
Desa Purwareja Klampok, Kecamatan Klampok dikenal sebagai sentra keramik ternama Banjarnegara.
BANJARNEGARA, EDUKATOR— Keramik Klampok dan seni tradisi Ujungan resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTbI) tahun 2026 oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Penetapan ini menjadi pengakuan nasional atas kekayaan budaya Banjarnegara yang tumbuh dari tradisi masyarakat dan terus dilestarikan hingga saat ini.

Ujungan, sebuah tradisi untuk memohon turunnya hujan di musim kemarau. Seni ini bekembang di Desa Gumelem, Kecamatan Susukan, Banjarnegara.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara, Tursiman, S.Sos, menyampaikan rasa syukur atas penetapan dua karya budaya tersebut sebagai warisan budaya nasional.
“Alhamdulillah, dua usulan Banjarnegara, yakni Ritual Adat Ujungan pada domain adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan serta Keramik Klampok pada domain keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional, berhasil ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia,” ujarnya di Banjarnegara, Kamis (3/7/2026).
Keramik Klampok Tumbuh Sejak Awal Abad ke-20
Keramik Klampok yang berasal dari Kecamatan Purwareja Klampok, Banjarnegara, mulai berkembang sekitar tahun 1930-an. Awalnya, masyarakat memproduksi gerabah sederhana untuk kebutuhan rumah tangga seperti kendi dan peralatan dapur.
Seiring perkembangan waktu, keterampilan tersebut berkembang menjadi sentra industri kerajinan. Pada masa kolonial Belanda, teknik produksi mulai disempurnakan, kemudian berkembang pesat setelah kemerdekaan menjadi keramik seni bernilai ekonomi tinggi yang dikenal hingga pasar nasional dan ekspor.
Ujungan Tumbuh dari Tradisi Masyarakat Agraris
Tradisi Ujungan di Desa Gumelem, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, telah berkembang sejak masa masyarakat agraris tradisional Jawa, diperkirakan sudah ada sejak sebelum abad ke-20. Tradisi ini tumbuh sebagai warisan budaya lisan yang diwariskan turun-temurun.
Pada awalnya, Ujungan berfungsi sebagai ritual tolak bala dan permohonan hujan ketika musim kemarau panjang melanda. Masyarakat menjadikannya sebagai bentuk doa kolektif agar hujan segera turun demi keberlangsungan pertanian.
Seiring perkembangan zaman, tradisi ini kemudian berkembang menjadi festival budaya masyarakat saat musim kemarau.
Kolaborasi Pelestarian Budaya
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara, Kuat Herry Isnanto, SH., MH., menjelaskan bahwa tahun ini terdapat tiga usulan karya budaya yang diajukan, dengan dua di antaranya berhasil ditetapkan.
“Masukan dari tim ahli akan kami tindak lanjuti agar usulan yang belum lolos dapat diajukan kembali tahun depan,” jelasnya.
Dorong Pariwisata Berbasis Budaya
Penetapan ini diharapkan memperkuat upaya pelestarian budaya sekaligus mendorong pengembangan pariwisata berbasis budaya di Banjarnegara.
“Selain menjadi pengakuan identitas daerah, kami optimistis ini akan mendukung pariwisata berkelanjutan,” pungkas Kuat.
Dengan penetapan ini, Keramik Klampok yang tumbuh sejak awal abad ke-20 dan tradisi Ujungan yang berakar dari masyarakat agraris Banjarnegara, resmi menjadi bagian dari warisan budaya nasional yang terus dijaga keberlanjutannya oleh masyarakat.(Muji Prasetyo/Prs)