Prof Totok Agung DH: Transformasi Teknologi Kunci Kemandirian Pangan

Bagikan :

Guru besar Fakultas Pertanian Unsoed, Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D.

JAKARTA, EDUKATOR–Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D., menegaskan, transformasi teknologi pertanian merupakan kunci dan jalan strategis untuk mewujudkan kemandirian pangan nasional yang berkelanjutan.

“Metode pertanian konvensional tidak lagi mampu menjawab tantangan pangan akibat perubahan iklim, alih fungsi lahan, pertumbuhan penduduk, serta rendahnya efisiensi produksi,” tegas Prof Totok dalam Focused Group Discussion (FGD) Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) Angkatan LXIX/69 Tahun 2026 di Lemhannas RI, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

FGD yang mengangkat tema besar “Kebijakan Pangan Nasional Menuju Kemandirian dan Kesejahteraan Rakyat” tersebut membahas peran kepemimpinan strategis, tata kelola, dan human capital dalam mendukung transformasi teknologi serta budaya produktif guna membangun kemandirian pangan berkelanjutan. Kegiatan menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi, pemerintah, dan pakar di bidang pangan dan pertanian.

Dalam paparannya, Prof. Totok menjelaskan bahwa tantangan pangan saat ini semakin kompleks. Selain menghadapi dampak perubahan iklim global, Indonesia juga dihadapkan pada pertumbuhan populasi, alih fungsi dan fragmentasi lahan pertanian, kesenjangan produktivitas, tingginya food loss, serta sempitnya kepemilikan lahan petani yang rata-rata hanya sekitar 0,3 hektar.

“Metode lama tidak lagi cukup,” tegas Prof. Totok saat memaparkan strategi pembangunan pangan berkelanjutan.

Teknologi Modern Perkuat Kemandirian Pangan
Menurut Prof. Totok, arah pembangunan pangan tidak cukup hanya berfokus pada ketahanan pangan yang menjamin ketersediaan makanan. Indonesia perlu bergerak menuju kemandirian pangan berkelanjutan, yaitu kemampuan memproduksi pangan sendiri dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan untuk generasi mendatang.

Untuk mencapai tujuan tersebut, transformasi industri pertanian harus dilakukan melalui penerapan mekanisasi modern, otomatisasi, dan digitalisasi. Sistem pertanian modern mencakup penggunaan traktor otonom, teknologi smart farming, agroindustri hilir, serta rantai pasok digital yang terintegrasi dari lahan hingga konsumen.

Ia mencontohkan berbagai teknologi yang sudah mulai diterapkan di lapangan, seperti mesin transplanter semi-otonom untuk penanaman padi, drone penyemprot otomatis, combine harvester, dan sensor tanah berbasis Internet of Things (IoT) yang memungkinkan petani memantau kondisi lahan secara real time melalui telepon pintar. Teknologi tersebut terbukti mampu meningkatkan efisiensi dan mengurangi kehilangan hasil panen.

Prof. Totok juga memaparkan prospek teknologi masa depan yang berpotensi mempercepat terwujudnya kemandirian pangan nasional, antara lain traktor tanpa awak berbasis GPS dan kecerdasan buatan (AI), pertanian vertikal berbasis robotik, sistem sortasi hasil pertanian menggunakan AI, hingga pengolahan limbah pertanian menjadi energi dan produk bernilai ekonomi melalui teknologi biorefinery.

Berdasarkan kajian yang dipaparkan, penerapan teknologi modern berpotensi menurunkan biaya produksi hingga 30 persen, meningkatkan produktivitas lahan hingga dua kali lipat, menjaga kualitas hasil panen lebih konsisten, serta mendukung konsep pertanian tanpa limbah (zero waste).

Benih Unggul Menjadi Fondasi Transformasi
Selain teknologi, Prof. Totok menekankan pentingnya kemandirian benih sebagai fondasi utama pembangunan pertanian modern. Benih lokal, varietas unggul baru (VUB), dan benih hibrida memiliki peran strategis dalam meningkatkan produktivitas, kualitas hasil, serta ketahanan tanaman terhadap berbagai tekanan lingkungan.

Menurutnya, implementasi benih bermutu merupakan titik awal dari seluruh rantai transformasi pertanian, mulai dari sektor hulu, penerapan smart farming, hingga pengembangan industri pengolahan hasil pertanian di sektor hilir.

Ia menjelaskan, strategi kemandirian benih dapat ditempuh melalui percepatan riset pemuliaan tanaman oleh perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan sektor swasta, disertai penguatan sistem sertifikasi serta distribusi benih agar tepat waktu sampai ke tangan petani.

Beberapa varietas unggul yang telah dikembangkan antara lain Inpari Unsoed P20 Tangguh, Inpari 32, Inpari 42 Agritan Green Super Rice, Inpago Unsoed 1, Inpago Unsoed Protani, serta sejumlah varietas padi dan jagung hibrida yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Sinergi Semua Pihak Diperlukan
Prof. Totok menegaskan bahwa keberhasilan transformasi pertanian tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi erat antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan petani untuk mempercepat adopsi teknologi di lapangan.

Ia merekomendasikan sejumlah langkah strategis, antara lain subsidi teknologi bagi kelompok tani, pelatihan digitalisasi pertanian secara masif, penyediaan sarana produksi yang terjangkau dan tepat waktu, serta penguatan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta.

“Kemandirian benih adalah kunci transformasi manufaktur yang efektif dan efisien, sedangkan transformasi manufaktur merupakan kunci kemandirian pangan berkelanjutan,” ujar Prof. Totok.

Melalui FGD P4N LXIX Lemhannas RI ini, berbagai gagasan strategis terkait kebijakan pangan nasional dihimpun sebagai masukan untuk memperkuat kemandirian pangan Indonesia, sekaligus meningkatkan kesejahteraan rakyat di tengah tantangan global yang terus berkembang. (Prasetiyo)

 

BERITA TERKINI

joko susanto2
DPR RI Siap Kawal Hak Korban Bank Mantap KCP Purwokerto
semnas1
Syafii Efendi Ajak 1500 Guru di Banyumas Bangun Pola Pikir Bertumbuh
prof totok2
Prof Totok Agung DH: Transformasi Teknologi Kunci Kemandirian Pangan
korban03
Kisah Pilu Puluhan Pensiunan Korban Modus Kredit Fiktif, Kerugian Rp 8,1 Miliar Lebih
korban1
Korban Bertambah, Kerugian 42 Nasabah Pensiunan Bank Mantap Capai Rp 8 Miliar