Oleh: Ākhmad Fauzi, S.S., S.Pd.
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari
Kabupaten Purbalingga
DI BANYAK sekolah, momen perpisahan selalu menghadirkan suasana haru. Ada tangis, pelukan, foto bersama, dan satu sesi yang hampir selalu ditunggu-tunggu: pengumuman “guru favorit”. Ketika nama guru disebut, tepuk tangan bergemuruh.
Murid bersorak riang. Sang guru tersenyum malu-malu sambil menerima bunga atau kenang-kenangan sederhana. Namun di balik suasana hangat itu, ada satu pertanyaan yang jarang dibahas secara serius: mengapa guru yang paling disukai belum tentu guru yang paling membentuk masa depan murid?
Tidak sedikit guru yang dikenal santai, humoris, dekat dengan siswa, dan longgar dalam tugas menjadi sangat populer. Sebaliknya, guru yang disiplin, tegas, banyak memberi tantangan, serta menuntut standar tinggi justru sering dianggap “killer”, “pelit nilai”, atau “terlalu serius”.
Fenomena ini sebenarnya bukan sekadar soal popularitas di sekolah. Ini adalah gambaran tentang bagaimana sebagian murid memandang proses belajar: lebih menyukai kenyamanan jangka pendek dibanding tantangan yang membangun kemampuan jangka panjang. Padahal, dunia nyata setelah sekolah tidak selalu nyaman.
Guru Favorit Dan Realitas Pembelajaran
Bagi sebagian siswa, guru favorit adalah guru yang membuat kelas terasa ringan dan menyenangkan. Guru seperti ini biasanya humoris, ramah, mudah diajak bicara, dan tidak menciptakan suasana menegangkan di kelas. Beberapa artikel yang membahas karakter guru favorit menunjukkan pola yang hampir sama.
Murid menyukai guru yang “asik”, tidak mudah marah, bisa bercanda, dekat dengan siswa, dan mampu menciptakan suasana santai saat belajar. Ada pula yang menyukai guru kreatif karena pembelajaran terasa tidak membosankan.
Fenomena ini sebenarnya sangat manusiawi. Dalam psikologi pendidikan, murid memang membutuhkan rasa aman secara emosional sebelum mereka siap belajar secara optimal. Ketika siswa merasa diterima, dihargai, dan tidak takut dipermalukan, mereka akan lebih berani bertanya, berdiskusi, bahkan mengakui kesalahan.
Survei iklim belajar yang dirilis Kemendikbudristek juga menunjukkan bahwa relasi positif antara guru dan murid berkaitan erat dengan meningkatnya keterlibatan belajar siswa. Murid cenderung lebih aktif ketika merasa nyaman dengan gurunya. Karena itu, menjadi guru yang disukai siswa bukan sesuatu yang salah. Justru kedekatan emosional sering menjadi pintu masuk keberhasilan pembelajaran.
Antara Kenyamanan Dan Tuntutan Kualitas
Masalah mulai muncul ketika kenyamanan menjadi tujuan utama pendidikan. Sebab pendidikan bukan hanya membuat murid merasa nyaman hari ini, tetapi juga membuat mereka siap menghadapi tantangan hidup di masa depan.
Dalam banyak kasus, murid sering menyukai kelas yang minim tekanan. Tidak banyak tugas. Penilaian longgar. Tidak terlalu dituntut berpikir mendalam. Suasana kelas cair dan santai. Sekilas, kondisi ini terlihat ideal. Murid senang. Guru juga tidak terlalu stres menghadapi protes siswa.
Namun jika terus berlangsung tanpa tantangan akademik yang memadai, kelas semacam ini dapat menciptakan stagnasi. Murid merasa nyaman, tetapi tidak berkembang secara maksimal.
Konsep growth mindset yang diperkenalkan Carol Dweck menjelaskan bahwa kemampuan seseorang berkembang melalui latihan, kesalahan, evaluasi, dan ketekunan. Artinya, proses belajar yang baik memang membutuhkan tantangan. Belajar bukan hanya soal menikmati proses, tetapi juga melatih daya tahan mental.
Di sinilah sering muncul benturan persepsi antara guru dan murid. Guru ingin membentuk kemampuan berpikir kritis, disiplin, dan tanggung jawab. Sementara sebagian murid hanya melihat tugas sulit sebagai beban yang melelahkan. Akibatnya, guru yang serius membangun kualitas akademik sering dianggap kurang menyenangkan.
Di banyak sekolah, label “guru killer” masih sangat akrab. Biasanya diberikan kepada guru yang disiplin, tegas terhadap aturan, dan memiliki standar penilaian tinggi. Padahal, dalam banyak penelitian pendidikan, ekspektasi tinggi justru terbukti meningkatkan capaian belajar siswa.
Praktik high expectation teaching menunjukkan bahwa murid cenderung berkembang lebih baik ketika guru percaya mereka mampu mencapai standar tinggi. Masalahnya sering bukan pada ketegasan itu sendiri, melainkan cara penyampaiannya.
Guru Yang Dikenang Lebih Dari Sekadar Disukai
Ada guru yang sangat kuat secara akademik, tetapi kurang membangun koneksi emosional dengan siswa. Akibatnya, pesan yang ingin disampaikan sebagai bentuk kepedulian berubah menjadi tekanan.
