Dari Pondasi Bangsa hingga Dunia Digital, Gen Z Memaknai Ulang Pancasila

Bagikan :

Mantan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo di depan peserta sarasehan dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila di SMA Bopkri 1 Yogyakarta, Kamis (4/6/2026). (Foto: Harta Nining Wijaya/EDUKATOR)

YOGYAKARTA, EDUKATOR – Pancasila kini tidak hanya dipandang sebagai materi yang dihafalkan di bangku sekolah. Bagi Generasi Z, yaitu mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012 dan tumbuh di tengah perkembangan internet serta teknologi digital, Pancasila memiliki makna yang lebih relevan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi pedoman untuk menjaga persatuan, memperkuat toleransi, dan menyikapi derasnya arus informasi di media sosial secara bijak.

Pesan tersebut mengemuka dalam Sarasehan Pancasila XI bertajuk “Ketika Gen Z Mengonstruksi dan Memaknai Pancasila” yang digelar Yayasan BOPKRI Yogyakarta bekerja sama dengan Perhimpunan Warga Pancasila (PWP) dan PiJAR di SMA BOPKRI 1 Yogyakarta, Kamis (4/6/2026), dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila.

Kegiatan ini menghadirkan mantan Gubernur Jawa Tengah sekaligus tokoh nasional Ganjar Pranowo, mantan Menteri Sekretaris Negara Bambang Kesowo, akademisi Prof Nindyo Pramono sebagai keynote speaker, serta Holly Aulia, mahasiswi UII Yogyakrta yang mewakili suara Generasi Z.

Pancasila sebagai Pondasi Bangsa
Di hadapan ratusan murid yang memenuhi lapangan basket indoor SMA BOPKRI 1 Yogyakarta, Ganjar Pranowo mengawali paparannya dengan sebuah pertanyaan sederhana.

“Siapa yang ingin jadi insinyur teknik sipil?” tanyanya kepada para murid.

Sejumlah tangan langsung terangkat. Ganjar kemudian mengajak mereka membayangkan sebuah gedung tinggi yang megah dan kokoh. Namun, menurutnya, bangunan sehebat apa pun akan mudah runtuh apabila memiliki pondasi yang lemah.

“Kalau pondasinya tidak kuat, ketika terkena gempa atau angin besar, bangunan itu bisa roboh,” ujarnya.

Melalui analogi tersebut, Ganjar menjelaskan bahwa Pancasila memiliki fungsi yang sama bagi Indonesia. Pancasila merupakan dasar yang menopang berdirinya bangsa sekaligus menjaga negara tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan.

“Dasar yang kuat untuk sebuah negara, namanya Pancasila,” katanya.

Warisan yang Menjaga Indonesia Tetap Utuh
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Nindyo Pramono menegaskan bahwa Pancasila merupakan warisan terbesar yang dimiliki bangsa Indonesia.

Prof. Nindyo Pramono di depan peserta sarasehan. (Foto: Harta Nining Wijaya/EDUKATOR)

Ia mengisahkan percakapan antara Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dengan Presiden Yugoslavia, Josip Broz Tito. Dalam kisah tersebut, Tito menyebut akan meninggalkan warisan berupa kekuatan militer yang tangguh. Sementara Soekarno menyatakan bahwa warisan terbesarnya adalah Pancasila yang digali dari nilai-nilai kehidupan rakyat Indonesia.

Menurut Nindyo, sejarah menunjukkan bahwa Yugoslavia akhirnya terpecah menjadi beberapa negara. Sebaliknya, Indonesia tetap berdiri sebagai bangsa besar yang dipersatukan oleh Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Jangan sampai negara kita menjadi seperti Yugoslavia. Kita dari Sabang sampai Merauke dipersatukan oleh Pancasila,” ujarnya.

Bukan Sekadar Hafalan
Pandangan senada disampaikan Bambang Kesowo. Ia mengajak para murid untuk tidak memandang Pancasila sebagai konsep yang rumit atau sekadar hafalan.

Anggota Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dr. Bambang Kesowo, sebagai pemantik sarasehan (Foto: Harta Nining Wijaya/EDUKATOR)

Menurutnya, esensi Pancasila terletak pada kemampuan manusia memahami sesama, menghargai perbedaan, dan menjaga persatuan dalam keberagaman.

