Sandal yang Hilang, Nurani yang Dipertaruhkan

Bagikan :

Oleh:Ākhmad Fauzi, S.S., S.Pd.
Guru SMP Negeri 2 Kutasari
Kabupaten Purbalingga

RAMADAN  sering disebut sebagai bulan penjernihan hati. Namun justru pada bulan yang mengajarkan pengendalian diri itu, kita kerap disuguhi peristiwa yang memancing pertanyaan tentang kejernihan nurani kita sendiri.

Dalam kolom Ramadan Fatwa & Canda Kiai Saridin di harian Suara Merdeka (Rabu, 23 Februari 2026), Prof. Dr. H. Muhibbin, M.Ag. menuturkan sebuah kisah sederhana namun sarat makna. Seorang pemuda tertangkap mencuri. Nilai barang yang diambil tidak seberapa, tetapi kemarahan orang-orang di sekitarnya segera membesar. Amuk massa hampir saja terjadi.

Di tengah situasi itu, Kiai Saridin justru berdiri di depan si pemuda dan melindunginya dari kemarahan kerumunan massa. Sikap tersebut bukan berarti membenarkan pencurian. Ia hanya ingin memastikan bahwa kesalahan seseorang tidak dijadikan alasan bagi banyak orang untuk melakukan kezaliman yang lebih besar.

Kisah itu mengingatkan pada sebuah peristiwa di masa Nabi Muhammad SAW. Dikisahkan, seorang yang dikenal jahat menyatakan ingin bertobat ketika berada dalam keadaan terdesak. Namun sebagian orang yang telah terlanjur marah tidak memberi ruang bagi niat baik itu.

Kemarahan Tidak Boleh Melampaui Batas Kemanusiaan.

Orang tersebut akhirnya dibunuh. Nabi Muhammad SAW menegur keras tindakan tersebut, karena membunuh orang yang telah menyatakan tobat merupakan dosa besar. Pesan moralnya sederhana namun mendalam: kemarahan tidak boleh melampaui batas kemanusiaan.

Fenomena seperti ini sesungguhnya tidak jarang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Maling sandal di masjid, pencuri helm di parkiran, atau pelaku pencurian kecil di pasar kerap menjadi sasaran pengadilan jalanan. Mereka dipukul, dipermalukan, direkam, lalu videonya disebarkan di media sosial.

Nilai barang yang diambil mungkin hanya puluhan ribu rupiah. Namun hukuman sosial yang diterima bisa jauh lebih besar: luka fisik, trauma psikologis, bahkan kehilangan nyawa.

Ironisnya, pada saat yang sama, pelaku korupsi yang merugikan negara hingga miliaran rupiah tetap menjalani proses hukum dengan prosedur yang lengkap. Mereka memiliki ruang pembelaan, pengacara, serta mekanisme peradilan yang jelas. Pertanyaan yang kemudian muncul menjadi reflektif: mengapa kemarahan publik lebih mudah meledak kepada pencuri kecil, tetapi terasa lebih terkendali terhadap pencuri yang jauh lebih besar?

Keadilan Tidak Pernah Lahir dari Kemarahan

Tentu saja, mencuri tetaplah salah. Tidak ada pembenaran bagi pelanggaran hak orang lain. Namun keadilan tidak pernah lahir dari kemarahan yang tak terkendali. Peradaban justru dibangun dari kemampuan manusia menahan diri.

Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa orang kuat bukanlah yang mampu mengalahkan orang lain dalam perkelahian, melainkan yang mampu menahan dirinya ketika marah. Hadis ini menjadi pengingat bahwa ukuran kekuatan sejati bukan pada ledakan emosi, tetapi pada kemampuan mengendalikannya.

Di sinilah letak persoalannya. Ketika kemarahan massa dijadikan cara utama menegakkan keadilan, keadilan itu sendiri perlahan kehilangan ukurannya. Ia tidak lagi lahir dari pertimbangan moral, melainkan dari dorongan emosional yang muncul secara kolektif.

Kantin Kejujuran

Dalam konteks ini, pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat mentransfer pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan nurani. Budaya kejujuran, tanggung jawab, dan empati perlu ditanamkan melalui praktik nyata. Kantin kejujuran, kebiasaan mengembalikan barang temuan, hingga dialog reflektif tentang integritas dapat menjadi cara sederhana menanamkan nilai tersebut.

Ketika siswa melakukan kesalahan, pendekatan yang digunakan juga perlu mempertimbangkan aspek kemanusiaan. Hukuman memang diperlukan, tetapi tujuan utamanya bukan sekadar memberi efek jera, melainkan membantu siswa memahami kesalahannya dan memperbaiki diri.

Lebih dari itu, keteladanan orang dewasa tetap menjadi pelajaran paling kuat. Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tetapi dari apa yang mereka lihat. Jika orang dewasa mudah menghakimi dan gemar mempermalukan, pola yang sama berpotensi diwariskan kepada generasi berikutnya.

Takut Berbuat Salah dan Malu Berbuat Zalim

Ramadan seharusnya mengajarkan dua hal sekaligus: takut berbuat salah dan malu berbuat zalim. Kita diajak menahan lapar, menahan dahaga, sekaligus menahan amarah. Karena itu, kisah Kiai Saridin sesungguhnya bukan hanya tentang seorang pemuda yang tertangkap mencuri. Ia adalah kisah tentang pilihan moral: apakah kita akan menjadi bagian dari kerumunan yang menghakimi, atau menjadi manusia yang tetap menjaga nurani.

Sebab, kadang yang benar-benar hilang dalam sebuah peristiwa pencurian kecil bukanlah sandal yang dicuri. Yang lebih sering hilang justru ukuran keadilan dalam hati kita. Dan ketika ukuran itu lenyap, yang tersisa hanyalah kemarahan tanpa kebijaksanaan. (***)

BERITA TERKINI

Foto Kegiatan Pengmas 2
Tel-U Purwokerto Latih Peternak Kambing Binangun dengan Pendekatan "Agropreneur"
tka1
Hari Ini, Gladi Bersih TKA SD–SMP 2026 Dimulai
medsos3
Komdigi Larang Anak di Bawah 16 Tahun Gunakan Medsos
balap1
Polisi Bubarkan Balap Liar, Orang Tua Diminta Awasi Anak-anaknya
gkj2
Kapolsek Kaligondang Ajak Jemaat GKJ Penaruban Jaga Kamtibmas