
Oleh: Akhmad Fauzi, S.S.,S.Pd., C.PIM
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari, Purbalingga
ADA sesuatu yang sederhana dari sepotong roti. Itu bisa menjadi sarapan. Bisa menjadi pengganjal lapar di tengah perjalanan. Bisa pula menjadi sesuatu yang jauh lebih berarti ketika separuh darinya berpindah ke tangan orang lain.
Saya teringat sebuah potongan video yang beredar di media sosial. Seorang pria duduk di dalam kendaraan umum sambil memegang sepotong roti. Di dekatnya duduk seorang perempuan lanjut usia. Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada adegan dramatis.
Pria itu hanya membagi rotinya. Setengah untuk dirinya. Setengah lagi diberikan kepada orang di sampingnya. Sederhana sekali. Namun, justru kesederhanaan itulah yang membuat adegan tersebut terasa dalam. Ia seperti mengingatkan kita bahwa berbagi tidak selalu lahir dari kelimpahan. Kadang-kadang, berbagi justru dimulai ketika kita bersedia mengurangi sedikit dari apa yang sedang kita nikmati.
Jangan Biarkan Kebaikan Menunggu
Dalam kehidupan sehari-hari, niat berbagi sering kali datang bersama sebuah penundaan. Nanti kalau sudah punya rezeki lebih. Nanti kalau penghasilan sudah meningkat. Nanti kalau kebutuhan sendiri sudah terpenuhi.
Kalimat-kalimat itu terdengar masuk akal. Kita memang memiliki kebutuhan, keluarga yang harus diperhatikan, dan masa depan yang perlu dipersiapkan. Tetapi tanpa disadari, kata “nanti” dapat menjadi tempat yang nyaman untuk menyimpan banyak kebaikan yang tidak pernah sempat dilakukan.
Padahal, berbagi tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar. Sepiring makanan yang dibagi dua. Sebotol air yang diberikan kepada orang yang kehausan. Uang kecil yang diberikan tanpa merendahkan. Atau bahkan sapaan hangat kepada seseorang yang mungkin sudah lama merasa tidak dianggap.
Nilai sebuah pemberian tidak selalu terletak pada ukurannya. Kadang-kadang, yang membuatnya berarti adalah ketulusan dan perhatian yang menyertainya.
Makanan sebenarnya bukan sekadar perkara mengisi perut. Di sekitar meja makan, banyak nilai kemanusiaan bisa terlihat. Ada keluarga yang membiasakan anaknya mengambil makanan secukupnya agar tidak tersisa. Ada orang yang menyisihkan makanan untuk tetangga.
Ada pula seseorang yang membeli makanan untuk dirinya sendiri, kemudian melihat orang lain yang membutuhkan dan memilih berbagi. Di titik itu, makanan menjadi semacam cermin. Bukan untuk menilai apakah seseorang baik atau buruk, melainkan untuk melihat sejauh mana kepekaan masih tumbuh dalam diri kita.
Kita semua pernah terlalu sibuk dengan urusan sendiri. Pernah berjalan melewati seseorang yang membutuhkan tanpa berhenti. Pernah melihat, tetapi memilih untuk tidak terlalu memperhatikan.
Tidak selalu karena tidak peduli. Kadang karena terburu-buru. Kadang karena bingung harus berbuat apa. Kadang karena merasa bantuan kita terlalu kecil untuk berarti.
Justru di situlah refleksi bermula. Barangkali kita tidak selalu mampu menyelesaikan persoalan orang lain. Tetapi kita hampir selalu memiliki kesempatan untuk membuat satu keadaan menjadi sedikit lebih baik.
Berbagi Adalah Wujud Kepekaan
Dalam ajaran Islam, kepedulian kepada orang lain bukan sekadar nilai sosial, melainkan bagian dari akhlak. Ada hadis yang sering dikutip tentang seseorang yang tidak sempurna keimanannya ketika ia kenyang, sementara tetangganya dalam keadaan lapar dan ia mengetahuinya.
Pesan yang terasa kuat dari hadis tersebut bukan semata-mata tentang makanan, melainkan tentang kepekaan. Iman memiliki dimensi sosial. Ia tidak berhenti pada hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tercermin dalam cara seseorang memperlakukan manusia di sekitarnya.
Karena itu, berbagi tidak selalu harus diterjemahkan dalam bentuk sedekah dalam jumlah besar. Ada banyak bentuk kepedulian yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Menyisihkan sebagian makanan. Membelikan makan seseorang yang membutuhkan. Membantu tanpa membuat orang yang dibantu merasa kecil. Mendengarkan seseorang yang sedang kesulitan. Bahkan memberi kesempatan kepada orang lain untuk tetap menjaga martabatnya ketika menerima bantuan.
Di sana, berbagi menjadi lebih dari sekadar memindahkan sesuatu dari tangan kita kepada tangan orang lain. Ia menjadi cara untuk mengatakan, “Saya melihat Anda. Keberadaan Anda berarti.”
Di zaman ketika banyak hal mudah dipotret dan dibagikan, kebaikan juga berpotensi berubah menjadi tontonan. Padahal, tidak semua kebaikan membutuhkan kamera.
