Oleh: Ākhmad Fauzi, S.S., S.Pd.
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari
Kabupaten Purbalingga
PAGI itu, menjelang pembagian rapor, suasana ruang Bimbingan Konseling (BK) terasa lebih hening dari biasanya. Bersama beberapa rekan guru, kami berbincang tentang berbagai persoalan siswa selama satu tahun ajaran. Bukan sekadar catatan pelanggaran atau nilai yang menurun, melainkan kisah-kisah yang tersembunyi di baliknya.
Ada anak yang mudah marah karena hidup di tengah konflik keluarga. Ada yang sulit menerima aturan karena sejak kecil selalu mendapatkan apa yang diinginkan. Ada pula yang lebih betah berlama-lama di sekolah daripada pulang ke rumah karena rumah justru menjadi tempat yang membuatnya tidak nyaman.
Percakapan itu menyisakan sebuah pertanyaan yang layak direnungkan bersama. Jangan-jangan, sebagian perilaku yang selama ini kita sebut sebagai “kenakalan anak” sebenarnya bukan semata-mata keinginan untuk melawan atau membuat masalah. Bisa jadi, itu adalah cara mereka menyampaikan sesuatu yang tidak mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata.
Seorang anak yang terus membuat gaduh di kelas mungkin sedang berusaha menarik perhatian karena merasa kurang diperhatikan di rumah. Anak yang sering membantah belum tentu tidak menghormati orang dewasa. Bisa jadi, ia sedang menyimpan kebingungan, tekanan, atau keinginan untuk didengar. Bahkan pelanggaran aturan yang berulang terkadang merupakan ekspresi dari rasa kecewa, marah, cemas, atau frustrasi yang tidak menemukan saluran yang tepat.
Karena itu, sebelum terburu-buru memberi label “nakal”, kita perlu bertanya lebih dalam: apa yang sebenarnya ingin disampaikan anak melalui perilakunya?
Memahami Perilaku Anak
Dalam banyak kasus, perilaku anak merupakan bahasa emosional yang belum mampu mereka terjemahkan menjadi kalimat sederhana seperti, “Saya sedang sedih”, “Saya merasa tidak diperhatikan”, “Saya sedang kesulitan”, “Saya butuh bantuan”, atau “Saya ingin didengar.”
Mungkin selama ini kita terlalu fokus memperbaiki perilaku yang tampak di permukaan, sementara akar persoalannya justru tersembunyi jauh di bawahnya. Padahal, memahami penyebab sebuah perilaku sering kali lebih penting daripada sekadar menghukum perilaku itu sendiri.
Anak-anak yang saat ini duduk di bangku sekolah tumbuh dalam dunia yang sangat berbeda dengan masa kecil orang tua mereka. Mereka lahir di tengah internet, media sosial, dan arus informasi yang bergerak tanpa henti. Mereka hidup dalam lingkungan yang menawarkan begitu banyak peluang sekaligus tekanan.
Sebagian ahli menyebut mereka sebagai generasi digital. Ada pula yang menggunakan istilah generasi stroberi untuk menggambarkan anak-anak yang tampak kreatif dan ceria, tetapi juga lebih sensitif terhadap tekanan dan perubahan. Istilah tersebut bukan dimaksudkan sebagai label negatif, melainkan pengingat bahwa setiap generasi memiliki tantangan yang berbeda.
Jika tantangannya berubah, pendekatan mendidiknya pun perlu berkembang. Pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi, “Mengapa anak zaman sekarang berbeda?” melainkan, “Apakah cara mendidik kita sudah menyesuaikan dengan zaman mereka?”
Didiklah Anak-anak Sesuai Zamannya
Pesan inilah yang sering dirujuk dalam ungkapan yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib, “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya.” Meskipun bukan hadis Nabi Muhammad SAW, pesan tersebut mengandung hikmah yang tetap relevan hingga kini. Nilai-nilai akhlak tidak berubah, tetapi cara menyampaikannya perlu menyesuaikan perkembangan zaman.
Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya pendidikan dan akhlak dalam keluarga. Beliau mengingatkan bahwa pendidikan yang baik merupakan hadiah terbaik yang dapat diberikan orang tua kepada anak-anaknya. Artinya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari karakter serta kesehatan emosional anak.
Di lapangan, kita sering menjumpai dua pola pengasuhan yang sama-sama berisiko.