Murid akhirnya merasa: “Guru ini galak.” “Pelajarannya bikin stres.” “Masuk kelasnya bikin takut.” Padahal mungkin di balik itu, guru sedang berusaha keras agar muridnya tidak tumbuh menjadi pribadi yang mudah menyerah.
Banyak alumni baru menyadari hal ini bertahun-tahun kemudian. Saat memasuki dunia kerja atau pendidikan tinggi, mereka mulai memahami bahwa kedisiplinan, ketelitian, dan kemampuan berpikir yang dulu terasa menyebalkan ternyata menjadi bekal penting dalam hidup.
Kalimat seperti ini sering terdengar dari mantan murid: “Dulu saya paling takut sama beliau. Tapi sekarang saya sadar, justru pelajaran hidup terbesar saya datang dari sana.” Ironisnya, kesadaran itu sering datang terlambat—ketika masa sekolah sudah selesai.
Jika ukuran keberhasilan guru hanya berdasarkan voting “guru favorit”, pendidikan perlahan bisa bergeser menjadi sekadar upaya menyenangkan siswa. Padahal tugas guru jauh lebih besar daripada membuat murid senang selama 40 menit di kelas. Guru bertanggung jawab membentuk karakter, membangun pola pikir, melatih tanggung jawab, dan menyiapkan murid menghadapi kehidupan nyata yang penuh tekanan.
Dunia kerja tidak selalu memberi toleransi. Kehidupan tidak selalu menyediakan kenyamanan. Persaingan tidak selalu ramah. Karena itu, sekolah seharusnya menjadi tempat latihan menghadapi tantangan secara sehat. Bukan berarti guru harus berubah menjadi sosok menakutkan. Namun pendidikan juga tidak boleh kehilangan standar hanya demi menjaga popularitas.
Guru yang terlalu ingin disukai terkadang menghadapi dilema. Ketika terlalu dekat dengan murid, aturan menjadi sulit ditegakkan secara konsisten. Teguran dianggap sebagai pengkhianatan hubungan pertemanan. Murid mulai menganggap kelonggaran sebagai sesuatu yang wajar.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melemahkan otoritas guru di kelas. Sebaliknya, guru yang hanya fokus pada materi tanpa membangun hubungan emosional juga menghadapi masalah lain: murid belajar dalam ketakutan, bukan kesadaran. Kelas menjadi sunyi, tetapi bukan karena murid fokus melainkan karena mereka takut salah.
Di sinilah tantangan besar guru masa kini muncul. Guru tidak cukup hanya menjadi “favorit”. Guru juga tidak cukup hanya menjadi “pintar”. Murid membutuhkan keduanya sekaligus. Mereka membutuhkan guru yang menguasai materi, tetapi tetap manusiawi. Guru yang disiplin, tetapi tetap hangat. Guru yang menantang, tetapi tidak merendahkan. Guru yang tegas, tetapi tetap mampu mendengarkan.
Dalam berbagai kajian pendidikan modern, kualitas hubungan guru dan murid justru menjadi faktor penting keberhasilan belajar. Kedekatan emosional yang sehat membuat standar akademik lebih mudah diterima siswa. Artinya, murid sebenarnya tidak keberatan dituntut tinggi selama mereka merasa guru melakukannya karena peduli.
Inilah yang sering membedakan guru yang ditakuti dengan guru yang dihormati. Guru yang ditakuti membuat murid tertekan. Guru yang dihormati membuat murid berkembang. Perbedaannya terletak pada empati.
Ada satu kenyataan menarik dalam dunia pendidikan: guru terbaik sering baru dihargai setelah murid dewasa. Saat masih sekolah, murid mungkin lebih menyukai guru yang santai dan menyenangkan. Namun setelah menjalani kehidupan nyata, mereka mulai merindukan guru yang dulu mengajarkan disiplin, kerja keras, dan tanggung jawab.
Mereka mulai sadar bahwa tugas sulit ternyata melatih daya juang. Teguran ternyata membentuk karakter. Standar tinggi ternyata menyiapkan mental menghadapi dunia.
Karena itu, penghargaan terbesar seorang guru sebenarnya bukan selalu piala “guru favorit”. Kadang penghargaan terbesar datang bertahun-tahun kemudian, dalam bentuk pesan sederhana dari mantan murid: “Terima kasih, Pak/Bu. Dulu saya belum mengerti kenapa harus sekeras itu. Sekarang saya paham, itu yang membuat saya bertahan sampai hari ini.”
Kalimat seperti itu mungkin tidak dipajang di etalase sekolah. Tidak diumumkan saat perpisahan. Tidak mendapat tepuk tangan meriah. Tetapi justru di situlah letak keberhasilan pendidikan yang sesungguhnya.
Menjadi guru favorit adalah kebanggaan. Namun menjadi guru yang membentuk karakter adalah kehormatan. Pendidikan sejati bukan sekadar membuat murid tersenyum hari ini, tetapi membantu mereka menjadi manusia tangguh di masa depan.
Karena itu, guru masa kini tidak perlu terjebak memilih antara menjadi “favorit” atau “terbaik”. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan. Mengajar dengan hati, tetapi tetap menjaga kualitas. Dekat dengan murid, tetapi tetap memiliki wibawa.
Membangun kenyamanan, tetapi tidak menghilangkan tantangan. Sebab pada akhirnya, guru yang paling dikenang bukan selalu yang paling lucu, paling santai, atau paling populer, melainkan guru yang diam-diam meninggalkan bekas paling dalam dalam perjalanan hidup muridnya.(*)