Pelajaran dari Gencatan Senjata AS–Iran untuk Dunia

Bagikan :

Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad, S.Sos, M.Si
Penasehat Militer RI untuk PBB (2017–2019)

SAYA ikut bersyukur ketika mendengar gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran mulai berlaku 7 April lalu. Diplomasi Pakistan layak diacungi jempol.

Namun, jujur sebagai mantan penasehat militer di PBB, saya tidak bisa menutup mata: ini bukan perdamaian. Ini jeda. Dan jeda bukanlah akhir dari perang. Maaf, saya harus berkata terus terang.

Gencatan senjata dua minggu di Islamabad itu rapuh seperti kaca. Dalam hitungan hari setelah ditandatangani, pelanggaran sudah terjadi. Israel menyerang Lebanon, lebih dari 250 orang tewas. Iran mengeluhkan adanya drone asing di udaranya. Sementara dari Washington, Presiden Trump menyebut Iran “tidak punya kartu” dan “hanya hidup untuk bernegosiasi”.

Coba bayangkan, Anda sedang duduk di meja perundingan, tetapi lawan bicara Anda mengatakan Anda seharusnya sudah mati. Itu bukan bahasa diplomasi. Itu bahasa ancaman. Dan ancaman tidak pernah melahirkan perdamaian yang tulus.

Pengalaman saya di PBB dulu

Saya ingat betul, selama menjabat sebagai penasehat militer RI untuk PBB (2017–2019), saya sering melihat gencatan senjata yang gagal. Penyebabnya hampir selalu sama: tidak ada mekanisme pengawasan yang kredibel. Tidak ada mata di lapangan. Tidak ada pasukan pemisah. Hanya ada secarik kertas dan saling curiga.

Di Islamabad sekarang, saya melihat pola yang sama. Pakistan hebat sebagai fasilitator, hormat saya kepada PM Shehbaz Sharif dan Panglima Asim Munir. Namun menjadi tuan rumah tidak berarti menjamin hasil. Medan perang tidak sama dengan peta perang, begitu kata rekan-rekan saya di lapangan dulu.

Titik kritisnya di Selat Hormuz

Saya tidak mau bertele-tele. Inti masalahnya hanya dua: Selat Hormuz dan program nuklir Iran.

Amerika Serikat ingin jalur pelayaran itu terbuka tanpa syarat. Iran menjadikannya sebagai alat tawar untuk mencabut sanksi. Selama kedua posisi ini tidak bertemu, gencatan senjata apa pun hanya akan menjadi jeda untuk menarik napas, lalu kembali berkonflik.

Dan yang membuat saya khawatir, jika pembicaraan Islamabad gagal, risikonya bukan lagi perang proksi. Bisa jadi perang terbuka di jalur perairan tersibuk di dunia. Dampaknya tidak hanya dirasakan Amerika Serikat dan Iran, tetapi juga Indonesia dan negara lain yang bergantung pada stabilitas Selat Hormuz.

Lalu apa yang bisa dilakukan?

Saya tidak bermaksud menggurui, tetapi dari pengalaman, setidaknya ada tiga hal yang perlu segera didorong.

Pertama, jangan biarkan gencatan senjata dua minggu itu berakhir tanpa perpanjangan. Perpanjangan itu harus disertai mekanisme verifikasi di lapangan. Siapa yang melanggar harus terlihat jelas.

Kedua, Pakistan tidak bisa sendirian. Dunia perlu melibatkan kekuatan lain seperti China, Rusia, atau bahkan PBB agar negosiasi tidak hanya dikuasai dua pihak yang sama-sama keras kepala.

Ketiga, Selat Hormuz harus dikembalikan sebagai jalur internasional yang bebas, bukan alat tekanan politik. Jika tidak, kita sedang membangun bom waktu.

Penutup

Saya menulis opini ini bukan untuk menggurui. Saya hanya seorang pensiunan prajurit yang pernah duduk di ruang-ruang perundingan PBB dan melihat langsung bagaimana gencatan senjata yang dangkal berubah menjadi pertumpahan darah. Jeda bukan perdamaian. Jeda hanyalah waktu untuk bersiap, entah untuk berdamai sungguh-sungguh, atau untuk bertempur lagi.

Saya berharap para pemimpin di Islamabad, Washington, dan Teheran memilih yang pertama. Tetapi sejujurnya, sampai hari ini tanda-tandanya masih belum menggembirakan.

Jakarta, 11 April 2026

BERITA TERKINI

FULAD2
Pelajaran dari Gencatan Senjata AS–Iran untuk Dunia
Gemini_Generated_Image_r35pb8r35pb8r35p
Dari Ejekan ke Tragedi Kematian, Sekolah Kita Kurang Apa?
hieren
Hieren sebagai Top 3 Pertamuda Jalani Visitasi di LPPM Unsoed
fulad2
Israel dan Amerika Merobek Gencatan Senjata di Depan Mata Dunia
bupati sadewo3
Bupati Sadewo Tegaskan Layanan Kesehatan di Banyumas Gratis