Saat Judi Online Mengincar Murid, Mampukah Guru Menjadi Benteng Terakhir?

Bagikan :

Oleh: Akhmad Fauzi, S.S.,S.Pd., C.PIM
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari, Purbalingga

GAWAI telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan peserta didik. Melalui perangkat kecil di genggaman, murid dapat mengakses sumber belajar, berdiskusi dengan guru, hingga mengembangkan kreativitas. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, tersimpan ancaman yang tidak kalah besar. Salah satunya adalah perjudian online yang kini semakin mudah diakses dan semakin canggih menyasar generasi muda.

Yang memprihatinkan, sasaran judi online tidak lagi terbatas pada orang dewasa. Remaja bahkan anak usia sekolah mulai menjadi target melalui berbagai iklan, permainan digital, media sosial, hingga tautan yang dikemas seolah-olah sebagai hiburan.

Dengan modal uang yang relatif kecil, mereka dijanjikan kemenangan besar dalam waktu singkat. Padahal, di balik tampilan yang menarik, tersimpan sistem yang memang dirancang agar pemain terus kalah dan kembali bermain.

Fenomena ini bukan sekadar persoalan pelanggaran hukum atau kerugian ekonomi. Judi online merupakan ancaman terhadap pembentukan karakter, kesehatan mental, bahkan keimanan peserta didik.

Karena itu, sekolah tidak cukup hanya memberikan larangan. Pendidikan harus mampu membangun benteng moral yang membuat murid memiliki kemampuan menolak godaan tersebut dari dalam dirinya.

Jalan Pintas yang Menghancurkan Karakter
Pesan seperti ini sesungguhnya telah lama disampaikan oleh KH. Zainuddin MZ. Dalam berbagai ceramahnya, beliau mengingatkan bahwa perjudian bukan hanya menghabiskan harta, tetapi juga merusak akhlak, menghancurkan semangat bekerja, memutus hubungan sosial, dan menjauhkan manusia dari nilai tauhid.

Meskipun disampaikan puluhan tahun lalu, pesan tersebut justru semakin relevan pada era digital ketika perjudian dapat masuk ke ruang belajar melalui layar telepon pintar.

KH. Zainuddin MZ menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki cita-cita untuk hidup lebih baik. Namun, cara mencapainya akan menentukan kualitas hidup seseorang.

Ada yang memilih jalan yang halal melalui belajar, bekerja keras, dan berdoa. Sebaliknya, ada pula yang tergoda jalan pintas dengan menghalalkan segala cara, termasuk berjudi. Pilihan kedua inilah yang perlahan membentuk mental instan, yakni keinginan memperoleh hasil besar tanpa proses yang benar.

Mentalitas instan sangat berbahaya bagi dunia pendidikan. Murid yang terbiasa mengharapkan keuntungan tanpa usaha akan kehilangan penghargaan terhadap proses belajar.

Mereka menjadi tidak sabar menghadapi kesulitan, mudah menyerah, dan lebih percaya pada keberuntungan daripada kemampuan diri. Padahal, pendidikan dibangun di atas keyakinan bahwa keberhasilan lahir dari proses panjang, disiplin, dan kerja keras.

Dalam ceramahnya, KH. Zainuddin MZ juga mengingatkan tentang penyakit tulul amal, yaitu angan-angan yang terlalu panjang dan tidak realistis. Dalam konteks judi online, penyakit ini tampak ketika seseorang terus membayangkan kemenangan besar meskipun kenyataannya terus mengalami kerugian.

Murid mulai bermimpi menjadi kaya hanya dengan menekan tombol pada layar gawai. Akibatnya, semangat belajar menurun, produktivitas hilang, dan waktu yang seharusnya digunakan untuk mengembangkan potensi justru habis mengejar harapan semu.

Ironisnya, sistem judi online memang dirancang untuk memelihara harapan tersebut. Sesekali pemain diberi kemenangan kecil agar tetap percaya bahwa keberuntungan besar tinggal menunggu waktu.

Padahal, secara matematis, keuntungan utama selalu berada di pihak penyelenggara. Semakin lama seseorang bermain, semakin besar peluang mengalami kerugian.

Tidak sedikit keluarga kehilangan tabungan, anak kehilangan uang saku, bahkan muncul tindakan berbohong atau mencuri demi memperoleh modal untuk kembali berjudi.

Dampaknya tidak berhenti pada aspek ekonomi. Judi online juga mengikis kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.

Murid yang terjebak dalam kecanduan cenderung menutup diri, sulit berkonsentrasi, prestasi belajar menurun, serta mulai mengabaikan kewajiban terhadap keluarga maupun sekolah. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melahirkan generasi yang miskin daya juang dan lemah karakter.

Lebih jauh lagi, perjudian mengancam kemurnian tauhid. Ketika seseorang menggantungkan harapan pada keberuntungan semu, mencari “jam hoki”, atau berbagai ramalan agar memperoleh kemenangan, sedikit demi sedikit ia menjauh dari sikap tawakal kepada Allah SWT.

