Prof Totok Agung DH: Swasembada Beras Perlu Diikuti Perlindungan Petani

Bagikan :

Guru besar pemuliaan tanaman (Plant Breeding) Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D

PURWOKERTO, EDUKATOR — Peningkatan produksi padi yang mendukung capaian swasembada beras di Indonesia dinilai menjadi momentum penting untuk memperkuat kesejahteraan petani. Capaian tersebut perlu dijaga melalui perlindungan petani, pengembangan varietas unggul, serta antisipasi terhadap risiko gagal panen dan perubahan kondisi lingkungan.

Guru besar pemuliaan tanaman (Plant Breeding) Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D mengemukakan, peningkatan produksi beras pada 2025 dibandingkan 2024 dan 2023 merupakan perkembangan yang patut mendapat apresiasi akademik.

“Kenaikan produksi tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari Kementerian Pertanian, Kementerian Pertahanan, TNI, sektor swasta, perguruan tinggi hingga petani. Produksi padi 2025 menunjukkan lonjakan luar biasa,” ujar Prof.  Totok Agung Dwi Haryanto kepada EDUKATOR di kampus Fakultas Pertanian Unsoed, Jumat (2/10/2026).

Petani Tetap Menjadi Kunci Produksi
Prof Totok Agung menegaskan, perguruan tinggi berkontribusi melalui pengembangan varietas unggul, sedangkan petani tetap menjadi pihak utama yang secara langsung menghasilkan produksi padi di lapangan.

“Sswasembada beras memiliki arti strategis karena beras tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga menyangkut aspek sosial, budaya, politik, dan ketahanan nasional,” ujar alumni program doktor di Kyushu University, Fukuoka, Jepang ini.

Selanjutnya dikatakan, kebijakan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp 6.500 per kilogram memberikan dorongan bagi petani. Di sejumlah daerah, harga di tingkat petani bahkan dilaporkan dapat mencapai sekitar Rp 8.000 per kilogram.

Namun, tingginya harga gabah juga perlu diimbangi dengan keberlanjutan usaha penggilingan dan perdagangan beras. Pasalnya, harga beras di tingkat konsumen tetap menghadapi batas harga eceran tertinggi (HET), termasuk untuk beras premium yang ditetapkan Rp14.900 per kilogram.

Unsoed Kembangkan Varietas Unggul Hadapi Tantangan Lingkungan
Selain menjaga harga dan produksi, pengembangan varietas unggul menjadi salah satu bagian penting dalam mempertahankan swasembada beras. Salah satu tantangannya adalah lahan dengan kadar garam atau salinitas tinggi yang dapat mengganggu pertumbuhan dan produktivitas tanaman padi.

Unsoed telah mengembangkan Inpari Unsoed 79 Agritan, varietas yang memiliki toleransi terhadap kondisi salinitas tinggi. Selain itu, terdapat varietas Protani yang dikembangkan untuk menghadapi kondisi kekeringan.

Kedua varietas tersebut juga telah diperkenalkan kepada petani di Pangandaran. Pengembangan teknologi budidaya turut diarahkan pada pemanfaatan bahan pembenah tanah, termasuk biochar, untuk mendukung kemampuan tanaman menghadapi kondisi lahan yang kurang ideal.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat pemberdayaan petani sekaligus meningkatkan produktivitas padi di berbagai kondisi lahan.

Asuransi Pertanian Perlu Diperluas
Prof. Totok mengingatkan bahwa peningkatan produksi tidak boleh membuat risiko gagal panen diabaikan. Ancaman El Nino, kekeringan, perubahan kondisi lingkungan, serta berbagai faktor lain masih dapat mengganggu produksi.

Masalah lainnya adalah belum luasnya cakupan asuransi pertanian, terutama bagi petani kecil. Ketika gagal panen terjadi, sebagian petani masih harus menanggung sendiri kerugian yang dialami.

“Petani kecil masih menanggung risiko gagal panen,” ujarnya.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu memperluas jangkauan perlindungan melalui asuransi pertanian sehingga petani memiliki perlindungan ketika menghadapi risiko produksi.

Dari Swasembada Beras Menuju Swasembada Pangan
Selain mempertahankan swasembada beras, Prof. Totok mendorong penguatan swasembada pangan secara lebih luas. Komoditas strategis lain seperti kedelai, jagung, dan pangan penting lainnya juga perlu mendapatkan perhatian.

Pemerintah juga perlu melanjutkan reforma agraria serta pengembangan sawah baru di luar Jawa. Namun, pembukaan lahan baru harus memperhatikan produktivitas lahan dan ketersediaan jaringan irigasi agar benar-benar mendukung peningkatan produksi.

“Padi sudah sangat bagus, tetapi harus tetap dipertahankan,” kata Prof. Totok.

Menurutnya, keberhasilan swasembada beras perlu diikuti kebijakan yang menjaga kesejahteraan petani, terutama melalui harga pembelian yang layak, perlindungan dari risiko gagal panen, serta inovasi varietas unggul.

Dengan demikian, capaian produksi padi tidak hanya menjadi keberhasilan jangka pendek, tetapi dapat menjadi fondasi menuju ketahanan dan kemandirian pangan yang lebih luas. (Prasetiyo)

 

BERITA TERKINI

Screenshot 2026-10-02 175933
Prof Totok Agung DH: Swasembada Beras Perlu Diikuti Perlindungan Petani
FULAD6
Amerika Pergi dari Irak: Saatnya Kedaulatan Diuji
WhatsApp Image 2026-10-02 at 11.09
Batik Satukan Keberagaman di SMPN 3 Satap Rembang
Screenshot 2026-10-02 064136
Seragam Batik Purbalingga, Antara Identitas dan Keterjangkauan
Screenshot 2026-10-01 181633
MIM Wirasana Perkuat Bahasa Asing Berstandar CEFR