Pelukis Cipto Pratomo Gelar Pameran Tunggal “Panorama Alam”

Bagikan :

Karya-karya Cipto Pratomo yang layak diapresiasi oleh masyarakat.(Foto: Istimewa/EDUKATOR)

PURWOKERTO, EDUKATOR–Sebanyak 27 karya lukisan bertema panorama alam akan dipamerkan dalam pameran tunggal pelukis Cipto Pratomo, di Umah Seni Cipratku, Jalan Mr. M. Yamin Gang 4 Nomor 16, Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas. Pameran yang terbuka untuk umum ini, berlangsung selama sebulan penuh, 1-31 Maret 2026.

Kegiatan seni ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas, sekaligus ruang apresiasi seni bagi masyarakat selama bulan Ramadan.

Menurut Cipto Pratomo, pameran bertema Panorama Alam ini sengaja dihadirkan sebagai pengingat atas meningkatnya bencana alam akibat kerusakan lingkungan yang terjadi belakangan ini. “Lukisan ini mengajak masyarakat menjaga kelestarian alam,” ujarnya di Purwokerto, Sabtu (28/2/2026).

Karya-karya Cipto Pratomo, bertema kritik terhadap eksploitasi lingkungan yang berlebihan. (Foto: Istimewa/EDUKATOR) 

Sebanyak 27 karya lukisan yang dipamerkan terdiri atas koleksi lama sejak tahun 2000 hingga karya terbaru yang dibuat pada tahun 2025 dan 2026. Seluruh karya menampilkan panorama alam dengan beragam gaya dan pendekatan artistik.

Pelukis menghadirkan corak khas Sokaraja yang menampilkan gunung, sawah, sungai, serta pepohonan. Selain itu terdapat aliran ekspresionis, ilustratif, dan dekoratif dengan sentuhan warna-warna kekinian yang mencolok serta hamparan bunga.

Tema panorama alam dipilih sebagai bentuk refleksi atas maraknya bencana alam yang terjadi belakangan ini. Banjir bandang dan tanah longsor di wilayah lereng pegunungan dinilai tidak lepas dari eksploitasi alam yang berlebihan.

Kritik Lingkungan
Beberapa karya menggambarkan kerusakan hutan sebagai paru-paru bumi dengan pepohonan tumbang. Ada pula lukisan berbahan abu Gunung Merapi yang merekam peristiwa erupsi dan hujan abu tahun 2010.

Selain kritik lingkungan, sejumlah lukisan juga menampilkan panorama pegunungan dengan hamparan aneka warna bunga sebagai simbol harapan. Hal ini dimaksud, agar alam tetap lestari dan terus menghadirkan keindahan bagi kehidupan manusia.

Pensiunan Guru dan Pelukis
Cipto Pratomo dikenal tidak hanya sebagai pelukis, tetapi juga guru seni. Ia  pensiunan guru Seni Budaya  SMP Negeri 5 Purwokerto yang telah lama mengabdikan diri dalam dunia pendidikan.

Lahir di Tapanuli Selatan, 13 September 1956, Cipto menempuh pendidikan seni di Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) Yogyakarta dan Jurusan Seni Rupa IKIP Negeri Yogyakarta (sekarang UNY-red). Latar belakang akademik tersebut membentuk karakter karya-karyanya yang kuat secara teknik, sekaligus sarat pesan edukatif dan sosial.

“Panorama alam mengingatkan manusia menjaga bumi bersama,” tuturnya.

Edukasi dan Hiburan Seni di Bulan Ramadan
Pameran ini tidak hanya menjadi ruang ekspresi seniman, tetapi juga sarana edukasi lingkungan sekaligus hiburan budaya bagi masyarakat selama bulan Ramadan.

Melalui pameran tunggal ini, Cipto berharap masyarakat semakin sadar bahwa pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama demi keberlangsungan kehidupan manusia di masa depan.

Setiap Lukisan Bermakna Kuat
Saladin Ayyubi, salah satu penikmat sekaligus murid Cipto Pratomo, menilai karya lukisan yang dipamerkan dibuat dengan ketelitian serta “sense of art” yang tinggi.

“Pak Cipto selalu menghadirkan makna kuat dalam setiap lukisannya. Konsistensi dan produktivitas Cipto Pratomo dalam berkarya menjadikannya sosok panutan bagi para murid dan pencinta seni,” ujar Saladin..(Prasetiyo)

BERITA TERKINI

pameran1
Pelukis Cipto Pratomo Gelar Pameran Tunggal "Panorama Alam"
ngaji1
IJTI Gelar Ngaji Jurnalistik, Tekakan Pentingnya Etika AI
dosen feb
Dosen FEB UMP Dr.Erna Handayani Pimpin Riset RISPRO LPDP 2025
ft unsoed2
BNN Purbalingga–Fakultas Teknik Unsoed Tandatangani PKS
bnn2
21.748 Murid Terima Edukasi P4GN BNN Purbalingga