
Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Kosabangsa Unper-Unsoed
PANGANDARAN, EDUKATOR–Krisis pangan dan rendahnya nilai jual komoditas menjadi tantangan warga Desa Kertamukti, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, Jawa-Barat. Untuk mengatasinya, Universitas Perjuangan Tasikmalaya (Unper) bersama Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menerapkan teknologi tepat guna untuk mengelola sawah pesisir sekaligus meningkatkan produksi dan pemasaran gula kelapa.
Kolaborasi melalui Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Kosabangsa (Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat) Unper dan Unsoed tersebut diarahkan untuk membangun ketahanan ekonomi masyarakat, yakni kemampuan warga untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit menghadapi berbagai tekanan ekonomi dan lingkungan.
Dua persoalan utama yang ditangani ialah tingginya kadar garam atau salinitas lahan sawah dan rendahnya harga gula kelapa akibat panjangnya rantai pemasaran serta ketergantungan kepada tengkulak.
Ketua Tim PkM Kosabangsa sekaligus dosen Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Perjuangan Tasikmalaya (Unper), Dr. Nasrudin, S.P., M.Sc., mengatakan program tersebut ditujukan bagi Kelompok Tani Campaka Kertamukti dan pengrajin gula kelapa Kader Titiran. Kegiatan diawali dengan sosialisasi dan penyuluhan pada Minggu (20/9/2026).
“Kami membawa solusi hulu ke hilir untuk sawah,” ujar Nasrudin dalam keterangannya, Senin (28/9/2026).
Sawah Pesisir Hadapi Ancaman Kadar Garam Tinggi
Desa Kertamukti merupakan salah satu sentra gula kelapa potensial dengan luas perkebunan mencapai 689 hektare. Namun, wilayah pesisir tersebut juga menghadapi banjir rob dan intrusi air laut yang menyebabkan kadar garam dalam tanah atau salinitas berada di atas 7 dS/m.
dS/m (deciSiemens per meter) merupakan satuan yang digunakan untuk mengukur daya hantar listrik tanah. Nilai tersebut digunakan untuk menunjukkan tingkat salinitas atau kadar garam dalam tanah. Semakin tinggi salinitas, semakin besar pula tekanan yang dapat dialami tanaman yang tidak toleran terhadap kondisi tersebut.
Kondisi salinitas tinggi di lahan pesisir Kertamukti berdampak terhadap produktivitas padi. Produksi bahkan turun hingga di bawah 1 ton per hektare sehingga meningkatkan risiko gagal panen bagi petani.
Untuk mengatasi persoalan itu, tim menerapkan varietas padi unggul yang toleran terhadap salinitas, penggunaan biochar untuk memperbaiki kualitas tanah, serta sistem peringatan dini atau early warning system terhadap intrusi air laut.
Inpari 79 Unsoed Agritan dan Protani Jadi Pilihan
Pakar Agronomi Unsoed, Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D., menjelaskan padi varietas Inpari 79 Unsoed Agritan dan Protani dapat digunakan untuk menghadapi persoalan salinitas.
Kedua varietas tersebut disebut adaptif terhadap cekaman salinitas dengan potensi hasil mencapai 7,5 hingga 8,3 ton per hektare.
Diterapkan di Cilacap hingga Brebes
Pakar Agronomi Unsoed lainnya, Dr. Dyah Susanti, S.P., M.P., menyebut kedua varietas tersebut telah diterapkan di sejumlah wilayah, mulai Cilacap hingga Brebes.
Dalam program di Kertamukti, tim Unsoed juga memberikan standar operasional prosedur (SOP) budidaya presisi padi di lahan pesisir. Langkah tersebut diharapkan membantu petani mengelola lahan dengan kondisi lingkungan yang menantang.
Gula Kelapa Didorong Naik Kelas
Selain persoalan sawah, Tim Kosabangsa Unper-Unsoed menyasar sektor gula kelapa. Desa Kertamukti memiliki potensi besar sebagai sentra gula kelapa, tetapi pengrajin masih menghadapi persoalan penggunaan pengawet sintetis serta panjangnya rantai pasok yang membuat nilai jual produk di tingkat pengrajin rendah.
Pakar Ilmu Pangan Fakultas Pertanian Unsoed, Karseno, S.P., M.P., Ph.D., memberikan edukasi agar masyarakat beralih dari sodium metabisulfit menuju laru alami bernama TANGKIS.
Penggunaan bahan tersebut dipadukan dengan tungku hemat energi dan alat kristalisator modern. Teknologi itu diarahkan untuk menghasilkan gula semut atau gula kelapa kristal yang memenuhi SNI (Standar Nasional Indonesia), yaitu standar yang ditetapkan untuk memastikan suatu produk memenuhi persyaratan mutu dan karakteristik yang telah ditentukan.
Dengan peningkatan proses produksi, produk lokal diharapkan memiliki kualitas dan daya saing pasar yang lebih baik. Penggunaan teknologi juga diharapkan dapat mendorong pengrajin menghasilkan produk yang lebih konsisten.
Digitalisasi Pangkas Rantai Pemasaran
Persoalan pemasaran juga menjadi perhatian tim. Prof. Dr. E. Suharno, S.E., M.Si., Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), menekankan pentingnya penguatan legalitas, branding produk, dan digitalisasi pemasaran agar pengrajin tidak terus bergantung pada tengkulak.
“Memangkas rantai pasok menjadi kunci peningkatan nilai jual,” tegas Suharno.
Menurutnya, pemanfaatan pemasaran digital membuka peluang bagi produk gula kelapa sehat dari Kertamukti untuk menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk pasar nasional.
Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai jual sekaligus memperkuat posisi pengrajin dalam rantai perdagangan. Dengan pemasaran yang lebih langsung, nilai ekonomi produk diharapkan dapat lebih banyak dinikmati masyarakat desa.
Bangun Ketahanan Ekonomi Masyarakat
Melalui pendampingan berkelanjutan, kolaborasi Unper dan Unsoed tidak hanya diarahkan pada penyelesaian persoalan produksi, tetapi juga penguatan ekonomi masyarakat dari hulu hingga hilir.
Pengelolaan sawah dengan varietas toleran salinitas, perbaikan kualitas tanah, sistem peringatan dini intrusi air laut, standardisasi produksi gula kelapa, serta penguatan pemasaran menjadi bagian dari strategi membangun ketahanan ekonomi masyarakat.
Ketahanan ekonomi dalam konteks ini berarti kemampuan warga untuk menghadapi masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta tetap mengembangkan sumber penghidupan meskipun menghadapi tekanan lingkungan dan ekonomi.
Rangkaian inovasi tersebut diharapkan membantu warga Desa Kertamukti menghadapi tantangan wilayah pesisir, mengurangi risiko kegagalan produksi, meningkatkan nilai komoditas, dan memperkuat kemandirian ekonomi desa secara berkelanjutan. (Prasetiyo)