Turis Belgia Semarakkan Grebeg Sura Baturraden 2026

Bagikan :

BANYUMAS, EDUKATOR–Ribuan warga dan wisatawan memadati kawasan Lokawisata Baturraden, Kabupaten Banyumas, mengikuti Grebeg Sura Baturraden 2026, Minggu (12/7/2026). Perayaan budaya tahunan itu berlangsung semakin semarak dengan kehadiran rombongan pelajar dan guru asal Belgia yang ikut menari Lengger Banyumasan.

Seusai prosesi adat, ribuan warga berebut gunungan hasil bumi yang menjadi simbol rasa syukur dan keberkahan. Rangkaian kegiatan tersebut semakin mengukuhkan Baturraden sebagai destinasi wisata budaya unggulan di Kabupaten Banyumas.

Kirab budaya diawali dari gerbang Wana Wisata Baturraden menuju kawasan lokawisata dengan membawa gunungan hasil bumi dan berbagai sesaji. Ribuan masyarakat memadati sepanjang jalur kirab untuk menyaksikan prosesi budaya yang telah menjadi agenda tahunan tersebut.

Turis Belgia Terpikat Pesona Lengger Banyumasan
Salah satu daya tarik Grebeg Sura tahun ini adalah penampilan sembilan pelajar dan tiga guru dari Sekolah Maricolen, Brugge, Belgia, yang mengenakan busana lengkap penari Lengger Banyumasan. Dengan gerakan yang luwes, mereka menari bersama para penari lokal dan mendapat sambutan meriah dari para pengunjung.

Koordinator Yayasan Tileng Belanda (Stichting Tileng) untuk Indonesia, Tekad Santoso, menjelaskan rombongan tersebut datang ke Banyumas bukan sekadar berwisata. Mereka merupakan relawan sosial yang setiap musim panas berkunjung ke Indonesia untuk membantu berbagai kegiatan kemasyarakatan sekaligus mempelajari budaya lokal.

Selama berada di Baturraden, mereka membantu pengecatan SD Negeri 2 Kemutug Lor. Di sela kegiatan tersebut, mereka diperkenalkan dengan kesenian Banyumas dan langsung antusias ketika diajak tampil dalam Grebeg Sura.

Meski harus menjalani proses rias sejak pukul 04.00 WIB dan menanggung sendiri biaya tata rias, semangat mereka tidak surut. Tanpa latihan yang panjang, para pelajar asal Belgia itu mampu membawakan Tari Lengger dengan penuh percaya diri.

Salah seorang peserta, Mieke, mengaku terpesona dengan kesenian Banyumas.

“Lengger memiliki energi dan kehangatan yang membuat kami ingin ikut menari,” ujarnya.

Momen tersebut juga mengundang kebanggaan warga. Leni, warga Banyumas yang menyaksikan pertunjukan, mengaku kagum melihat antusiasme para turis.

“Orang luar negeri saja mau belajar Tari Lengger. Masa orang kita tidak mau belajar,” katanya sambil tertawa.

Suasana semakin semarak ketika anggota DPR RI Siti Nurbadillah menerima sampur dari salah seorang penari asal Belgia dan ikut menari mengikuti irama khas Banyumas.

Larung Sesaji dan Rebutan Gunungan
Setelah kirab budaya, peserta mengikuti prosesi ziarah di petilasan bawah untuk memanjatkan doa sebagai ungkapan syukur sekaligus memohon keselamatan bagi masyarakat, petani, dan pelaku wisata.

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan larung sesaji di Sungai Gumiwang yang berada di dalam kawasan wisata. Setelah doa penutup dibacakan, ribuan warga langsung berebut gunungan hasil bumi yang dipercaya membawa berkah.

Salah seorang pengunjung asal Purwokerto, Vania Yuliastuti , mengaku baru pertama kali mengikuti Grebeg Sura Baturraden.

“Seru rebutan gunungannya. Saya dapat padi dan sayur. Ini pertama kali saya datang ke Grebeg Sura,” ujar Vania.

Budaya Dongkrak Pariwisata Banyumas
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Banyumas, Junaidi, mengatakan Grebeg Sura merupakan salah satu strategi pemerintah untuk meningkatkan kunjungan wisata sekaligus melestarikan budaya Banyumas.

“Seni budaya ini harus terus diuri-uri agar tetap hidup dan berkembang,” katanya.

Menurut Junaidi, gunungan hasil bumi yang diarak merupakan simbol rasa syukur masyarakat atas hasil panen sekaligus lambang kebersamaan seluruh desa di Kecamatan Baturraden.

“Harapannya masyarakat semakin guyub, rukun, dan bersama-sama mengembangkan pariwisata,” tambahnya.

Selain prosesi adat, festival juga menampilkan berbagai kesenian, seperti Tari Lengger Banyumasan dan Barongsai yang semakin menambah daya tarik wisata budaya Baturraden.

Libatkan 12 Desa dan Berbagai Komunitas
Ketua Panitia Grebeg Sura Baturraden, Beno Suyitno, mengatakan seluruh 12 desa di Kecamatan Baturraden terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Selain pemerintah desa, berbagai komunitas seperti komunitas offroad, PHRI, Pakemas, hingga komunitas perempuan berkebaya turut berpartisipasi memeriahkan acara.

“Setiap desa berlomba menampilkan kesenian terbaiknya. Inilah yang membuat Grebeg Sura tahun ini lebih semarak dibanding sebelumnya,” ujar Beno.

Menurutnya, kolaborasi seluruh elemen masyarakat menjadi kekuatan utama dalam menjaga nilai budaya sekaligus menjadikan Grebeg Sura sebagai agenda wisata budaya unggulan Banyumas.

Keikutsertaan para relawan asal Belgia menjadi bukti bahwa Tari Lengger Banyumasan tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat lokal, tetapi juga mampu menarik perhatian dunia.

Grebeg Sura Baturraden pun semakin menegaskan bahwa budaya yang dirawat dengan baik dapat menjadi magnet pariwisata sekaligus jembatan persahabatan lintas negara. (Prasetiyo)

 

 

 

BERITA TERKINI

itt1
Viral! Mahasiswa Prodi DKV Tel-U Purwokerto Sidang Skripsi Pakai Kostum Black Metal
FULADJULI2026
Menjelang 81 Tahun Indonesia Merdeka: Korupsi Elite, Musuh Strategis Republik
ChatGPT Image Jul 12, 2026, 09_44_44 PM
Turis Belgia Semarakkan Grebeg Sura Baturraden 2026
WhatsApp Image 2026-07-12 at 06.42
Penari Maryati Asal Banjarnegara Raih Anugerah Kebudayaan Jateng 2026
FAUZI PAKAIAN JAWA
Sebelum Bicara, Belajarlah Mendengar