
Peserta didampingi tim pengabdian dalam proses pengolahan minyak jelantah.
PURWOKERTO, EDUKATOR— Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mengenalkan pengolahan minyak jelantah menjadi biodiesel di Pusat Daur Ulang (PDU) Sokanegara, Kecamatan Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas. Biodiesel hasil pengolahan tersebut berhasil menyala saat diuji coba.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat itu berlangsung Kamis (17/9/2026). Program tersebut mengusung tema “Pemanfaatan Minyak Jelantah Menjadi Biodiesel sebagai Implementasi Smart Waste Management Berbasis Circular Economy”.
Kegiatan diikuti warga sekitar PDU Sokanegara. Tim pengabdian diketuai Efita Pratiwi Adi, S.Pd., M.Sc. Tim beranggotakan Indah Setiawati, S.P., M.P., Ika Maulita, S.Pd., M.Sc., Aris Haryadi, S.Si., M.Si., dan Dr. Mardiyah Kurniasih, S.Si., M.Sc. Kegiatan tersebut juga melibatkan empat mahasiswa Unsoed.
Tim pengabdian Unsoed bersama peserta kegiatan di PDU Sokanegara.
Dari Limbah Menjadi Energi Alternatif
Efita Pratiwi Adi mengatakan, kegiatan tersebut merupakan kelanjutan program tahun 2025. Saat itu, masyarakat PDU Sokanegara mendapat pelatihan mengolah minyak jelantah menjadi sabun.
Tahun 2026 ini, pemanfaatan minyak jelantah dikembangkan menjadi biodiesel. Program tersebut sekaligus mengenalkan pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular.
“Program ini diharapkan mengurangi limbah minyak jelantah,” harap Efita.
Sebelum praktik, peserta mengikuti pre-test. Tes tersebut mengukur pemahaman awal peserta tentang biodiesel.
Hasil pre-test menunjukkan sebagian besar peserta belum memahami biodiesel. Mereka juga belum mengetahui potensi minyak jelantah sebagai bahan bakar.
Peserta Praktik Mengolah Minyak Jelantah
Tim pengabdian kemudian memberikan edukasi tentang pengelolaan minyak jelantah. Peserta dikenalkan tahapan pengolahan secara bertahap.
Tahapan tersebut dimulai dengan memilah dan mengumpulkan minyak jelantah. Minyak kemudian disaring untuk memisahkan berbagai kotoran.
Setelah penyaringan, minyak menjalani proses penjernihan. Minyak yang telah bersih kemudian diproses lebih lanjut menjadi biodiesel.
Peserta tidak sekadar menerima materi. Mereka juga didampingi langsung saat mempraktikkan pengolahan minyak jelantah.
Tim pengabdian mendampingi peserta dalam setiap tahapan. Pendampingan dilakukan untuk memastikan proses berjalan sesuai prosedur.
Biodiesel Berhasil Menyala Saat Diuji
Biodiesel yang dihasilkan kemudian diuji langsung di lokasi. Tim melakukan uji nyala untuk mengetahui kemampuan biodiesel sebagai bahan bakar.
Hasil uji menunjukkan biodiesel berhasil menyala. Hasil tersebut menunjukkan minyak jelantah berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif.
Uji nyala biodiesel hasil pengolahan minyak jelantah.
Efita berharap inovasi tersebut terus dikembangkan masyarakat. Menurutnya, pengolahan jelantah dapat memberikan manfaat lingkungan sekaligus energi.
“Jelantah berpotensi menjadi bahan bakar alternatif,” tegasnya.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat memperoleh pengetahuan dan pengalaman praktis. Mereka belajar mengubah limbah rumah tangga menjadi produk bernilai ekonomi. (Prasetiyo)