
Ilustrasi AI
PURWOKERTO, EDUKATOR–Purwokerto dan Cilacap mengalami penurunan harga secara umum pada April 2026 atau deflasi. Meski demikian, inflasi tahunan atau kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam jangka waktu tertentu di kedua daerah tetap terkendali dalam kisaran sasaran nasional. Kondisi ini didukung sinergi Bank Indonesia dan pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), serta penguatan program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
“Inflasi yang terjaga ini tidak lepas dari penguatan program pengendalian pangan dan koordinasi yang intensif,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Christoveny di Purwokerto, Selasa (5/5/2026). .
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Purwokerto mencatat deflasi sebesar -0,07 persen secara bulanan atau month to month (mtm), yaitu perbandingan harga bulan berjalan dengan bulan sebelumnya.
Sementara itu, inflasi tercatat 1,03 persen secara tahun berjalan atau year to date (ytd), yakni akumulasi perubahan harga sejak awal tahun hingga bulan laporan, serta 2,12 persen secara tahunan atau year on year (yoy), yaitu perbandingan harga dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini lebih rendah dibandingkan Maret 2026 yang mengalami inflasi 0,68 persen (mtm), 1,10 persen (ytd), dan 3,31 persen (yoy).
Kondisi serupa terjadi di Cilacap yang mengalami deflasi lebih dalam, yakni -0,21 persen (mtm), dengan inflasi 0,87 persen (ytd) dan 2,23 persen (yoy). Capaian tersebut juga menurun dibandingkan Maret 2026 yang mencatat inflasi 0,70 persen (mtm), 1,08 persen (ytd), dan 3,51 persen (yoy).
Tren Selaras Jawa Tengah dan Nasional
Perkembangan ini sejalan dengan tren di tingkat provinsi dan nasional. Pada April 2026, Jawa Tengah mengalami deflasi -0,03 persen (mtm) dan inflasi 2,11 persen (yoy), lebih rendah dari bulan sebelumnya. Secara nasional, inflasi tercatat 0,13 persen (mtm) dan 2,42 persen (yoy), juga menunjukkan perlambatan dibandingkan Maret 2026.
Dampak Normalisasi Pasca-Lebaran
Deflasi di kedua wilayah dipicu normalisasi permintaan setelah periode Ramadhan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri. Berakhirnya arus mudik dan balik menurunkan mobilitas masyarakat sehingga harga sejumlah komoditas kembali stabil.
Selain itu, tarif angkutan antarkota kembali normal dan harga emas perhiasan domestik menyesuaikan penurunan harga emas global seiring meredanya ketegangan geopolitik.
Komoditas Pangan Jadi Penyumbang Utama
Berdasarkan kelompok pengeluaran, penurunan harga terutama terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Di Purwokerto, kelompok ini mengalami deflasi -0,62 persen (mtm) dengan andil -0,19 persen. Sementara di Cilacap tercatat -0,67 persen (mtm) dengan andil -0,22 persen.
Komoditas utama penyumbang deflasi meliputi daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai rawit yang mengalami penurunan harga.
Sinergi BI dan TPID Jaga Stabilitas
Secara tahunan, inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5±1 persen. Hal ini merupakan hasil konsistensi kebijakan moneter serta sinergi antara Bank Indonesia dan pemerintah daerah melalui TPID.
Program GPIPS terus diperkuat melalui berbagai langkah seperti Gerakan Pangan Murah, pengembangan sentra pangan, panen hasil petani milenial dan pesantren, hingga kerja sama antar daerah dalam distribusi pangan.
Strategi 4K Perkuat Pengendalian Inflasi
Ke depan, TPID Banyumas Raya akan memperkuat strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Upaya ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga serta memastikan inflasi tetap terkendali sesuai target nasional di tengah dinamika ekonomi daerah.(Budi Yuswinanto/Prs)