Oleh: Priyanto, S.Pd.I, M.Pd.I
Kabid Pembinaan SMP
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga
SETIAP Iduladha, gema takbir kembali memenuhi ruang-ruang sosial kita. Orang-orang berkumpul di masjid, bergotong royong menyembelih hewan kurban, lalu membagikan daging kepada sesama. Ritual itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan pesan moral yang sangat mendalam: kurban bukan hanya tentang penyembelihan hewan, melainkan tentang pendidikan kemanusiaan.
Al-Qur’an menegaskan, “Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian” (QS. Al-Hajj: 37). Ayat ini menunjukkan bahwa inti kurban bukan pada aspek lahiriah, melainkan pada transformasi batin manusia. Allah tidak membutuhkan darah dan daging hewan. Yang menjadi ukuran adalah kualitas moral dan spiritual manusia yang melaksanakannya. Kurban bukan sekadar tentang apa yang disembelih, tetapi tentang apa yang dibebaskan dari dalam diri manusia: egoisme, keserakahan, dan kecintaan berlebihan pada dunia.
Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sesungguhnya bukan sekadar narasi kepatuhan religius, melainkan simbol pergulatan manusia melawan keterikatan dirinya sendiri. Dalam konteks modern, “Ismail” yang harus disembelih bisa berupa ambisi kekuasaan, kerakusan ekonomi, fanatisme sempit, atau egoisme sosial yang membuat manusia kehilangan empati. Karena itu, kurban sejatinya adalah pendidikan spiritual untuk memanusiakan manusia.
Menyembelih Ego di Tengah Zaman Individualistis
Di tengah dunia modern yang semakin individualistis, manusia sering berhasil membangun kemajuan material, tetapi gagal membangun kepekaan sosial. Teknologi berkembang pesat, komunikasi semakin mudah, tetapi solidaritas justru perlahan menipis. Kita hidup di zaman ketika manusia semakin dekat secara digital, tetapi sering semakin jauh secara emosional. Kemajuan ekonomi ternyata tidak otomatis melahirkan kemajuan kemanusiaan. Di titik inilah Iduladha menemukan relevansinya.
Pemikiran Nurcholish Madjid atau Cak Nur menjadi relevan dalam konteks ini. Cak Nur memandang agama bukan sekadar simbol formal dan ritual lahiriah, tetapi sumber nilai moral yang harus melahirkan keadaban publik. Agama, menurutnya, harus menghadirkan kemaslahatan sosial dan memperkuat nilai kemanusiaan. Maka, ritual kurban yang tidak melahirkan solidaritas sosial sesungguhnya kehilangan substansi terdalamnya.
Pendidikan Bukan Sekadar Mencetak Anak Pintar
Persoalan ini menjadi penting ketika dikaitkan dengan dunia pendidikan. Pendidikan kita sering berhasil melahirkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi belum sepenuhnya berhasil membentuk manusia yang matang secara moral dan sosial. Anak-anak didorong untuk unggul dalam kompetisi, tetapi tidak selalu dibimbing untuk unggul dalam empati.
Padahal pendidikan sejatinya bukan sekadar transfer ilmu, melainkan proses memanusiakan manusia. Ki Hadjar Dewantara pernah menegaskan bahwa pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Artinya, pendidikan bukan hanya membangun kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk karakter, kehalusan budi, dan tanggung jawab sosial.
Spirit kurban menghadirkan nilai-nilai penting bagi pendidikan: keikhlasan, kepedulian, gotong royong, solidaritas, dan pengorbanan demi kepentingan bersama. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad). Hadis ini menegaskan bahwa kemuliaan manusia tidak hanya diukur dari kesalehan ritualnya, tetapi dari manfaat sosial yang dihadirkannya.
Karena itu, sekolah tidak cukup hanya menjadi tempat mengejar prestasi akademik. Sekolah harus menjadi ruang pembentukan karakter kemanusiaan. Pendidikan yang berhasil bukan hanya melahirkan anak-anak pintar, tetapi generasi yang memiliki empati, tanggung jawab sosial, dan kemampuan hidup bersama dalam keberagaman.
Spirit Kurban dan Pembangunan Kolaboratif
Dalam konteks pembangunan daerah, spirit kurban juga memiliki relevansi kuat dengan visi Pemerintah Kabupaten Purbalingga, yaitu “Akselerasi Pembangunan Kolaboratif untuk Purbalingga Mandiri dan Sejahtera.” Visi tersebut menegaskan bahwa pembangunan tidak dapat berjalan secara individual dan eksklusif. Kemajuan hanya mungkin dicapai melalui kolaborasi, gotong royong, dan kesediaan berbagi tanggung jawab. Dan itulah inti sosial dari kurban.
Daging kurban dibagikan bukan semata karena alasan konsumsi, tetapi sebagai simbol pemerataan kebahagiaan dan penguatan solidaritas sosial. Islam mengajarkan bahwa kesejahteraan tidak boleh dimonopoli oleh segelintir orang. Kebahagiaan harus dirasakan bersama.
Dalam perspektif pembangunan, semangat ini menjadi penting. Sebab pembangunan yang hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi tanpa memperkuat kohesi sosial pada akhirnya akan melahirkan ketimpangan dan keterasingan sosial. Karena itu, pembangunan kolaboratif sejatinya bukan hanya proyek administratif, tetapi juga proyek kebudayaan dan kemanusiaan.
Dalam dunia pendidikan, kolaborasi berarti menghadirkan sinergi antara sekolah, keluarga, pemerintah, dan masyarakat. Pendidikan tidak dapat berjalan sendiri. Guru membutuhkan dukungan keluarga, sekolah membutuhkan keterlibatan masyarakat, dan pemerintah membutuhkan partisipasi publik.
Di sinilah spirit kurban menemukan makna sosialnya: bahwa kemajuan bersama hanya mungkin dicapai jika manusia mau berbagi, bekerja sama, dan berkorban demi kepentingan yang lebih besar.
Pada akhirnya, Iduladha mengajarkan bahwa agama tidak boleh berhenti pada simbol dan formalitas. Agama harus menjelma menjadi energi moral yang membangun kehidupan bersama.
Kurban bukan sekadar tentang penyembelihan hewan. Ia adalah simbol keberanian manusia menyembelih egoisme dan keserakahan dalam dirinya sendiri. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin keras dan kompetitif ini, yang paling dibutuhkan bukan hanya manusia yang cerdas berpikir, tetapi manusia yang mampu merasakan penderitaan orang lain.
Sebab peradaban besar tidak lahir dari manusia-manusia yang hanya sibuk mengumpulkan, tetapi dari mereka yang memiliki kesediaan memberi. Mungkin di situlah makna terdalam Iduladha: bahwa semakin dekat seseorang kepada Tuhan, seharusnya semakin luas pula kasih sayangnya kepada sesama.