
Perwira Dojo Purbalingga selalu berusaha mengenalkan Aikido, seni bela diri asal Jepang ke masyarakat. (Foto: Dok pribadi Akhmad Fauzi/EDUKATOR).
PURBALINGGA, EDUKATOR–Perwira Dojo Purbalingga (PDP) terus memperkenalkan Aikido, seni bela diri modern asal Jepang yang mengedepankan harmoni, pengendalian diri, dan efektivitas dalam melindungi diri tanpa melukai lawan. Aikido memiliki manfaat besar dalam kehidupan sehari-hari, terutama untuk menghadapi tindakan perundungan atau kekerasan fisik.
“Teknik kuncian, bantingan, dan pemanfaatan tenaga lawan memungkinkan seseorang melindungi diri tanpa harus memberikan serangan yang membahayakan,” ujar instruktur Perwira Dojo Purbalingga, Akhmad Fauzi (Dan 1) kepada EDUKATOR di Purbaingga, Rabu (8/7/2026).

Saat ini, Perwira Dojo Purbalingga berlatih rutin di Gedung ‘Aisyiyah Purbalingga, Jalan Ketuhu, setiap Jumat dan Minggu pukul 16.00 WIB. Dojo ini kini memiliki 20 anggota yang dibina langsung oleh dua pelatih bersertifikat.
Akhmad Fauzi bersama Sensei Didik Hermanto (Dan 3) menjadi pelatih utama dalam setiap sesi latihan. Saat ini, Sensei Didik Hermanto menjabat sebagai Ketua Perwira Dojo Purbalingga, sedangkan Akhmad Fauzi dipercaya sebagai sekretaris sekaligus instruktur.
Refleksi Waza (jurus) untuk menyamakan gerakan-gerakan Waza. (Foto: Dok pribadi Akhmad Fauzi/EDUKATOR)..
Aikido merupakan seni bela diri modern yang berkembang di Jepang sejak dekade 1920-an. Seni bela diri ini diciptakan oleh Morihei Ueshiba atau O-Sensei dengan memadukan berbagai teknik bela diri tradisional Jepang serta filosofi perdamaian dan harmoni.
Berbeda dengan bela diri yang berorientasi pada pertandingan, Aikido menitikberatkan pada penyelarasan tenaga lawan, pengendalian diri, serta penyelesaian konflik tanpa mengutamakan kekerasan.
“Aikido efektif untuk menghadapi pembulian fisik. Tekniknya tidak bertujuan melukai, tetapi mampu melumpuhkan apabila pelaku membahayakan keselamatan korban,” ujar Akhmad Fauzi yang juga guru SMP Negeri 2 Kutasari, Purbalingga.
Saat ini Perwira Dojo Purbalingga memiliki delapan anggota lama dan 12 anggota baru sehingga total berjumlah 20 orang. Sebagian besar anggotanya berasal dari kalangan dewasa, mulai dari ASN, praktisi pendidikan, hingga mahasiswa.
Akhmad Fauzi (Dan 1) paling kiri bersama para sensei senior. Latihan bersama Sensei Harry Makkel (kakak dari penyanyi Once Makkel) di dojo Unsoed.(Foto: Dok pribadi Akhmad Fauzi/EDUKATOR).
Latihan Berdasarkan Tingkatan Kemampuan
Fauzi menjelaskan, Aikido terbuka bagi berbagai kalangan dengan batas usia minimal 10 tahun. Tidak ada batas usia maksimal bagi masyarakat yang ingin mempelajari seni bela diri ini.
Pengelompokan peserta tidak didasarkan pada usia, melainkan pada tingkat kemampuan. Pembelajaran dimulai dari tingkat Kyu 10 sebagai pemula hingga Kyu 1, kemudian dilanjutkan ke jenjang sabuk hitam atau Dan, mulai dari Dan 1 (Shodan), Dan 2 (Nidan), dan seterusnya.
Sebagai pemegang sabuk hitam atau Yudansha, anggota juga mengikuti latihan bersama secara berkala, baik di tingkat lokal maupun nasional yang diselenggarakan di berbagai kota.
Menurut Fauzi, status Yudansha bukanlah akhir dari proses belajar. Sebaliknya, hal itu menjadi awal perjalanan untuk memperdalam teknik, mempertahankan semangat belajar sebagai pemula (Shoshin), mengembangkan karakter, serta memiliki tanggung jawab moral mengajarkan kembali ilmu Aikido kepada anggota lain di dojo.
Tidak Dipertandingkan, Menjunjung Filosofi Harmoni
Berbeda dengan cabang bela diri lainnya, Aikido tidak dipertandingkan dalam kompetisi. Seni bela diri asal Jepang ini hanya ditampilkan dalam bentuk demonstrasi atau ekshibisi karena teknik-tekniknya berpotensi membahayakan apabila diterapkan dalam pertandingan.
Menurut Fauzi, filosofi Aikido yang diwariskan pendirinya, Morihei Ueshiba, menekankan penyelarasan diri dengan energi serangan lawan untuk menetralisasi ancaman, bukan menghancurkan atau mengalahkan lawan.
Dalam latihan, peserta berpasangan sebagai uke (penyerang) dan tori atau nage (penerima serangan). Keduanya saling membantu menyempurnakan teknik, bukan saling mengalahkan.
Filosofi tersebut juga mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang lain, melainkan kemenangan atas diri sendiri dengan mengendalikan rasa takut, amarah, ego, dan keraguan.
