Menanamkan Etika Tertib Lalu-lintas di Jalan Raya

Bagikan :

Akhmad Fauzi, S.S., S.Pd.
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari
Kabupaten Purbalingga

JALAN raya sering kali menjadi cermin paling jujur dari wajah sebuah bangsa. Di sanalah kita melihat bagaimana nilai, norma, dan karakter masyarakat benar-benar dipraktikkan, bukan sekadar diucapkan.

Kita sering disuguhi video dari luar negeri: pengendara yang berhenti dengan sabar saat pejalan kaki menyeberang, atau pengendara motor yang rela turun dan menuntun kendaraannya ketika memasuki trotoar. Sederhana, tetapi sarat makna. Lalu, bagaimana dengan jalan raya kita?

Di banyak kota di Jawa khususnya, pemandangan sebaliknya justru lebih akrab. Trotoar yang seharusnya menjadi ruang aman bagi pejalan kaki sering berubah fungsi menjadi jalur alternatif kendaraan bermotor. Bahkan, tidak jarang dijadikan tempat berjualan atau parkir. Zebra cross pun perlahan kehilangan “wibawanya”. Lampu merah menjadi sekadar tanda yang bisa dinegosiasikan. Yang kuat, yang cepat, dan yang berani sering kali justru menjadi pemenang di jalan.

Jutaan Kasus Pelanggaran Lalu-lintas
Data pun memperkuat realitas ini. Dalam satu tahun, pelanggaran lalu lintas di Jawa Tengah mencapai angka jutaan kasus. Ini bukan sekadar angka, melainkan gambaran bahwa ketertiban belum menjadi budaya, tetapi masih sebatas kewajiban yang kerap diabaikan.

Di titik ini, kita perlu jujur bertanya: apakah persoalannya hanya pada aturan, atau justru pada kesadaran?

Masalah utama kita sesungguhnya tidak kasatmata: krisis empati di ruang publik. Di jalan raya, empati seolah menjadi barang langka. Pejalan kaki sering kali harus “mengalah”, bahkan di ruang yang menjadi haknya. Pengendara lebih fokus pada kecepatan dan efisiensi pribadi, tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain.

Fenomena ini dapat ditemukan di berbagai daerah, seperti: trotoar yang dipenuhi pedagang atau parkir liar, kendaraan yang melawan arus demi memotong waktu,
DAN pengendara yang tetap melaju meski ada pejalan kaki di zebra cross.

Perilaku ini terus berulang karena dianggap biasa. Pelanggaran kecil dinormalisasi, hingga akhirnya membentuk budaya.

Sebagai seorang guru, penulis menyampaikan pengamatan dan kegelisahannya:

Pelanggaran Dianggap Biasa
“Anak-anak itu sebenarnya tahu mana yang benar. Tapi mereka melihat contoh di luar berbeda. Ketika orang dewasa saja melanggar, mereka jadi menganggap itu hal biasa.”

Pernyataan ini sederhana, tetapi menohok. Pendidikan di kelas sering kali kalah oleh “pendidikan jalanan” yang mereka saksikan setiap hari.

Di tengah situasi ini, sekolah memegang peran penting, bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai ruang menanam nilai. Namun, tantangannya tidak kecil. Sekolah tidak bisa bekerja sendiri, karena nilai yang ditanam sering kali bertabrakan dengan realitas di luar pagar sekolah.

Teman-teman penulis sesama guru di satu sekolah juga mengungkapkan realitas yang kerap terjadi:

“Kami selalu mengajarkan disiplin dan tertib, termasuk saat siswa di jalan. Tapi begitu mereka pulang, lingkungan sering tidak mendukung. Di sinilah pentingnya kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.”

Apa yang disampaikan ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak cukup hanya bersifat teoritis. Ia harus hidup dalam praktik sehari-hari.

Seiring berkembangnya konsep pembelajaran di kelas, ada beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan sekolah.

