Oleh: Mayjen TNI Purn. Fulad, S.Sos, M.Si
Penasihat Militer RI untuk Dewan Keamanan PBB (2017–2019)
SAYA menyaksikan langsung bagaimana dunia bertepuk tangan menyambut gencatan senjata AS vs Iran beberapa hari lalu. Harga minyak turun tipis, bursa saham AS naik ke rekor tertinggi, dan para pemimpin dunia menghela napas lega seolah bahaya telah berlalu.
Maaf, saya tidak bisa ikut bertepuk tangan.
Bukan karena saya anti-perdamaian. Saya bersumpah setia pada perdamaian sejati. Namun, sebagai seseorang yang pernah duduk di ruang sidang Dewan Keamanan PBB selama dua tahun, saya belajar satu hal: jangan pernah percaya pada gencatan senjata yang lahir bukan dari kemauan, melainkan dari keterpaksaan.
Dan kali ini, Amerika Serikat terpaksa.
Saya Ingat Adegan Itu
Tahun 2018 di Markas PBB, New York, saya duduk di belakang delegasi AS. Mereka dengan penuh semangat memproyeksikan foto-foto satelit yang katanya membuktikan fasilitas rudal Iran di pedalaman gurun.
“Saksi nyata pelanggaran resolusi DK PBB!” kata mereka dengan suara lantang.
Di seberang meja, delegasi Rusia tersenyum tipis. Delegasi China membuka ponselnya tanpa ekspresi. Saya bertanya pelan kepada kolega dari Pakistan yang duduk di samping kiri, “Apakah serius ini, Kolonel?”
Ia menjawab lirih, “Ini teater, Jenderal. Teater untuk konsumsi publik. Kalau mereka benar-benar serius, mereka tidak perlu memproyeksikan foto ke layar lebar. Mereka cukup menggelar rapat tertutup.”
Sembilan tahun kemudian, teater yang sama berulang di Islamabad. Bedanya, kali ini AS tidak sedang memamerkan kekuatan, melainkan menutupi kelemahan.
Fakta yang Tidak Bisa Disembunyikan
Saya tidak berbicara kabar angin. Saya merujuk laporan Chatham House yang terkonfirmasi oleh tiga lembaga intelijen independen di Eropa: Amerika Serikat telah menghabiskan lebih dari setengah inventaris rudal Patriot dan Tomahawk dalam operasi “Epic Fury”.
Dalam dunia militer, angka setengah habis adalah situasi yang sangat mengkhawatirkan. Rudal Patriot adalah perisai, sedangkan Tomahawk adalah pedang. Tanpa keduanya dalam kondisi memadai, operasi lanjutan menjadi risiko besar.
Seorang komandan tidak akan melanjutkan serangan besar tanpa perlindungan dan daya serang yang cukup. Bukan karena takut, tetapi karena tanggung jawab terhadap pasukan dan kehormatan negara.
Apa yang terjadi di Islamabad, bagi saya, adalah konsekuensi logis dari stok yang menipis, bukan keajaiban diplomasi.
Adegan Islamabad yang Menggelikan
Pemerintah Iran secara tegas menyatakan tidak akan mengadakan perundingan langsung dengan perwakilan AS di Islamabad.
Namun, AS tetap mengirim utusan, bahkan Wakil Presiden JD Vance dalam status siaga. Ini bukan sekadar diplomasi, melainkan upaya mencari jalan keluar di tengah keterbatasan.
Presiden Trump mengatakan waktu terus berdetak bagi Iran. Namun, jika melihat situasi, waktu justru lebih cepat berdetak bagi persediaan rudal AS.
Ketika stok Patriot tinggal sekitar 47 persen, situasi bukan lagi soal tekanan, melainkan kebutuhan untuk bertahan.
Pelajaran Pahit bagi Indonesia
Saya tidak menulis ini untuk mengkritik satu pihak atau membela pihak lain. Ada pelajaran penting bagi Indonesia.
Pertama, soal kemandirian alutsista. Negara sebesar AS dengan anggaran pertahanan besar saja bisa mengalami keterbatasan. Ini menjadi refleksi penting bagi kita untuk memperkuat kemandirian pertahanan.
Kedua, soal definisi gencatan senjata. Kita perlu membedakan antara berhenti menembak dan perdamaian. Gencatan senjata sering kali hanyalah jeda untuk konsolidasi kekuatan.
Ketiga, peran Indonesia di kancah global. Indonesia memiliki modal kepercayaan karena konsistensi dan netralitas. Peran sebagai jembatan komunikasi bukan mustahil jika dikelola dengan baik.
Penutup
Pengalaman mengajarkan bahwa dalam dunia yang penuh panggung diplomasi, realitas selalu lebih kuat daripada retorika.
Realitas hari ini, AS menghentikan serangan karena keterbatasan, bukan semata pilihan damai. Iran menolak dialog langsung karena posisi tawarnya kuat.
Dan realitas lainnya, dunia—termasuk Indonesia—berpotensi menjadi penonton sekaligus terdampak jika tidak belajar dari situasi ini.
Saya tidak sedang meramal perang. Saya berharap saya salah. Namun, sebagai prajurit, saya berkewajiban menyampaikan hal yang mungkin tidak nyaman didengar.
Jangan keliru mengartikan jeda taktis sebagai perdamaian sejati.
Karena dalam dinamika global, sering kali ketenangan adalah tanda bahwa badai sedang mengumpulkan kekuatannya.
Jakarta, 25 April 2026