*Nanang Anna Noor dan Eddy Pranata PNP

Nanang Anna Noor (kiri) dan Eddy Pranata PNP
BANYUMAS, EDUKATOR–Dua penyair asal Banyumas Nanang Anna Noor dan Eddy Pranata PNP, mewakili Banyumas Raya dalam acara Malam Puisi Nasional di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (30/4/2026) malam. Kegiatan yang digelar dalam rangka Hari Puisi tersebut menghadirkan 43 penyair dari berbagai daerah di Indonesia.
Kehadiran kedua penyair Banyumas itu menjadi bagian dari reuni sastra nasional, khususnya bagi para penyair angkatan 1990-an yang kembali dipertemukan setelah hampir tiga dekade.
“Kebetulan saya dan Mas Eddy yang diundang ke Jakarta. Kami mewakili Banyumas Raya. Ini pertemuan kedua setelah 1996,” ujar Nanang Anna Noor kepada EDUKATOR, Kamis (30/4/2026) malam.
Sementara itu, Eddy Pranata PNP menyebut acara tersebut sebagai ajang temu kangen para penyair lama. “Kami pernah bertemu di tempat ini pada 1996. Kini kembali bertemu dalam suasana yang sama,” kata Eddy Pranata yang pernah tinggal di Padang.
Panitia kegiatan, Kurnia Effendi, menjelaskan bahwa acara ini tidak hanya memperingati Hari Puisi, tetapi juga menjadi reuni para penyair yang tergabung dalam antologi MPA (Mimbar Penyair Abad) 21. Total terdapat 43 penyair yang diundang dalam kegiatan tersebut.
Acara dimulai sejak siang hari dengan tema Panggung Puisi MPA 21. Pembukaan dipandu oleh host Rissa Churia, dilanjutkan pengantar dari Remmy Novaris DM yang menjelaskan peluncuran buku puisi karya alumni MPA 21. Selanjutnya, Kurnia Effendi menyerahkan buku antologi puisi secara simbolis.
Agenda kemudian berlanjut dengan diskusi sastra bertema “Wajah Puisi Terkini” yang menghadirkan narasumber Kurnia Effendi, Remmy Novaris DM, Mustafa Ismail, dan Dedy Tri Riyadi.
Selain pembacaan puisi dari antologi Suara yang Menolak Sunyi, acara juga dimeriahkan penampilan komunitas teater, termasuk monolog dan tari puisi yang menambah kekayaan ekspresi seni.
Kegiatan ini menegaskan kembali peran Banyumas dalam kancah sastra nasional sekaligus mempererat jejaring antarpenyair lintas generasi di Indonesia. (Prasetiyo)