*Kerjasama Jadi Faktor Utama Ketahanan Pangan

Foto bersama usai sarasehan ketahanan pangan di Kompi Produksi Kodim 0713/Brebes, Desa Songgom, Kecamatan Songgom, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Sabtu (25/7/2026). (Foto: Budi Yuswinanto/EDUKATOR).
BREBES, EDUKATOR–Program Studi Doktor (S3) Ilmu Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto menggelar Sarasehan Ketahanan Pangan di Kompi Produksi Kodim 0713/Brebes, Desa Songgom, Kecamatan Songgom, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Sabtu (25/7/2026).
Kegiatan ini menegaskan bahwa kerja sama antara perguruan tinggi, TNI, petani, penyuluh pertanian, dan pemerintah desa menjadi faktor utama dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis potensi lokal.
Sarasehan tersebut diikuti 50 peserta yang terdiri 30 petani dari Gapoktan Tani Makmur, 14 personel Kompi Produksi Kodim 0713/Brebes, tiga personel Koramil Songgom, kepala desa, dua Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), serta akademisi Program Doktor Ilmu Pertanian Unsoed.
Suasana sarasehan ketahanan pangan. (Foto: Budi Yuswinanto/EDUKATOR).
Danramil Songgom, Lettu Cba Dukram, menilai kegiatan yang diinisiasi mahasiswa Program Doktor Ilmu Pertanian Unsoed tersebut memiliki nilai strategis untuk memperkuat sinergi berbagai pihak dalam mendukung ketahanan pangan.
“Sarasehan ini penting sebagai media kerja sama ketahanan pangan antara Kompi Produksi, Unsoed, dan masyarakat petani,” ujarnya.
Suasana sarasehan yang menghadirkan Danramil Songgom, Lettu Cba Dukram dan Komandan Kompi Produksi Kodim 0713/Brebes, Serma Harsono. (Foto: Budi Yuswinanto/EDUKATOR).
Kompi Produksi Kelola Lahan Pertanian 11,7 Hektare
Komandan Kompi Produksi Kodim 0713/Brebes, Serma Harsono, menjelaskan lahan pertanian yang dikelola memiliki luas sekitar 11,7 hektare.
Lahan tersebut dimanfaatkan untuk berbagai komoditas, terdiri jagung seluas 4 hektare, padi 3 hektare, singkong 1 hektare, pepaya 1 hektare, pisang 1 hektare, kelengkeng 2 hektare, serta cabai, kacang, dan mangga di lahan kurang dari 1 hektare.
Menurutnya, sebagian komoditas masih dalam masa pertumbuhan. Sementara hasil panen yang telah diperoleh meliputi jagung sebanyak 4–5 ton, padi sekitar 3 ton, dan cabai sekitar 200 kilogram.
Dalam sarasehan tersebut, peserta juga diperkenalkan dengan sistem pengelolaan pertanian yang diterapkan Kompi Produksi melalui budidaya tanaman pangan dan hortikultura. Model pemanfaatan lahan tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bagi petani dalam meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga ketersediaan pangan.
Suasana sarasehan ketahanan pangan. (Foto: Budi Yuswinanto/EDUKATOR).
Kolaborasi Jadi Kunci Ketahanan Pangan Berkelanjutan
Sarasehan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab yang mempertemukan akademisi, TNI, petani, penyuluh pertanian, pemerintah desa, dan Gapoktan Tani Makmur dalam satu forum. Melalui dialog tersebut, setiap pihak saling bertukar pengalaman, pengetahuan, dan gagasan untuk mencari solusi dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis potensi lokal.
Para petani membagikan pengalaman mengenai praktik budidaya di wilayah masing-masing, sementara personel Kompi Produksi Kodim 0713/Brebes memaparkan pengelolaan lahan, pemilihan komoditas unggulan, serta strategi budidaya yang telah diterapkan.
Penyuluh pertanian turut memberikan masukan mengenai teknik budidaya berkelanjutan untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian sebagai salah satu pilar penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Perguruan tinggi berperan melalui riset, inovasi, dan pendampingan ilmiah, TNI mendukung penyediaan lahan serta penguatan kelembagaan, sedangkan petani dan kelompok tani menjadi pelaku utama dalam penerapan teknologi budidaya di lapangan.
Sinergi itu diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan melalui peningkatan produksi, pemanfaatan sumber daya lokal secara optimal, serta pengembangan pertanian yang berkelanjutan.
Pendekatan Pemberdayaan Berbasis Kajian 3P
Pakar pemberdayaan masyarakat Unsoed, Prof. Dr. Adhi Iman Sulaiman, dalam kesempatan itu memaparkan pentingnya pendekatan pemberdayaan berbasis kajian 3P, yakni problematika, potensi, dan prospek. Kajian tersebut mencakup Sumber Daya Manusia (SDM), Sumber Daya Ekonomi (SDE), Sumber Daya Sosial Budaya (SDSB), dan Sumber Daya Lingkungan (SDL) sebagai dasar penyusunan program pemberdayaan masyarakat.
“Hasilnya nanti berupa solusi program yang dirancang dan dilaksanakan secara partisipatif, egaliter dan dialogis seperti sarasehan, FGD dan gendhu-gendhu rasa atau sambung rasa,” kata Prof Adhi Iman.

Suasana sarasehan ketahanan pangan. (Foto: Budi Yuswinanto/EDUKATOR).
Kebutuhan Mendesak Penyediaan Air
Dalam diskusi tersebut, Danramil Lettu Cba Dukram juga mengungkapkan bahwa kebutuhan paling mendesak di kawasan Kompi Produksi adalah penyediaan air.
Menurutnya, lahan pertanian masih mengandalkan curah hujan karena tidak dilalui aliran sungai. Meskipun telah tersedia sumur, sarana pompanisasi dan penampungan air dalam bentuk embung masih sangat diperlukan untuk mendukung kegiatan penyiraman.
Menanggapi hal itu, Prof. Adhi menyatakan pihaknya akan mendorong kerja sama dengan Unsoed guna mendukung penguatan manajemen, peningkatan kompetensi petani, dan produktivitas pertanian melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), magang, kerja praktik, serta praktikum mahasiswa maupun dosen.
Melalui sarasehan tersebut, peserta memperoleh pemahaman bahwa keberhasilan ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh penerapan teknologi budidaya saja, tetapi juga oleh kolaborasi yang erat dan berkelanjutan antara perguruan tinggi, TNI, pemerintah, petani, penyuluh pertanian, Gapoktan Tani Makmur, serta masyarakat.
Sinergi tersebut diharapkan mampu memperluas penerapan inovasi, teknologi, dan praktik pertanian yang baik sehingga meningkatkan produktivitas, kesejahteraan petani, serta ketersediaan pangan. Dan hasil dari sarasehan tersebut diharapkan menjadi rekomendasi bagi pengembangan kebijakan serta praktik ketahanan pangan yang berkelanjutan di Kabupaten Brebes. (Prasetiyo)