Oleh: Mayjen TNI (Purn.) Fulad, S.Sos, M.Si
Penasihat Militer RI untuk PBB (2017–2019)
Pendahuluan
Di sela suasana libur Idul Adha yang biasanya menjadi waktu untuk beristirahat, berkumpul bersama keluarga, dan menenangkan pikiran, perhatian dunia justru tertuju pada satu kawasan yang kembali memanas: Timur Tengah.
Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel bergerak dalam situasi yang tidak mudah dibaca. Di satu sisi terdengar pernyataan yang keras dan penuh tekanan, sementara di sisi lain jalur diplomasi tetap dibuka. Ancaman dan negosiasi berjalan beriringan, sama-sama menunggu siapa yang lebih dulu menentukan langkah.
Situasi ini tidak lagi bisa dipandang sebagai persoalan kawasan semata. Dampaknya menjalar ke berbagai sektor, mulai dari pasar energi dunia, jalur pelayaran internasional, stabilitas ekonomi global, hingga keseimbangan geopolitik yang pengaruhnya terasa sampai kawasan Indo-Pasifik.
Indonesia memang tidak berada di garis konflik. Namun Indonesia juga tidak bisa sekadar melihat dari kejauhan. Dalam keadaan seperti ini, diam bukanlah pilihan yang bijak.
Timur Tengah Memanas, Dunia Menahan Napas
Perkembangan beberapa hari terakhir memperlihatkan kenyataan bahwa situasi masih sangat rapuh. Amerika Serikat menegaskan tetap siap mengambil langkah militer bila diplomasi tidak membuahkan hasil. Iran memperlihatkan bahwa mereka masih memegang daya tekan strategis, terutama di sekitar Selat Hormuz. Sementara Israel tetap menjaga tekanan terhadap ancaman yang dianggap membahayakan keamanan nasionalnya.
Semua pihak tentu memahami risiko perang terbuka. Namun sejarah berulang kali mengingatkan bahwa konflik besar sering kali bukan lahir dari keputusan besar yang direncanakan matang, melainkan dari satu kesalahan hitung yang berkembang cepat dan sulit dihentikan.
Selat Hormuz kembali menjadi titik paling sensitif. Bila kawasan ini terganggu, dampaknya akan langsung terasa. Harga energi dapat melonjak, distribusi perdagangan terganggu, pasar keuangan bereaksi, dan negara-negara berkembang ikut menerima tekanannya.
Indonesia tentu tidak terkecuali. Dalam dunia yang saling terhubung seperti hari ini, gejolak di kawasan yang jauh pun bisa terasa sangat dekat.
Di Tengah Libur, Dunia Diuji Menahan Diri
Ada ironi yang tidak bisa diabaikan. Di saat sebagian masyarakat Muslim masih menikmati suasana libur Idul Adha—momentum yang sarat dengan makna pengorbanan, kepedulian, dan kemanusiaan—justru di kawasan Timur Tengah suhu konflik terus meningkat.
Pada titik seperti inilah dunia kembali diuji.
Dalam perspektif strategis, kekuatan tidak selalu ditunjukkan lewat kemampuan menyerang. Sering kali kekuatan justru terlihat dari kemampuan menahan diri, menjaga keseimbangan, dan tetap berpikir jernih di tengah tekanan.
Setiap perang selalu meninggalkan jejak panjang. Ada korban kemanusiaan, tekanan ekonomi, serta luka sosial-politik yang tidak selesai dalam waktu singkat. Karena itu, dunia internasional hari ini membutuhkan lebih dari sekadar unjuk kekuatan. Yang dibutuhkan adalah kebijaksanaan untuk menahan eskalasi sebelum keadaan bergerak melewati batas yang tidak diinginkan siapa pun.
Indonesia Harus Hadir
Dalam situasi seperti ini, Indonesia memiliki posisi yang penting. Sebagai negara Muslim terbesar di dunia, anggota utama ASEAN, anggota G20, dan negara yang konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif, Indonesia memiliki ruang diplomatik sekaligus tanggung jawab moral.
Ada beberapa langkah yang perlu dijaga dengan serius.
Pertama, terus memperkuat diplomasi dan mendorong de-eskalasi konflik melalui berbagai forum internasional.
Kedua, memastikan kesiapan nasional di sektor energi dan pangan apabila gejolak global meningkat dan mengganggu rantai pasok internasional.
Ketiga, meningkatkan kewaspadaan maritim serta membaca perkembangan kawasan secara cermat untuk mengantisipasi dampak tidak langsung terhadap kepentingan nasional.
Keempat, menjaga ASEAN tetap solid sebagai jangkar stabilitas di tengah meningkatnya rivalitas global.
Dalam seluruh langkah itu, Indonesia perlu hadir dengan suara yang tenang, terukur, dan tetap konsisten pada prinsip perdamaian.
Penutup
Di sela libur Idul Adha tahun ini, dunia kembali diingatkan bahwa perdamaian tidak pernah datang dengan sendirinya.
Ia harus dijaga, dirawat, dan diperjuangkan dengan kepala dingin.
Ketika Timur Tengah kembali berada di ambang bara, dunia membutuhkan lebih banyak kejernihan daripada kemarahan.
Indonesia perlu hadir dengan sikap yang tenang, pandangan yang jernih, dan langkah yang terukur. Karena di tengah ketidakpastian global seperti hari ini, dunia tidak hanya membutuhkan kekuatan. Dunia membutuhkan akal sehat.
Dan Indonesia memiliki tanggung jawab moral serta kepentingan strategis untuk ikut menjaganya.
Jakarta, Mei 2026