Trump Tidak Paham Strategi Besar Amerika, Iran vs Israel Kacau

Bagikan :

Mayor Jenderal TNI (Purn.) Fulad, S.Sos, M.Si
Penasihat Militer RI untuk PBB (2017–2019)

SAYA menulis opini ini setelah mengikuti majelis taklim di Masjid Baiturrahman, Jakarta. Di tengah refleksi spiritual tentang keadilan dan perdamaian, pikiran saya tertuju pada konflik di Timur Tengah. Iran dan Israel kini terperosok dalam situasi yang semakin tidak terkendali. Di balik itu, saya melihat akar persoalan: Amerika Serikat di bawah Donald Trump kehilangan arah.

Kekuatan Tanpa Peta Jalan
Setelah Perang Dingin berakhir, Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara adidaya. Selama puluhan tahun, doktrin containment menjadi pedoman strategisnya. Namun, sejak era Donald Trump, arah tersebut memudar. Yang tersisa hanyalah kekuatan militer besar tanpa panduan jelas, sehingga konflik Iran dan Israel semakin tidak terkendali.

Kritik Tim Kaine bahwa Amerika kehilangan grand strategy pasca-Perang Dingin bukan sekadar retorika. Sebagai mantan penasihat militer di misi PBB, saya melihat langsung bagaimana keputusan yang bersifat ad hoc membuat sekutu bingung, lawan semakin berani, dan stabilitas kawasan melemah.

Era Trump: Transaksional, Bukan Strategis
Perbedaan utama Trump dengan para pendahulunya bukan pada ancaman militer, melainkan ketiadaan kerangka berpikir jangka panjang. Setiap krisis diperlakukan layaknya transaksi, mulai dari isu nuklir Iran, serangan ke pangkalan AS, hingga ketegangan di Selat Hormuz.

Dalam konflik Iran-Israel, kondisi ini berdampak serius. Iran tidak lagi memandang ancaman AS sebagai kebijakan yang konsisten. Mereka justru melihat celah dari ketidakpastian sikap Washington. Di sisi lain, Israel pun berada dalam posisi tidak pasti, apakah akan mendapat dukungan penuh atau justru dikorbankan demi kesepakatan mendadak.

Kekuatan Militer Bukan Segalanya
Pengalaman di PBB menunjukkan bahwa kekuatan militer saja tidak cukup tanpa strategi besar yang terintegrasi dengan pendekatan diplomatik dan ekonomi. Penarikan Amerika dari kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) tanpa alternatif jelas menjadi contoh nyata lemahnya perencanaan strategis.

Situasi semakin membingungkan ketika ancaman militer disampaikan pada satu waktu, tetapi diikuti langkah negosiasi di waktu lain. Hal ini mencerminkan ketidakkonsistenan kebijakan yang dimanfaatkan oleh Iran.

Iran tidak perlu mengalahkan Amerika secara militer. Mereka cukup bertahan, memainkan tekanan di Selat Hormuz, dan menunggu perubahan kebijakan akibat dinamika politik domestik AS. Ini bukan kemenangan militer, melainkan hasil dari kelemahan strategi lawan.

Pelajaran untuk Dunia, Termasuk Indonesia
Konflik Timur Tengah berdampak luas, termasuk pada harga energi, stabilitas global, dan isu kemanusiaan. Indonesia, yang pernah menjadi anggota Dewan Keamanan PBB, tidak bisa hanya menjadi pengamat.

Perlu ada dorongan terhadap tata kelola global yang berbasis aturan, bukan keputusan impulsif. Selain itu, penting untuk memahami bahwa kekuatan tanpa strategi hanya akan menimbulkan kerugian bagi semua pihak.

Penutup
Ketidakpahaman Trump terhadap grand strategy bukan lagi asumsi, melainkan terlihat dari berbagai kebijakan di lapangan. Konflik Iran dan Israel semakin kacau karena absennya arah dari negara yang selama ini berperan sebagai penyeimbang global.

Pengalaman di wilayah konflik menunjukkan bahwa kegagalan strategi bukan sekadar kesalahan kebijakan, tetapi dapat berdampak pada keselamatan manusia dan masa depan kawasan. Sudah saatnya dunia kembali menegaskan pentingnya grand strategy, yakni visi yang jelas untuk menciptakan perdamaian yang berkelanjutan.(***)

Kalisari, Minggu, 19 April 2026

BERITA TERKINI

FULAD6
Perang Iran Bukan Sekadar Nuklir, Tiga Lapis Tujuan Tersembunyi Israel
FAUZI PAKAIAN JAWA
Dari Kelas ke Karakter, Ikhtiar Sekolah Menahan Laju Narkoba
rakor03
Dindikbud Purbalingga Gelar Rakor Matangkan Kurasi Ajang Talenta Pelajar
FULAD6
Ketika Trump sebagai Panglima Tertinggi Dianggap Lebih Berbahaya dari Musuh
museum2
Sastra Inggris UNY Latih "Public Relations" Pegawai Museum Benteng Vredeburg