
Kepala Dindikbud Purbalingga, Heru Sri Wibowo, S.Sos, M.Si
PURBALINGGA, EDUKATOR— Jam belajar PAUD, TK, SD, dan SMP di Purbalingga dipangkas selama bulan Ramadan. Guru juga diminta tidak memberi pekerjaan rumah (PR) atau tugas berlebihan. Jika ada tugas, harus ringan, menyenangkan, dapat dilakukan bersama keluarga, serta tidak menuntut penggunaan gawai dan internet secara intensif.
Kegiatan pembelajaran selama Ramadan, murid muslim dan non-muslim sama-sama diarahkan meningkatkan pembinaan karakter. Murid muslim dianjurkan mengikuti tadarus Al-Qur’an, pesantren kilat/Pondok Ramadan, dan kajian keislaman. Sedangkan murid non-muslim menjalani bimbingan rohani sesuai agama dan kepercayaan masing-masing dengan difasilitasi sekolah.
Kebijakan itu tertuang dalam Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga Nomor 400.3/4 tertanggal 16 Februari 2026 tentang pembelajaran pada bulan Ramadan bagi jenjang PAUD dan pendidikan dasar. Surat tersebut ditujukan kepada koordinator wilayah kecamatan, kepala SMP, serta pengawas satuan pendidikan se-Kabupaten Purbalingga.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga, Heru Sri Wibowo, S.Sos, M.Si menegaskan, satuan pendidikan wajib menjaga agar murid tetap nyaman belajar.
Pengaturan Kegiatan Pembelajaran Selama Ramadan
| No | Hari | Tanggal | Keterangan Pembelajaran |
| 1 | Rabu – Sabtu | 18, 19, 20, dan 21 Februari 2026 | Pembelajaran mandiri di lingkungan keluarga, tempat ibadah, dan masyarakat sesuai penugasan dari Satuan Pendidikan |
| 2 | Senin – Sabtu | 23 Februari – 14 Maret 2026 | Kegiatan pembelajaran dilaksanakan di Satuan Pendidikan |
| 3 | Senin – Jumat | 16, 17, 18, 19, dan 20 Maret 2026 | Libur bersama Idulfitri bagi Satuan Pendidikan |
| 4 | Senin – Jumat | 23, 24, 25, 26, dan 27 Maret 2026 | Libur bersama Idulfitri bagi Satuan Pendidikan |
| 5 | Senin | 30 Maret 2026 | Kegiatan pembelajaran di Satuan Pendidikan dilaksanakan kembali |
“Kegiatan pembelajaran mandiri tanggal 18 sampai 21 Februari 2026 tidak boleh membebani murid dengan PR atau tugas yang memerlukan biaya besar maupun penggunaan gawai dan internet secara intensif,” tegas Heru Sri Wibowo.
Penugasan Harus Sederhana
Sekolah diminta menyusun tugas yang mudah, menyenangkan, dan mempererat hubungan anak dengan keluarga. Tugas juga tidak boleh menimbulkan beban tambahan bagi orang tua.
“Penugasan hendaknya sederhana, bisa dikerjakan bersama keluarga, dan tidak menimbulkan beban finansial,” lanjutnya.
Jadwal Belajar Disesuaikan
Pada 18–21 Februari 2026, murid menjalani pembelajaran mandiri di rumah, tempat ibadah, atau lingkungan masyarakat sesuai arahan sekolah. Selanjutnya, 23 Februari hingga 14 Maret 2026, kegiatan belajar kembali berlangsung di satuan pendidikan dengan sejumlah penyesuaian.
Aktivitas fisik seperti PJOK dan kepanduan dikurangi. Guru melakukan asesmen formatif dan memberi dukungan bagi murid berkebutuhan khusus maupun yang berpotensi tertinggal.
Libur bersama Idulfitri ditetapkan pada 16–20 Maret dan 23–27 Maret 2026. Pembelajaran aktif kembali pada Senin, 30 Maret 2026.
Jam Pelajaran Selama Ramadan
Dalam edaran tersebut, pemerintah daerah juga mengatur perubahan waktu belajar. Seluruh satuan pendidikan memulai pembelajaran pukul 07.30 WIB, dengan durasi yang disesuaikan.
Berikut rinciannya:
| Jenjang / Ketentuan | Waktu Pelaksanaan |
| Awal pembelajaran | Mulai 07.30 WIB |
| PAUD | 07.30 – 09.30 WIB atau menyesuaikan program sekolah dan perkembangan anak |
| SD | 1 jam pelajaran menjadi 30 menit |
| SMP | 1 jam pelajaran menjadi 35 menit |
18-21 Februari Murid Belajar di Rumah, Guru Tetap Masuk
Meski murid menjalani penyesuaian jadwal, guru dan tenaga kependidikan tetap bekerja. Dalam surat edaran diatur total jam kerja selama Ramadan sebanyak 32 jam 30 menit per minggu, di luar waktu istirahat.
Berikut rinciannya:
| Hari | Jam Kerja | Keterangan Istirahat |
| Senin – Kamis | 07.30 – 14.00 WIB | 12.00 – 12.30 WIB |
| Jumat | 07.30 – 11.00 WIB | Tanpa istirahat |
| Sabtu | 07.30 – 12.30 WIB | Tanpa istirahat |
Pada saat murid belajar mandiri 18–21 Februari maupun ketika libur bersama, guru tetap masuk untuk menjalankan tugas pokok, pengembangan kompetensi, serta layanan pendidikan lainnya.
Heru kembali mengingatkan pentingnya Ramadan sebagai ruang pembinaan karakter.
“Penguatan pendidikan karakter murid pada bulan Ramadan merupakan momentum penting yang harus dilaksanakan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh warga pendidikan menjaga kerukunan dan toleransi agar ibadah puasa berjalan tertib, lancar, dan penuh keberkahan.(Prasetiyo)