Ada kebaikan yang cukup diketahui oleh orang yang menerima. Ada yang cukup diketahui oleh hati sendiri. Dan dalam keyakinan seorang Muslim, ada pula kebaikan yang tidak perlu diketahui manusia karena Allah telah mengetahuinya.
Karena itu, berbagi sebaiknya tidak membuat orang lain kehilangan harga diri. Tangan yang memberi tidak perlu merasa lebih tinggi. Tangan yang menerima tidak seharusnya diposisikan lebih rendah.
Keduanya sama-sama manusia. Hari ini kita mungkin berada pada posisi memberi. Pada kesempatan lain, bisa saja kita yang membutuhkan uluran tangan. Kehidupan bergerak seperti itu. Tidak ada manusia yang sepenuhnya mandiri dari kebaikan orang lain.
Ada ironi kecil dalam cerita tentang setengah roti. Secara jumlah, orang yang berbagi justru kehilangan sebagian dari apa yang semula ia miliki. Namun, secara makna, ia memperoleh sesuatu yang tidak bisa dihitung dengan ukuran materi.
Senyum orang lain. Rasa lega karena telah membantu. Ketenangan karena tidak membiarkan kesempatan berbuat baik berlalu begitu saja.
Mungkin itulah sebabnya berbagi sering menghadirkan rasa bahagia yang berbeda. Bukan karena kita menjadi lebih kaya setelah memberi, tetapi karena hidup terasa lebih terhubung dengan kehidupan orang lain.
Kenyang memang membuat perut terasa penuh. Tetapi kepedulian membuat kehidupan terasa lebih bermakna.
Menanamkan Kepedulian Sejak Dini
Nilai berbagi juga penting ditanamkan sejak anak-anak berada di bangku sekolah. Pendidikan tidak hanya tentang kemampuan menjawab soal, memperoleh nilai tinggi, atau memenangkan kompetisi.
Pendidikan juga tentang membentuk manusia yang mampu melihat keadaan di sekitarnya.
Anak yang terbiasa berbagi makanan dengan temannya sedang belajar empati. Anak yang mengembalikan barang yang ditemukan sedang belajar kejujuran. Anak yang membantu temannya yang kesulitan sedang belajar kepedulian.
Hal-hal kecil seperti itu mungkin tidak selalu masuk ke dalam lembar ujian. Namun, justru dari kebiasaan kecil itulah karakter tumbuh.
Akhlak tidak selalu dibentuk melalui nasihat panjang. Sering kali, ia tumbuh dari contoh yang dilihat berulang-ulang.
Seorang anak mungkin lupa apa yang pernah disampaikan gurunya di depan kelas. Tetapi ia bisa mengingat bagaimana gurunya memperlakukan orang lain. Begitu pula dalam keluarga. Anak belajar berbagi bukan hanya dari kalimat, “Kamu harus berbagi”, melainkan dari melihat orang tuanya berbagi.
Barangkali ada satu hal yang perlu kita ubah dalam cara memandang kebaikan. Kebaikan tidak selalu identik dengan sesuatu yang besar.
Kita sering terpesona oleh donasi bernilai miliaran, gerakan sosial berskala nasional, atau orang-orang yang mampu membantu dalam jumlah besar. Semua itu tentu memiliki nilai.
Tetapi kehidupan sehari-hari justru dipenuhi oleh kebaikan-kebaikan kecil yang nyaris tidak terlihat.
Seseorang membelikan nasi untuk orang yang lapar. Seseorang memberikan tempat duduk kepada lansia. Seseorang menyisihkan sebagian makanannya. Seseorang berhenti sejenak untuk mendengarkan keluh kesah orang lain.
Tidak ada kamera. Tidak ada tepuk tangan. Namun, mungkin di situlah kemanusiaan bekerja dalam bentuknya yang paling sederhana.
Pada akhirnya, kisah tentang setengah roti bukan semata-mata kisah tentang makanan. Ia adalah cerita tentang pilihan.
Pilihan untuk melihat atau berpaling. Pilihan untuk menyimpan seluruhnya atau berbagi sebagian. Pilihan untuk melewati sebuah kesempatan atau mengubahnya menjadi kebaikan.
Kita tentu tidak mungkin membantu semua orang yang membutuhkan. Kita juga tidak harus merasa bersalah setiap kali tidak mampu memberikan sesuatu.
Tetapi ketika ada kesempatan kecil untuk berbuat baik, barangkali tidak ada salahnya berhenti sejenak dan mempertimbangkannya.
Sebab, bisa jadi bagi kita itu hanya setengah roti. Namun bagi seseorang, itu mungkin adalah makan siang yang sangat berarti.
Dan bagi hati kita sendiri, mungkin itulah pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu bertambah ketika sesuatu kita kumpulkan. Kadang-kadang, kebahagiaan justru terasa lebih utuh ketika sebagian dari apa yang kita punya mengalir kepada orang lain.
Setengah roti mungkin membuat perut seseorang kenyang. Tetapi setengah roti yang dibagikan dengan ketulusan dapat membuat hati belajar tentang arti menjadi manusia. (*)