Di satu sisi, banyak anak diasuh oleh kakek dan nenek karena orang tua bekerja jauh dari rumah. Kasih sayang yang melimpah tentu merupakan anugerah. Namun, tanpa batas yang jelas, kasih sayang dapat berubah menjadi sikap permisif. Anak terbiasa mendapatkan semua keinginannya. Ketika bertemu aturan di sekolah, teguran guru dianggap sebagai ancaman, bukan bagian dari proses pembelajaran.
Di sisi lain, masih ada keyakinan bahwa bentakan, cubitan, atau pukulan merupakan bagian dari pendidikan. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa hukuman fisik tidak membuat anak menjadi lebih baik. Sebaliknya, hal itu dapat meningkatkan risiko munculnya perilaku agresif, kecemasan, rendah diri, dan renggangnya hubungan antara anak dengan orang tua.
Yang menarik untuk direnungkan, banyak orang tua yang bersikap keras sebenarnya tidak berniat menyakiti anak. Mereka hanya mengulang pola pengasuhan yang dahulu mereka alami. Sebuah cara yang diwariskan dari generasi ke generasi tanpa pernah benar-benar dievaluasi apakah masih relevan untuk kondisi saat ini.
Di era sekarang, pendidikan tidak lagi cukup dengan kalimat, “Pokoknya harus nurut!” Anak-anak membutuhkan alasan, dialog, dan teladan. Mereka ingin didengar, meskipun bukan berarti semua keinginannya harus dipenuhi. Mereka membutuhkan batasan yang jelas sekaligus hubungan yang hangat.
Kasih Sayang Sangat Diperlukan
Ketegasan tetap penting, tetapi ketegasan tidak identik dengan kekerasan. Kasih sayang juga sangat diperlukan, tetapi kasih sayang bukan berarti membiarkan semuanya. Mungkin yang paling dibutuhkan anak-anak hari ini adalah keseimbangan antara keduanya: aturan yang konsisten sekaligus hubungan yang penuh kehangatan.
Guru sering kali menjadi orang pertama yang melihat perubahan perilaku anak. Namun, guru tidak selalu mengetahui apa yang terjadi di rumah. Sebaliknya, orang tua melihat anak setiap hari, tetapi tidak selalu mengetahui bagaimana ia berinteraksi di sekolah. Karena itu, pendidikan tidak dapat dibebankan kepada salah satu pihak saja. Kolaborasi antara keluarga dan sekolah menjadi kunci agar anak memperoleh pendampingan yang utuh.
Rapor seharusnya tidak hanya menjadi momen melihat angka-angka hasil belajar. Lebih dari itu, rapor dapat menjadi kesempatan untuk bertanya: Apakah anak sedang baik-baik saja? Apakah ia merasa aman di rumah? Apakah ia memiliki teman untuk berbagi? Apakah kita lebih sering mendengar daripada menghakimi?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu terkadang jauh lebih penting daripada sekadar membahas nilai matematika atau jumlah pelanggaran yang dilakukan anak.
Kita Semua Sedang Belajar
Tidak ada orang tua yang sempurna. Tidak ada guru yang selalu benar. Kita semua sedang belajar menjalankan peran masing-masing. Barangkali yang dibutuhkan anak-anak bukanlah orang dewasa yang sempurna, melainkan orang dewasa yang mau terus bertumbuh. Mau meminta maaf ketika salah, mau mendengar ketika anak ingin bercerita, dan mau menyesuaikan cara mendidik dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai kebaikan.
Pada akhirnya, anak-anak tidak hanya mengingat nasihat yang kita ucapkan. Mereka lebih banyak mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka. Rumah seharusnya tetap menjadi tempat pulang yang paling aman, bukan tempat yang membuat mereka ingin pergi.
Mungkin sesekali kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya lebih sering memerintah daripada mendengarkan? Apakah saya terlalu melindungi hingga anak tidak belajar bertanggung jawab? Apakah cara mendidik saya masih relevan dengan zaman anak saya? Apakah rumah sudah menjadi tempat yang nyaman untuk bercerita?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak selalu nyaman. Namun, dari situlah perubahan dapat dimulai. Sebab, mendidik anak bukan sekadar menyiapkan mereka menghadapi masa kini, melainkan membantu mereka bertumbuh menjadi manusia yang sehat, tangguh, berakhlak, dan bahagia. (***)