Nuansa Budaya Warnai Peringatan Hari Lahir Pancasila

Bagikan :

*Di Gubug Budaya Dalang Nawan Desa Karangnangka

Lukisan Spontan “Riot Jiwa” karya pelukis Cipto Pratomo, mewarnai peringatan Hari Lahir Pancasila di Gubug Budaya Dalang Nawan, Desa Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas.

BANYUMAS,EDUKATOR–Peringatan Hari Lahir Pancasila ke-81 berlangsung dengan nuansa budaya dan seni di Gubug Budaya Dalang Nawan, Desa Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Senin (1/6/2026). Sejumlah seniman, budayawan, dan tokoh masyarakat berkumpul dalam kegiatan yang digelar sebagai bentuk refleksi terhadap nilai-nilai Pancasila di tengah kehidupan bermasyarakat.

Acara yang berlangsung mulai pukul 15.30 hingga 18.00 WIB itu diinisiasi oleh Pengelola Gubug Budaya Dalang Nawan, Bambang Barata Aji. Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan tersebut juga menghadirkan pertunjukan seni dan proses kreatif melukis secara langsung oleh perupa Banyumas, Cipto Pratomo.

“Kami mengundang para seniman, budayawan, dan tokoh masyarakat untuk bersama-sama memaknai kembali nilai-nilai Pancasila melalui ruang kebudayaan,” ujar Bambang Barata Aji.

Lukisan Spontan “Riot Jiwa” Jadi Daya Tarik
Salah satu momen yang menyita perhatian peserta adalah aksi melukis spontan yang dilakukan Cipto Pratomo. Dalam kesempatan itu, ia menghasilkan sebuah karya berjudul “Riot Jiwa”.

Lukisan tersebut menggambarkan kegelisahan dan letupan emosi yang lahir dari keresahan terhadap berbagai persoalan sosial. Secara visual, karya itu menampilkan dua sosok makhluk yang menyerupai manusia dan kuda.

Dualitas kedua figur tersebut dapat dimaknai sebagai simbol berbagai pertentangan dalam kehidupan, seperti laki-laki dan perempuan, terang dan gelap, maupun benar dan salah. Keduanya digambarkan bergerak dinamis dalam sebuah tarian penuh energi.

Simbol Perjuangan dan Keadilan
Dalam karya tersebut, gerak dua sosok itu tidak ditampilkan secara lembut dan teratur. Sebaliknya, keduanya menari dalam luapan energi yang menggambarkan semangat kebebasan, perlawanan terhadap ketidakadilan, dan dorongan untuk menghadirkan kebaikan.

Latar belakang lukisan dipenuhi pusaran-pusaran energi yang merepresentasikan pancaran cahaya matahari sebagai simbol semangat Pancasila. Sementara wajah kedua makhluk tidak digambarkan sebagai manusia maupun kuda secara utuh, melainkan figur simbolik yang memancarkan kewibawaan, keberanian, dan daya juang.

Karya tersebut juga menghadirkan kesan sosok penjaga yang memperoleh energi untuk membebaskan masyarakat dari berbagai bentuk ketidakadilan.

Terinspirasi Semangat Kuda Lumping dan Diponegoro
Komposisi gerak dalam lukisan “Riot Jiwa” memperlihatkan tubuh-tubuh yang meliuk penuh tenaga, menyerupai gerakan dalam kesenian kuda lumping yang tumbuh dari tradisi masyarakat akar rumput.

Selain itu, karya tersebut juga dimaknai sebagai simbol semangat juang pasukan Pangeran Diponegoro yang dikenal gigih dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi penindasan.

Melalui karya itu, Cipto Pratomo ingin menggambarkan bahwa kemarahan bukan semata-mata luapan emosi, melainkan energi moral untuk menuntut keadilan di berbagai bidang kehidupan.

Pada akhirnya, seluruh energi perjuangan tersebut diarahkan kembali kepada nilai-nilai yang terkandung dalam Garuda Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.

Diawali Goresan Dewan Kesenian Banyumas
Proses penciptaan lukisan dilakukan di atas kanvas berukuran 70 x 90 sentimeter. Menariknya, goresan pertama pada kanvas dibuat oleh Bambang Widodo, Wakil Ketua I Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas.

Ia mengawali proses kreatif tersebut dengan sapuan cat akrilik berwarna merah berbentuk lingkaran yang kemudian dikembangkan menjadi karya utuh oleh Cipto Pratomo.

Melalui bahasa seni, peringatan Hari Lahir Pancasila ke-81 di Gubug Budaya Dalang Nawan menjadi media refleksi atas berbagai persoalan sosial yang dihadapi bangsa. Pesan yang mengemuka adalah pentingnya menjaga semangat keadilan, persatuan, dan kemanusiaan sebagaimana tertuang dalam nilai-nilai Pancasila. (Prasetiyo)

 

 

BERITA TERKINI

korban mandiri taspen
Korban Capai 30 Orang, DPR RI Kawal Skandal Bank Mandiri Taspen
budaya1
Nuansa Budaya Warnai Peringatan Hari Lahir Pancasila
gula1
FTP UGM Dorong Mutu Ekspor Gula Semut Banyumas
6118370557892957255
Bupati Fahmi Tegaskan Pentingnya Nilai-nilai Pancasila dalam Pelayanan Publik
nok10
Sekolah sebagai Laboratorium Kebhinekaan, Menguatkan Pancasila untuk Mewujudkan Perdamaian Dunia