Pertama, menghadirkan pembelajaran yang kontekstual.
Guru tidak hanya menjelaskan aturan lalu lintas, tetapi juga mengaitkannya dengan kondisi nyata di sekitar siswa. Misalnya, mengapa trotoar tidak boleh digunakan untuk parkir atau bagaimana dampaknya bagi pejalan kaki.

Kedua, membangun keteladanan.
Lingkungan sekolah harus menjadi contoh nyata. Guru, karyawan, hingga orang tua yang menjemput siswa perlu menunjukkan perilaku tertib. Sebab sejatinya siswa belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat.

Ketiga, pembiasaan melalui praktik.
Simulasi menyeberang jalan, budaya antre, hingga disiplin saat berkendara dapat dilatih sejak dini. Hal kecil, tetapi jika dilakukan terus-menerus akan membentuk karakter.

Salah seorang rekan guru di sekolah bahkan menginisiasi kegiatan sederhana: siswa diminta mengamati perilaku pengguna jalan di sekitar rumahnya, lalu mendiskusikannya di kelas.

“Anak-anak jadi sadar, ternyata banyak hal yang selama ini mereka anggap biasa itu sebenarnya salah,” ujarnya.

Tantangan Besar, Harapan Tetap Ada
Meski tantangan besar, harapan tetap ada. Upaya penegakan hukum dan edukasi mulai menunjukkan hasil. Dalam beberapa operasi lalu lintas, terjadi penurunan angka pelanggaran.

Namun, kita harus sadar: hukum hanya bisa mengatur perilaku, bukan membentuk kesadaran.

Kesadaran lahir dari proses panjang, dari pendidikan, pembiasaan, dan keteladanan. Karena itu, solusi jangka panjang tidak bisa hanya mengandalkan tilang atau razia. Kita membutuhkan rekayasa sosial melalui pendidikan yang konsisten dan berkelanjutan.

Bayangkan jika sejak kecil anak-anak dibiasakan dengan nilai sederhana: menghargai hak orang lain. Ketika dewasa, mereka tidak perlu lagi diingatkan untuk tertib. Mereka akan melakukannya secara otomatis.

Dimulai dari Ruang Kelas

Seorang guru senior di tempat kerja penulis pernah mengatakan:

“Kalau kita ingin jalan raya tertib, jangan mulai dari jalan. Mulailah dari ruang kelas.”

Kalimat ini layak menjadi refleksi bersama.

Pada akhirnya, jalan raya bukan sekadar ruang fisik. Ia adalah ruang sosial, tempat nilai-nilai kita diuji setiap hari. Apakah kita mau berbagi, atau justru saling berebut? Apakah kita peduli, atau hanya memikirkan diri sendiri?

Menanam etika di atas aspal memang tidak mudah. Tetapi bukan berarti tidak mungkin. Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil: dari memberi jalan, dari mau menunggu, dan dari menghargai yang lemah.

Jika sekolah, keluarga, dan masyarakat berjalan seiring, bukan mustahil suatu hari nanti kita akan melihat pemandangan yang berbeda:
1.Pengendara yang berhenti dengan sadar.
2.Trotoar yang kembali pada fungsinya.
3.Jalan raya yang lebih manusiawi.

Karena sejatinya, sopan santun tidak hanya milik ruang tamu, tetapi juga harus hadir di tengah hiruk-pikuk jalan raya.(*)

 

 

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-05-13 at 04.39
131 Pelajar SMP Ikuti Adu Literasi Bahasa Inggris
FAUZI
Menanamkan Etika Tertib Lalu-lintas di Jalan Raya
esa01
Kwarran Purbalingga Borong Prestasi "Eagle Scout Award 2026"
2juara1
SMPN 2 Kutasari Raih Dua Prestasi Membanggakan
FULAD6
Selat Hormuz sebagai Front Utama: Pelajaran Blokade Laut