Sebelum Bicara, Belajarlah Mendengar

Bagikan :

Oleh: Akhmad Fauzi, S.S.,S.Pd., C.PIM
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari, Purbalingga

PERNAHKAH kita menyaksikan sebuah diskusi di televisi ketika semua narasumber ingin berbicara, tetapi hampir tidak ada yang benar-benar mendengarkan? Suara saling bertumpuk. Satu orang belum selesai menyampaikan gagasan, orang lain sudah memotong dengan pendapatnya. Tujuannya bukan lagi mencari pemahaman, melainkan memenangkan perdebatan.

Fenomena seperti itu sebenarnya bukan hanya terjadi di ruang publik. Tanpa disadari, budaya “ingin didengar” tetapi kurang “mau mendengar” mulai masuk ke lingkungan pendidikan.

Di ruang kelas, guru sering menghadapi situasi ketika siswa belum selesai menyimak instruksi, tetapi sudah bertanya. Belum memahami penjelasan, tetapi sudah ingin memberikan tanggapan. Bahkan, ada yang sibuk mempersiapkan jawaban sebelum benar-benar memahami pertanyaan.

Pertanyaannya kemudian sederhana: jika semua orang ingin berbicara, siapa yang bersedia mendengar? Padahal, kemampuan mendengar merupakan salah satu pintu utama seseorang memperoleh ilmu.

Ada sebuah pelajaran menarik dari momen awal kehidupan manusia. Dalam tradisi Islam, ketika seorang bayi lahir, salah satu hal yang dilakukan adalah memperdengarkan azan di telinganya. Sebuah pesan kebaikan menjadi suara pertama yang dikenalnya. Setelah itu, bayi juga diharapkan menangis. Tangisan tersebut menjadi tanda bahwa ia memiliki kehidupan, memiliki kekuatan, dan mulai berkomunikasi dengan dunia.

Dari peristiwa sederhana itu kita dapat mengambil makna bahwa manusia membutuhkan keseimbangan: mampu mendengar dan mampu menyuarakan diri. Mendengar bukan berarti pasif. Mendengar adalah proses memahami. Sementara itu, berbicara bukan sekadar mengeluarkan suara, tetapi menyampaikan sesuatu yang memiliki makna.

Sayangnya, dalam kehidupan modern, keseimbangan itu sering terganggu. Banyak orang berlomba menyampaikan pendapat, tetapi lupa memberi ruang bagi pendapat orang lain.

Kemampuan Menyimak
Dunia pendidikan selama ini banyak mendorong siswa agar aktif. Mereka dilatih untuk presentasi, berdiskusi, berargumentasi, dan berani menyampaikan pendapat. Hal tersebut tentu penting. Namun, ada satu kemampuan yang sering kurang mendapatkan perhatian, yaitu kemampuan menyimak secara mendalam. Padahal, seorang pembicara yang baik hampir selalu berawal dari seorang pendengar yang baik.

Anak yang mampu mendengar akan lebih mudah memahami sudut pandang orang lain. Ia belajar menghargai perbedaan, mengendalikan emosi, dan tidak terburu-buru memberikan penilaian.

Inilah bagian penting dari pendidikan karakter. Sebab, kecerdasan seseorang tidak hanya terlihat dari seberapa banyak ia mampu menjawab, tetapi juga dari seberapa baik ia mampu memahami.

Lalu, bagaimana sekolah dapat membangun budaya mendengar?

Pertama, guru dapat membiasakan jeda sebelum menjawab. Setelah seseorang berbicara, berikan waktu beberapa detik agar siswa benar-benar memproses informasi. Kebiasaan sederhana ini melatih siswa untuk berpikir sebelum bereaksi.

Kedua, terapkan kebiasaan mendengar untuk memahami, bukan mendengar untuk membalas. Dalam diskusi kelas, siswa dapat diminta mengulang inti pendapat temannya sebelum memberikan tanggapan. Misalnya, “Jadi, menurut Rina masalah utamanya adalah kurangnya waktu belajar, benar begitu?” Kalimat sederhana ini menunjukkan bahwa seseorang benar-benar menyimak.

Ketiga, guru dapat mengubah suasana diskusi dari sekadar mencari pemenang menjadi mencari pemahaman. Diskusi bukan arena untuk menunjukkan siapa yang paling pintar, tetapi ruang untuk mempertemukan berbagai cara berpikir.

Keempat, guru perlu menjadi contoh. Siswa belajar bukan hanya dari apa yang disampaikan guru, tetapi juga dari bagaimana guru memperlakukan mereka. Ketika guru mau mendengarkan pertanyaan siswa dengan sabar, siswa akan belajar bahwa setiap suara memiliki nilai.

Jangan Jadikan Kelas Arena Saling Mengalahkan
Kelas seharusnya bukan arena debat yang penuh persaingan ego. Kelas adalah tempat manusia belajar menjadi manusia. Di sana anak belajar bahwa berbicara membutuhkan keberanian, tetapi mendengar membutuhkan kebijaksanaan.

Anak yang selalu ingin berbicara mungkin sedang mencari pengakuan. Sebaliknya, anak yang diam belum tentu tidak memiliki gagasan. Bisa jadi, ia hanya membutuhkan ruang yang aman untuk menyampaikan pikirannya.

Karena itu, tugas pendidikan bukan hanya membuat anak pandai berbicara, tetapi juga mampu menghargai suara orang lain.

Pada akhirnya, masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang semua anggotanya ingin menjadi pusat perhatian, melainkan masyarakat yang mampu bergantian berbicara dan mendengar. Sebab, ilmu sering kali tidak datang dari suara yang paling keras, tetapi dari telinga yang paling siap menerima.

Sebelum mengajarkan anak untuk berbicara, mari kita ajarkan mereka terlebih dahulu untuk mendengar. (*)

 

BERITA TERKINI

itt1
Viral! Mahasiswa Prodi DKV Tel-U Purwokerto Sidang Skripsi Pakai Kostum Black Metal
FULADJULI2026
Menjelang 81 Tahun Indonesia Merdeka: Korupsi Elite, Musuh Strategis Republik
ChatGPT Image Jul 12, 2026, 09_44_44 PM
Turis Belgia Semarakkan Grebeg Sura Baturraden 2026
WhatsApp Image 2026-07-12 at 06.42
Penari Maryati Asal Banjarnegara Raih Anugerah Kebudayaan Jateng 2026
FAUZI PAKAIAN JAWA
Sebelum Bicara, Belajarlah Mendengar