
Oleh:Ākhmad Fauzi, S.S., S.Pd.
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari
Kabupaten Purbalingga
PEMANDANGAN pengendara motor di Jepang yang tetap antre teratur saat macet seringkali membuat warganet kita takjub. Meski ada celah sempit untuk menyerobot, mereka memilih diam. Tak ada jalur bayangan, apalagi simfoni klakson yang memekakkan telinga.
Kontras sekali dengan realitas jalan raya kita, di mana pelanggaran kecil dianggap lumrah: main ponsel sambil berkendara, merokok, hingga meludah sembarangan.
Fenomena ini menegaskan satu hal: ketertiban lalu lintas bukan sekadar soal rambu atau sanksi, melainkan budaya disiplin. Masalah utama kita bukanlah kurangnya aturan, melainkan jurang lebar antara “tahu aturan” dan “praktik di lapangan”.
Banyak pelajar hafal tata tertib, namun minim kesadaran untuk mematuhinya secara konsisten. Di sinilah sekolah memegang peran krusial sebagai fondasi utama.
Transformasi Lewat Edukasi Partisipatif
Sekolah adalah ruang paling efektif untuk menanamkan nilai kesabaran, menghargai giliran, dan kepedulian pada keselamatan orang lain. Buktinya nyata. Program edukasi partisipatif di MA Plus Nururrohmah , Kebumen menunjukkan bahwa pendekatan praktis jauh lebih berdampak daripada sekadar teori.
Melalui penyuluhan interaktif, pelatihan keselamatan, hingga simulasi peran sebagai petugas lalu lintas, perilaku siswa berubah drastis. Penggunaan helm menjadi konsisten, parkir lebih tertata, dan tumbuh budaya saling mengingatkan antar-teman. Ini membuktikan bahwa pendidikan lalu lintas efektif jika dilakukan secara praktis dan partisipatif.
Membangun Nalar Moral, Bukan Hafalan
Guru tidak perlu menunggu siswa cukup umur untuk memiliki SIM guna memulai edukasi ini. Kesadaran bisa dibangun melalui beberapa langkah taktis:
1.Literasi Kontekstual: Mengajak siswa membedah video atau berita kecelakaan untuk melatih nalar moral, bukan sekadar menghafal pasal.
2.Disiplin Mikro: Budaya antre di kantin dan keteraturan keluar-masuk gerbang adalah “simulasi sosial” sebelum terjun ke jalan raya.
3.Kampanye Kreatif: Melibatkan siswa membuat poster atau video pendek. Saat siswa menjadi penyampai pesan, nilai-nilai tersebut akan lebih membekas di benak mereka.
Kurikulum Hidup
Satu hal yang tak boleh dilupakan adalah keteladanan. Pesan keselamatan akan menguap begitu saja jika guru atau staf sekolah justru melanggar aturan di depan siswa. Guru adalah “kurikulum hidup” yang setiap tindakannya akan ditiru.
Budaya tertib tidak muncul secara instan saat seseorang memegang setang motor, melainkan tumbuh dari proses karakter yang panjang. Investasi terbesar keselamatan jalan raya bukanlah pada penambahan CCTV atau beton pembatas jalan, melainkan pada pendidikan yang terstruktur di ruang kelas. Dari sanalah, peradaban jalan raya yang lebih manusiawi dimulai.(*)