Indonesia Menghadapi Tiga Perang Sekaligus: Militer, Pangan, dan Ideologi

Bagikan :

Oleh: Mayjen TNI (Purn.) Fulad, S.Sos, M.Si
Penasihat Militer RI untuk PBB (2017–2019)

Pendahuluan
Dalam sejarah, sebuah negara jarang runtuh hanya karena kalah di medan perang. Jauh lebih banyak bangsa yang hancur karena tiga hal datang bersamaan: pertahanannya melemah, pangannya terganggu, dan ideologi bangsanya kehilangan arah. Ketika tiga pilar itu retak pada saat yang sama, keruntuhan tinggal menunggu waktu.

Inilah pelajaran terbesar yang sedang dipertontonkan dunia kepada kita pada tahun 2026.

Perang di Timur Tengah tidak lagi sekadar mempertemukan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Eskalasi yang meluas hingga kawasan Selat Hormuz telah mengubah konflik regional menjadi persoalan keamanan global. Jalur energi terganggu, rantai pasok dunia terguncang, harga pangan berpotensi meningkat, dan ketidakpastian ekonomi semakin besar.

Indonesia tidak boleh melihat semua itu sebagai tontonan yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Di era globalisasi, setiap ledakan di Timur Tengah dapat bergaung hingga ke sawah-sawah Indonesia, ke pelabuhan-pelabuhan nasional, bahkan ke ruang-ruang sosial tempat persatuan bangsa diuji.

Karena itu, sesungguhnya Indonesia sedang menghadapi tiga medan pertempuran sekaligus: medan militer, medan pangan, dan medan ideologi.

Medan Pertama: Militer
Perang modern telah berubah wajah. Tidak lagi hanya menghadapkan dua pasukan dalam garis depan yang jelas, tetapi menggabungkan rudal presisi, drone, satelit, kecerdasan buatan, perang siber, operasi informasi, hingga tekanan ekonomi.

Konflik Iran versus Israel–Amerika Serikat menunjukkan bahwa kemenangan tidak lagi ditentukan oleh jumlah personel, melainkan oleh kecepatan membaca situasi, kualitas teknologi, kemampuan intelijen, dan ketahanan logistik.

Bagi Indonesia, terdapat tiga pelajaran strategis.

Pertama, TNI harus terus bertransformasi menuju kekuatan yang adaptif terhadap peperangan multidomain.

Kedua, keamanan maritim harus menjadi prioritas nasional. Apa yang terjadi di Selat Hormuz mengingatkan bahwa jalur laut bukan sekadar ruang pelayaran, melainkan urat nadi ekonomi dunia. Selat Malaka, Selat Sunda, dan Alur Laut Kepulauan Indonesia merupakan aset strategis yang harus dijaga setiap saat.

Ketiga, diplomasi hanya akan dihormati apabila berdiri di atas kekuatan nasional yang kredibel. Politik luar negeri bebas aktif bukan berarti bebas dari kesiapsiagaan. Perdamaian justru lahir ketika sebuah negara memiliki kemampuan mempertahankan dirinya.

Medan Kedua: Pangan
Di sinilah banyak negara sering terlambat menyadari ancaman. Perang dapat dimulai oleh peluru, tetapi berakhir karena kelaparan.

Indonesia patut bersyukur karena pada pertengahan 2026 Cadangan Beras Pemerintah mencapai lebih dari lima juta ton, angka tertinggi dalam sejarah nasional. Delapan komoditas pangan telah mencapai swasembada, sementara anggaran ketahanan pangan terus meningkat. Prestasi ini layak diapresiasi.

Namun, keberhasilan hari ini tidak boleh berubah menjadi rasa puas yang berlebihan. Ketergantungan terhadap impor kedelai, bawang putih, dan daging sapi masih menjadi pekerjaan rumah yang serius. Di sisi lain, perubahan iklim, ancaman kekeringan, serta gangguan rantai pasok global akibat konflik internasional dapat mengikis ketahanan pangan dalam waktu singkat.

Dalam perspektif pertahanan negara, sawah sesungguhnya adalah benteng pertahanan pertama. Petani bukan sekadar produsen pangan, melainkan penjaga keberlangsungan negara. Negara yang tidak mampu memberi makan rakyatnya akan kehilangan daya tahan sebelum sempat memenangkan peperangan apa pun.