Keberhasilan tidak lagi dipandang sebagai hasil ikhtiar yang disertai doa, melainkan sebagai permainan nasib yang dapat dimanipulasi melalui berbagai mitos. Di sinilah bahaya terbesar judi online, karena ia tidak hanya merusak kehidupan dunia, tetapi juga menggerus fondasi keimanan.

Allah SWT telah mengingatkan bahwa perjudian termasuk perbuatan yang menimbulkan permusuhan, kebencian, serta menghalangi manusia dari mengingat Allah dan melaksanakan salat. Larangan tersebut menunjukkan bahwa dampak judi jauh melampaui persoalan uang. Ia menyentuh seluruh dimensi kehidupan manusia, mulai dari moral, sosial, hingga spiritual.

Guru sebagai Benteng Karakter Murid
Menghadapi kondisi tersebut, guru memiliki peran yang sangat strategis. Tugas guru bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membentuk karakter dan menjadi teladan bagi peserta didik.

Ketika murid setiap hari melihat gurunya bekerja dengan jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan menghargai proses, sesungguhnya mereka sedang belajar nilai-nilai kehidupan yang tidak selalu tertulis di dalam buku.

Keteladanan merupakan bahasa pendidikan yang paling mudah dipahami murid. Nasihat akan kehilangan makna apabila tidak didukung oleh perilaku nyata.

Sebaliknya, sikap sederhana, kejujuran, kesabaran, dan integritas yang ditunjukkan guru setiap hari akan meninggalkan jejak yang jauh lebih kuat dibandingkan ribuan kata-kata.

Dalam konteks pencegahan judi online, guru dapat mengambil beberapa langkah nyata.

Pertama, meningkatkan literasi digital agar murid memahami bagaimana aplikasi dan algoritma perjudian bekerja untuk menguntungkan bandar.

Kedua, membiasakan diskusi terbuka mengenai dampak judi terhadap masa depan, kesehatan mental, dan kehidupan keluarga.

Ketiga, membangun komunikasi yang erat dengan orang tua sehingga perubahan perilaku murid dapat segera dikenali.

Keempat, memberikan pendampingan kepada murid yang mulai menunjukkan gejala kecanduan tanpa menghakimi, melainkan mengajak mereka kembali menemukan harapan melalui pendidikan dan penguatan iman.

Membangun Benteng dari Rumah dan Sekolah
Namun demikian, sekolah tidak mungkin bekerja sendiri. Keluarga tetap menjadi lingkungan pendidikan pertama.

Orang tua perlu mengawasi penggunaan gawai, membangun komunikasi yang hangat, serta menjadi teladan dalam mengelola keuangan dan menggunakan teknologi secara bijaksana. Ketika sekolah dan keluarga berjalan seiring, benteng perlindungan terhadap anak akan menjadi jauh lebih kuat.

Pada akhirnya, melawan judi online bukan sekadar memblokir situs atau memperketat pengawasan. Yang jauh lebih penting adalah membangun benteng dari dalam diri peserta didik, yaitu karakter yang kuat, akal yang kritis, serta keimanan yang kokoh.

Murid yang memiliki integritas akan mampu berkata “tidak” terhadap godaan sekalipun kesempatan terbuka lebar di hadapannya.

Pesan KH. Zainuddin MZ tetap relevan untuk dunia pendidikan hari ini. Beliau mengingatkan bahwa manusia tidak boleh tergoda oleh jalan pintas yang menjanjikan keuntungan sesaat tetapi berakhir pada penyesalan yang panjang.

Pendidikan harus mengajarkan bahwa keberhasilan sejati tidak lahir dari keberuntungan, melainkan dari ilmu, kerja keras, kejujuran, doa, dan tawakal kepada Allah SWT.

Di tengah derasnya arus digital, guru tidak hanya dituntut menjadi pengajar, tetapi juga penjaga nilai. Di balik layar gawai yang setiap hari menemani peserta didik, guru harus hadir sebagai benteng tauhid dan keteladanan.

Sebab, ketika ilmu berjalan beriringan dengan akhlak dan keimanan, sekolah tidak hanya melahirkan murid yang cerdas, tetapi juga generasi yang tangguh, berintegritas, dan mampu menjaga dirinya dari berbagai godaan zaman.(*)

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-07-22 at 12.33
Banjarnegara Kekurangan 2.177 Guru
WhatsApp Image 2026-07-22 at 12.35
Ketua PGRI Jateng Dr Muhdi Tegaskan Besarnya Perjuangan PGRI Untuk Guru
FULAD6
Masa Depan Indonesia, Indonesia Masa Depan: Akankah Menjadi Negara Maju atau Negara Gagal?
fauzijuni1
Saat Judi Online Mengincar Murid, Mampukah Guru Menjadi Benteng Terakhir?
muhdi1
Ketua PGRI Jateng Dr Muhdi: PGRI Terus Perjuangkan Kesejahteraan Guru