Ramadan dan Godaan Layar Digital

Bagikan :

Oleh:Ākhmad Fauzi, S.S., S.Pd.
Guru SMP Negeri 2 Kutasari
Kabupaten Purbalingga

RAMADAN selalu datang dengan peluang yang sama, tetapi tidak semua orang meraih hasil serupa. Ada yang keluar sebagai pemenang dengan hati lebih bersih dan amal melimpah. Ada pula yang hanya menahan lapar dan dahaga, sementara waktunya lebih banyak habis di depan layar dibanding bersama Al-Qur’an.

Di era digital, hampir setiap Muslim membawa “dunia” dalam genggaman. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan penetrasi internet telah melampaui 70 persen populasi dan mayoritas diakses melalui smartphone. Pertanyaannya, di bulan Ramadan ini, apakah gawai menjadi jalan pahala atau justru sumber penyesalan?

Sungai Kesempatan Bernama Ramadan
Ramadan ibarat pasukan yang menyeberangi sungai di malam hari. Sang komandan memerintahkan prajurit mengambil batu sebanyak mungkin saat menyeberang. Ada yang mengambil banyak, ada yang sedikit, bahkan ada yang hampir tidak mengambil sama sekali.

Keesokan paginya, batu-batu itu berubah menjadi permata. Yang membawa banyak bersyukur, yang sedikit menyesal. Ramadan adalah sungai itu, dan setiap hari adalah “batu” kesempatan.

Allah mengingatkan, “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh…” (QS. Al-‘Asr: 1–3). Waktu adalah modal utama, dan kerugian terbesar adalah lalai memanfaatkannya.

Laporan We Are Social mencatat masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari tujuh jam per hari di internet. Jika kebiasaan ini terbawa tanpa kendali selama Ramadan, berapa waktu tersisa untuk tilawah, dzikir, dan doa? Rasulullah ﷺ bersabda, “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Sahih Bukhari).

Bahkan beliau mengingatkan, “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan…” (HR. Tirmidzi). Hadis ini menjadi peringatan bahwa waktu yang habis tanpa makna akan dimintai pertanggungjawaban.

Teknologi, Ladang Pahala atau Lalai?
Islam tidak menolak teknologi. Sejarah mencatat ilmuwan Muslim seperti Ibnu Sina dan Al-Khwarizmi membangun peradaban melalui ilmu dan inovasi. Teknologi bersifat netral; nilainya ditentukan oleh cara kita menggunakannya.

Gawai bisa menjadi sarana dakwah, media belajar Al-Qur’an, penguat silaturahmi, dan jalan sedekah. Namun, ia juga dapat menyita fokus, menggeser waktu salat, dan melemahkan kekhusyukan.

Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18). Ramadan adalah momentum evaluasi dan kesempatan menabung untuk kehidupan akhirat.

Agar Ramadan tidak berlalu sia-sia, maka kita perlu melakukan:
1).Disiplin waktu digital : Tetapkan jam bebas gawai, terutama sebelum dan sesudah shalat.
2).Target tilawah harian : Minimal satu juz atau sesuai kemampuan, konsisten.
3).Digital fasting : Kurangi media sosial beberapa jam setiap hari.
4).Gunakan HP untuk kebaikan : Dengarkan kajian, baca tafsir, atau aplikasi Al-Qur’an.
5).Bangun budaya keluarga Qur’ani : Tadarus bersama lebih bermakna daripada menonton sendiri-sendiri.

Ramadan tidak akan kembali dengan kesempatan yang sama. Setiap detik yang berlalu tak bisa diulang. Seperti pasukan di sungai itu, kita tidak tahu nilai “batu” yang kita ambil hingga waktu berlalu. Jangan sampai pagi kemenangan datang, lalu kita menyesal karena terlalu ringan membawa bekal.

HP ada di genggaman. Pilihan ada di tangan. Apakah ia menjadi saksi pahala atau saksi kelalaian? Semoga Ramadhan tahun ini bukan sekadar lewat, tetapi benar-benar kita seberangi dengan membawa permata sebanyak mungkin. (*)

 

BERITA TERKINI

lampion1
Ratusan Lampion Terangi Ramadan di Purbalingga
menembak2
Atlet Menembak Banyumas Alif Satria Dipersiapkan Menuju Asian Games di Jepang
6260472746336783609
Selama Ramadan, Jam Kerja ASN Dipangkas Jadi 32 Jam 30 Menit
Akhmad Fauzi1
Ramadan dan Godaan Layar Digital
casa1
Selera Rasa Iftar, Sensasi Berbuka di Casa de Lani