Medan Ketiga: Ideologi
Tidak ada bangsa yang dapat bertahan lama apabila masyarakatnya kehilangan kepercayaan terhadap nilai-nilai yang menyatukan mereka.

Indonesia memiliki modal besar berupa Pancasila, budaya gotong royong, dan organisasi-organisasi kemasyarakatan yang selama puluhan tahun menjadi perekat bangsa.

Dalam konteks itu, dinamika yang terjadi di tubuh Nahdlatul Ulama menjelang Muktamar 2026 patut disikapi secara arif. Perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam organisasi besar. Namun, seluruh proses harus tetap menjaga ukhuwah, kedewasaan, dan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok.

NU bukan sekadar organisasi keagamaan. Selama hampir satu abad, NU telah menjadi salah satu penyangga utama Islam moderat, nasionalisme, dan stabilitas sosial Indonesia.

Karena itu, siapa pun yang memimpin kelak memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar memenangkan kontestasi organisasi. Yang dipertaruhkan adalah kekuatan moral bangsa.

Ketiganya Tidak Dapat Dipisahkan
Militer, pangan, dan ideologi bukan tiga sektor yang berdiri sendiri.

Ketika perang mengganggu energi, harga pupuk naik.

Ketika pupuk naik, produksi pangan terganggu.

Ketika pangan terganggu, ekonomi rakyat melemah.

Ketika ekonomi melemah, ruang bagi polarisasi sosial semakin terbuka.

Dan ketika persatuan melemah, pertahanan nasional ikut melemah.

Sebaliknya, bangsa yang ideologinya kokoh akan lebih mudah menjaga stabilitas politik. Stabilitas menciptakan ruang bagi pembangunan pertanian. Ketahanan pangan memperkuat ekonomi. Ekonomi yang kuat menyediakan sumber daya bagi pertahanan negara. Pada akhirnya, seluruh kekuatan nasional saling menopang.

Inilah siklus ketahanan nasional yang tidak boleh dipahami secara parsial.

Green Leadership: Paradigma Kepemimpinan Masa Depan
Atas dasar itulah saya menawarkan kembali gagasan Green Leadership.

Green Leadership bukan sekadar berbicara tentang penghijauan lingkungan. Ia merupakan paradigma kepemimpinan yang memandang pertahanan, pangan, lingkungan, ekonomi, dan persatuan bangsa sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Pemimpin masa depan tidak cukup hanya membangun alutsista yang modern. Ia juga harus memastikan sawah tetap produktif, petani hidup sejahtera, lingkungan tetap lestari, dan masyarakat tetap bersatu.

Karena pada akhirnya, pertahanan yang paling kuat adalah ketika rakyat merasa aman, kenyang, dan percaya kepada negaranya.

Penutup
Abad ke-21 tidak hanya melahirkan perang yang lebih canggih, tetapi juga ancaman yang lebih kompleks.

Indonesia harus membangun kekuatan militernya tanpa melupakan sawah-sawahnya. Indonesia harus memperkuat diplomasinya tanpa mengabaikan persatuan bangsanya. Indonesia harus mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa meninggalkan ketahanan pangannya.

Bangsa yang mampu menjaga tiga medan pertempuran sekaligus—militer, pangan, dan ideologi—akan berdiri tegak menghadapi perubahan dunia.

Sebaliknya, bangsa yang mengabaikan salah satunya akan membuka jalan bagi lahirnya krisis yang lebih besar.

Karena pada akhirnya, peperangan terbesar yang sedang kita hadapi bukan semata-mata melawan negara lain, melainkan perlombaan menjaga keberlangsungan Republik Indonesia untuk generasi yang akan datang.(*)

Gombong, Juli 2026

 

 

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-07-08 at 18.10
Perwira Dojo Purbalingga Kenalkan Aikido untuk Melindungi Diri Tanpa Melukai Lawan
WhatsApp Image 2026-07-08 at 20.00
Pelatihan Metode CARANGAPAK Mudahkan Guru Ajarkan Aksara Jawa
FULAD6
Indonesia Menghadapi Tiga Perang Sekaligus: Militer, Pangan, dan Ideologi
WhatsApp Image 2026-07-08 at 16.26
Media Kredibel Jadi Kunci Bertahan di Era Digital
a35f518f-0173-49b6-be3c-e1db8eb903fa
Kepala Sekolah dan Guru Wajib Kuasai Perangkat Digital