“Kita hidup dalam keragaman. Dengan adanya perbedaan, kita bisa menjaga persatuan. Kekuatan kita ada di situ,” katanya.

Ia menegaskan bahwa lima sila dalam Pancasila merupakan satu kesatuan nilai yang mengajarkan manusia untuk berketuhanan, memanusiakan sesama, menjunjung persatuan, bermusyawarah, dan menghadirkan keadilan sosial.

Gen Z dan Tantangan Dunia Digital
Jika Bambang berbicara dari perspektif kebangsaan, Holly Aulia, mahasiswi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini  membawa sudut pandang Generasi Z yang tumbuh bersama internet, media sosial, dan perkembangan teknologi digital.

Holly Aulia, mahasiswi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta saat menyampaikan pandangannya mewakili Gen-Z.(Foto: Harta Nining Wijaya/EDUKATOR)

Holly  menilai, Pancasila bukanlah dokumen sejarah yang kaku maupun teks yang hanya dibaca saat upacara. Baginya, Pancasila merupakan kompas yang membantu generasinya menghadapi tantangan dunia digital.

“Hidup di zaman internet tidak mudah. Setiap hari kita dipapar algoritma yang memicu kecemasan, overthinking, rasa insecure, hingga ujaran kebencian. Di situlah Pancasila hadir sebagai kompas,” ujarnya.

Menurut Holly, tantangan terbesar Generasi Z saat ini bukan menghafal Pancasila, melainkan menjaga nilai kemanusiaan dan kemampuan menerima perbedaan di ruang digital. Kehadiran akun anonim, budaya perundungan daring (cyberbullying), hingga fenomena cancel culture kerap mengikis empati dan rasa hormat terhadap sesama.

“Musuh terbesar Gen Z sekarang bukan lewat fisik, tetapi ego dan ketikan sendiri yang sering lebih cepat daripada otak,” katanya.

Meski demikian, Holly meyakini nilai-nilai Pancasila tetap hidup di kalangan anak muda. Hal itu terlihat dari berbagai gerakan sosial, kampanye anti-perundungan daring, kepedulian terhadap kesehatan mental, hingga keberanian menyuarakan keadilan melalui media sosial.

Pancasila Harus Terus Dimaknai
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Warga Pancasila, Dr. Saifudin Zuhri, mengatakan generasi muda perlu diberi ruang untuk memaknai dan menafsirkan kembali Pancasila sesuai tantangan zamannya.

Menurutnya, ideologi tidak boleh berhenti sebagai warisan masa lalu, melainkan harus terus dihidupkan melalui dialog dan pemikiran kritis.

“Ideologi bukanlah sejarah masa lalu. Ideologi harus dibuktikan melalui proses dialektika yang terus-menerus. Generasi muda adalah pemeran penting dalam proses itu,” ujarnya.

Ia menambahkan, peringatan Hari Lahir Pancasila tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Pancasila harus tetap menjadi diskursus yang hidup, terbuka terhadap berbagai perspektif, dan relevan dengan perubahan zaman.

Di penghujung sarasehan, para murid menyampaikan berbagai kegelisahan yang mereka hadapi, mulai dari melemahnya nilai rupiah, kerusakan lingkungan akibat deforestasi, hingga berbagai persoalan yang ramai diperbincangkan di media sosial.

Bagi Ganjar, beragam pertanyaan dan keresahan tersebut justru menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila masih hidup dalam kesadaran generasi muda. Sebab, Pancasila bukan hanya lima sila yang dihafal, melainkan pondasi yang membantu bangsa Indonesia tetap berdiri tegak menghadapi berbagai tantangan, baik di dunia nyata maupun dunia digital. (Harta Nining Wijaya/Prs)

 

 

 

 

BERITA TERKINI

PERADI SAI4
69 Korban Rugi Rp 15 Miliar, Posko Aduan Dugaan Investasi Bodong Ditutup 10 Juni
sampah2
Kader Adiwiyata SMAN 1 Sigaluh Gelar Kerja Bakti
ganjar
Dari Pondasi Bangsa hingga Dunia Digital, Gen Z Memaknai Ulang Pancasila
kaletus2
Mahasiswa USD Asal Asmat Dialog Langsung dengan Wapres
fkdm
FKDM Gumelar Perkuat Deteksi Dini dari Ancaman dan Ganguan