Efektif Cegah Perundungan
Meski tidak berorientasi pada prestasi olahraga, Fauzi menilai Aikido memiliki manfaat besar dalam kehidupan sehari-hari, terutama untuk menghadapi tindakan perundungan atau kekerasan fisik.
Teknik kuncian, bantingan, dan pemanfaatan tenaga lawan memungkinkan seseorang melindungi diri tanpa harus memberikan serangan yang membahayakan.
Namun, menurut Fauzi, karena tidak dipertandingkan, minat kalangan pelajar masih relatif rendah. Sebagian besar siswa lebih memilih cabang bela diri yang memiliki jalur prestasi melalui kompetisi.
Alm.Sensei Tomo dan Sensei Harry bersama para murid pertama dojo Perwira. (Foto: Dok pribadi Akhmad Fauzi/EDUKATOR)..
Berawal dari Garasi Rumah di Purbalingga
Perjalanan Aikido di wilayah eks-Karesidenan Banyumas bermula dari Kabupaten Purbalingga sekitar tahun 2010. Cikal bakal perkembangannya dirintis oleh almarhum Sensei Priyotomo yang akrab disapa Sensei Tomo.
Latihan pertama berlangsung secara sederhana di garasi rumah Sensei Tomo di Jalan Lawet, Purbalingga. Saat itu hanya tiga orang yang rutin mengikuti latihan, yakni Didik Hermanto, Jojo, dan Sugeng.
Seiring waktu, anggota mulai bertambah dengan bergabungnya Juwanto, Toto Rusmanto, Juli, Efik, kemudian disusul Akhmad Fauzi dan Emeraldo (Edo). Meningkatnya jumlah peserta membuat dojo beberapa kali berpindah lokasi, mulai dari Kelurahan Purbalingga Kidul, kompleks Pendopo Kabupaten Purbalingga, hingga beberapa tempat latihan lainnya.
Tonggak penting perkembangan dojo terjadi pada 28 November 2010 ketika para anggota mengikuti ujian kenaikan tingkat (Kyu) pertama. Momentum tersebut menjadi awal pembinaan Aikido yang lebih terstruktur di Purbalingga.
Perjalanan dojo tidak selalu berjalan mulus. Ketika Sensei Tomo melanjutkan studi ke Semarang, aktivitas latihan sempat mengalami masa sulit. Banyak anggota berhenti berlatih karena kesibukan pekerjaan, pendidikan, maupun alasan kesehatan. Bahkan, dalam beberapa kesempatan latihan hanya diikuti dua hingga empat orang.
Meski demikian, semangat mempertahankan dojo tidak pernah surut. Didik Hermanto, Akhmad Fauzi, Emeraldo, dan Juwanto bersepakat melanjutkan perjuangan yang telah dirintis gurunya. Latihan pun berpindah-pindah dari pusat kebugaran, balai kelurahan, balai pertemuan, hingga akhirnya memperoleh tempat yang lebih permanen di Gedung ‘Aisyiyah Purbalingga.
Konsistensi latihan selama bertahun-tahun menjadi fondasi berkembangnya Aikido di Kabupaten Purbalingga. Kini pembinaan Perwira Dojo Purbalingga dipercayakan kepada Akhmad Fauzi (Dan 1) sebagai instruktur, dengan Sensei Didik Hermanto (Dan 3) sebagai pelatih utama.
Latihan bersama tiga dojo; Purbalingga, Purwokerto dan Brebes. (Foto: Dok pribadi Akhmad Fauzi/EDUKATOR).
Berkembang ke Purwokerto
Semangat memperluas pembinaan Aikido di Banyumas Raya melahirkan UNSOED Dojo Purwokerto pada 14 Desember 2014. Pada awal berdirinya, latihan dilaksanakan di fasilitas olahraga Universitas Jenderal Soedirman.
Karena keterbatasan penggunaan tempat, lokasi latihan beberapa kali berpindah. Berkat dukungan Rizky Februansah, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman sekaligus anggota dojo, sejak sekitar tahun 2017 kegiatan latihan dipusatkan di Aula Fakultas Ilmu Budaya Unsoed.
Foto bersama seluruh anggota di tiga dojo; Dojo Perwira, Dojo Unsoed dan Dojo Brebes. (Foto: Dok pribadi Akhmad Fauzi/EDUKATOR).
Hingga kini, dojo tersebut menjadi salah satu pusat pembinaan Aikido di Purwokerto dan terus melahirkan praktisi-praktisi baru sekaligus memperluas perkembangan Aikido di wilayah Banyumas Raya.
Edukasi Masyarakat Masih Menjadi Tantangan
Fauzi mengakui Aikido masih belum banyak dikenal masyarakat Purbalingga. Sebagian warga masih sering menyamakan Aikido dengan karate, judo, maupun kempo.
Meski demikian, di kalangan praktisi pendidikan, ASN, mahasiswa, maupun profesi yang bergerak di bidang keamanan, Aikido dipandang sebagai seni bela diri yang efektif karena mengajarkan teknik pengamanan tanpa kekerasan berlebihan.
Dengan filosofi kedamaian yang diusungnya, kehadiran Perwira Dojo Purbalingga diharapkan semakin memperkaya pilihan olahraga bela diri di Kota Perwira, sekaligus menjadi sarana membangun disiplin, pengendalian diri, dan kedewasaan mental bagi masyarakat. (Iko)