itu, kegiatan kepramukaan di bidang pertanian juga harus mampu mengikuti perkembangan zaman agar menarik bagi Generasi Z dan Generasi Alpha yang tumbuh di era digital.
Selain itu, gerakan menanam pohon maupun program Scout Farm membutuhkan keberlanjutan. Tanpa pendampingan dan pemeliharaan yang serius, program-program tersebut berpotensi menjadi kegiatan sesaat yang kehilangan dampak jangka panjang.
Pembina dan pelatih Pramuka juga dituntut untuk terus memperbarui pengetahuan, terutama mengenai teknologi pertanian dan isu pangan kekinian. Dengan demikian, kegiatan yang dikembangkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi benar-benar memberikan pengalaman dan keterampilan yang bermanfaat bagi anggota Pramuka.
Pramuka Sebagai Laboratorium Karakter
Lantas, mungkinkah Pramuka mendukung swasembada pangan? Sangat mungkin. Namun, Pramuka bukanlah solusi tunggal, melainkan bagian penting dari ekosistem besar ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.
Kekuatan Pramuka terletak pada kapasitasnya sebagai laboratorium pendidikan karakter. Menanam padi mengajarkan kesabaran, memelihara ternak mengajarkan tanggung jawab, sedangkan berkolaborasi di kebun mengajarkan gotong royong. Semua itu merupakan nilai-nilai inti dalam pendidikan kepramukaan.
Swasembada pangan bukan hanya tentang meningkatkan produksi. Lebih dari itu, swasembada pangan juga berkaitan dengan upaya menciptakan generasi yang mencintai tanah air melalui ketahanan pangan. Di sinilah Pramuka memiliki peran yang tidak tergantikan, yakni mencetak generasi yang tidak hanya cakap secara teori, tetapi juga tangguh, mandiri, dan siap bekerja nyata untuk negeri.
Langkah kecil yang dilakukan jutaan anggota Pramuka secara bersama-sama tentu dapat menghasilkan dampak yang besar. Jika setiap anggota memiliki kesadaran untuk menanam, memelihara, mengolah, dan memanfaatkan pangan secara bijak, gerakan tersebut dapat menjadi kekuatan sosial yang luar biasa.
Menjaga Marwah Gerakan Pramuka
Di samping itu, jika Pramuka tetap konsisten menjaga marwah sebagai organisasi kepanduan yang nonpartisan dan tidak terjebak dalam kepentingan politik praktis, perannya dalam pembangunan karakter bangsa akan semakin maksimal. Pramuka harus tetap menjadi ruang pendidikan nilai, bukan arena kepentingan pragmatis.
Pramuka memiliki posisi strategis dalam menanamkan nilai-nilai disiplin, kemandirian, gotong royong, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi fondasi penting dalam membangun semangat berswasembada pangan.
Namun, pertanyaan pentingnya adalah: siapkah pemerintah menyediakan lahan yang dapat dikelola serta memberikan pendampingan kepada anggota Pramuka yang jumlahnya begitu besar di seluruh Indonesia?
Pertanyaan tersebut layak menjadi bahan renungan bersama. Sebab, jika potensi jutaan anggota Pramuka dapat dipadukan dengan dukungan lahan, teknologi, pendampingan, dan kebijakan pemerintah yang berkelanjutan,
Gerakan Pramuka tidak hanya akan menjadi organisasi pendidikan karakter, tetapi juga dapat menjadi salah satu kekuatan sosial dalam mewujudkan swasembada pangan menuju Indonesia Emas 2045.(*)