Oleh: Akhmad Fauzi, S.S.,S.Pd., C.PIM
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari, Purbalingga
FENOMENA flexing atau kebiasaan memamerkan kekayaan, gaya hidup, maupun status sosial di media sosial telah menjadi tren yang semakin sering muncul. Berbagai konten tentang kendaraan mahal, rumah mewah, barang bermerek, hingga gaya hidup glamor menghiasi ruang digital setiap hari. Sebagian dilakukan sebagai bentuk ekspresi keberhasilan, tetapi tidak sedikit pula yang sekadar mengejar perhatian dan pengakuan dari orang lain.
Dalam dunia media sosial, pengakuan publik seolah menjadi kebutuhan baru. Jumlah komentar, tanda suka, dan respons positif sering kali dijadikan ukuran keberhasilan seseorang. Tidak mengherankan jika sebagian orang berlomba menunjukkan apa yang mereka miliki agar dianggap sukses. Persoalan muncul ketika flexing tidak lagi mencerminkan kenyataan.
Kemewahan Jadi Alat Membangun Citra Palsu
Kemewahan dijadikan alat membangun citra palsu, bahkan sekadar “prank” atau manipulasi agar orang lain percaya pada sesuatu yang tidak sebenarnya. Fenomena semacam ini berbahaya karena menggeser makna keberhasilan dari kualitas diri menjadi sekadar penampilan.
Padahal, ada bentuk flexing yang jauh lebih bermakna. Sebuah kebanggaan yang tidak perlu dibuat-buat, tidak membutuhkan kamera, dan tidak harus diumumkan kepada banyak orang. Itulah kebanggaan orang tua terhadap keberhasilan anaknya.
Bagi sebagian orang tua, keberhasilan terbesar bukanlah ketika mereka mampu membeli mobil mahal, memiliki rumah besar, atau mencapai jabatan tinggi. Semua itu boleh menjadi kebanggaan, tetapi sifatnya hanya sementara. Kebanggaan terbesar justru hadir ketika anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, berkualitas, dan memberi manfaat bagi orang lain.
Ketika seorang anak mampu berbicara dengan sopan, menghargai orang lain, memiliki rasa percaya diri, bertanggung jawab, serta mampu membawa dirinya dalam lingkungan sosial, sesungguhnya ia sedang menunjukkan keberhasilan pendidikan yang diberikan oleh keluarganya.
Siapa Orang tuanya? Bagaimana Mendidiknya?
Masyarakat sering kali tidak hanya melihat seorang anak, tetapi juga melihat “jejak tangan” orang tua di balik kepribadian anak tersebut. Ketika seorang anak datang ke lingkungan baru dengan sikap santun, mudah bergaul, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, dan menunjukkan kecerdasan berpikir, pertanyaan yang sering muncul adalah, “Siapa orang tuanya? Bagaimana cara mendidik anak seperti itu?”
Pada titik itulah anak menjadi bentuk flexing terbaik bagi orang tua. Bukan pamer dalam arti kesombongan, melainkan ungkapan rasa syukur karena proses panjang mendidik, mendampingi, dan mendoakan akhirnya menghasilkan buah yang baik. Anak bukanlah barang yang dipamerkan, melainkan amanah yang kualitasnya menjadi cermin keberhasilan orang tua.
Sering kali masyarakat hanya menganggap prestasi sebagai sesuatu yang besar, seperti menjadi juara, memperoleh penghargaan, mendapatkan nilai tinggi, atau mencapai posisi tertentu. Padahal, bagi orang tua, keberhasilan anak tidak selalu harus berupa pencapaian luar biasa.
Anak yang mulai disiplin belajar, berani berbicara di depan kelas, mampu meminta maaf ketika salah, membantu orang lain, atau menunjukkan perubahan perilaku yang lebih baik, semuanya merupakan prestasi yang membanggakan. Setiap perkembangan positif anak adalah hadiah yang tak ternilai bagi orang tua.
Anak yang Membanggakan
Ada orang tua yang mungkin tidak memiliki kesempatan untuk memamerkan kendaraan mewah atau rumah megah. Namun, mereka memiliki kebanggaan yang jauh lebih bernilai ketika mendengar anaknya berbicara dengan sopan, dihargai oleh lingkungan, dan mampu berdiri dengan karakter yang kuat. Inilah flexing yang sehat. Yakni kebanggaan yang lahir bukan dari ego, melainkan dari rasa syukur.
Jika keluarga merupakan tempat pertama pembentukan karakter, maka sekolah memiliki peran strategis untuk memperkuatnya. Guru bukan hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk nilai dan karakter murid. Pertanyaannya, bagaimana guru dapat membantu anak agar mampu membahagiakan orang tuanya?
Pertama, guru perlu membangun budaya disiplin positif. Disiplin bukan sekadar memberikan hukuman ketika murid melakukan kesalahan, tetapi membantu mereka memahami tanggung jawab dan konsekuensi dari setiap tindakan. Anak yang terbiasa bertanggung jawab sejak di sekolah akan tumbuh menjadi pribadi yang dapat dipercaya.
Kedua, guru perlu menghargai setiap bentuk keberhasilan murid. Tidak semua anak memiliki kemampuan akademik yang sama. Ada yang unggul dalam olahraga, seni, kepemimpinan, kreativitas, maupun keterampilan sosial. Tugas guru bukan membandingkan anak, melainkan menemukan dan mengembangkan potensi terbaik setiap murid.
Ketiga, guru harus menjadi teladan dalam sikap. Anak lebih mudah belajar dari contoh daripada sekadar nasihat. Guru yang santun, disiplin, menghargai orang lain, dan memiliki integritas sedang memberikan pelajaran karakter yang paling kuat.
Keempat, sekolah perlu memperkuat kemampuan komunikasi dan pembawaan diri murid. Di era modern, kecerdasan akademik saja tidak lagi cukup. Anak juga membutuhkan kemampuan berbicara dengan baik, bekerja sama, menghormati perbedaan, serta membangun hubungan sosial yang sehat. Karakter inilah yang kelak membuat mereka dihargai oleh masyarakat.
Perlombaan Penampilan
Era digital sering membuat manusia terjebak dalam perlombaan penampilan. Banyak orang ingin terlihat berhasil sebelum benar-benar menjadi berhasil. Padahal, pendidikan mengajarkan bahwa keberhasilan sejati tidak diukur dari apa yang dimiliki seseorang, melainkan dari siapa dirinya.
Orang tua tidak hanya membutuhkan anak yang mampu menunjukkan prestasi di atas kertas, tetapi juga anak yang memiliki hati yang baik, karakter yang kuat, dan mampu membawa nama keluarga dengan terhormat.
Pada akhirnya, mobil bisa rusak, rumah bisa menua, jabatan bisa berakhir, dan popularitas bisa memudar. Namun, karakter baik seorang anak akan menjadi warisan yang terus dikenang sepanjang hidup.
Karena itu, flexing terbesar orang tua bukanlah ketika mereka menunjukkan apa yang dimiliki, melainkan ketika mereka melihat anaknya tumbuh menjadi manusia yang membanggakan. Anak yang berkualitas adalah “piala kehidupan” yang tidak membutuhkan etalase. Ia cukup terlihat dari sikapnya, tutur katanya, serta cara ia memperlakukan orang lain.
Di situlah keberhasilan pendidikan menemukan maknanya. Guru dan orang tua bukan sekadar mencetak anak yang pintar, tetapi membentuk manusia yang layak dibanggakan.(*)