
PURBALINGGA, EDUKATOR–Kabupaten Purbalingga dipercaya menjadi lokasi syuting film nasional. Film “Tamu Maghrib” karya sutradara Jay Sukmo menjalani proses pengambilan gambar di Desa Pelumutan, Kecamatan Kemangkon, selama enam hari (15-20/7/2026).
Pemerintah Kabupaten Purbalingga berharap produksi film tersebut mampu mengangkat potensi lokal, budaya Banyumas Raya, sekaligus menjadi ruang transfer pengetahuan bagi insan perfilman daerah. Dijadwalkan, film ini akan tayang di jaringan bioskop nasional pada akhir 2026 atau awal 2027.
Proses produksi film dibuka oleh Wakil Bupati Purbalingga, Dimas Prasetyahani, di Desa Pelumutan, Rabu (15/7/2026).
Dalam kesempatan itu, Dimas mengatakan kehadiran produksi film nasional di Purbalingga diharapkan dapat memperkenalkan potensi daerah sekaligus membuka peluang bagi talenta lokal untuk terlibat dalam industri perfilman.
“Kami berharap ada transfer pengetahuan dan teknologi produksi film kepada pelaku kreatif di daerah,” ujar Dimas.
Ia berharap proses syuting berjalan lancar hingga film yang melibatkan talenta lokal tersebut sukses saat ditayangkan di bioskop.
Berawal dari Film Pendek Viral
Film “Tamu Maghrib” diproduksi oleh JSF Creative Studio dan merupakan adaptasi dari film pendek berjudul sama yang viral di YouTube pada 2023. Film pendek tersebut memperoleh lebih dari 1,4 juta penonton sehingga dinilai layak dikembangkan menjadi film layar lebar.
Cerita film ini terinspirasi dari kisah nyata mengenai seseorang yang dilaporkan hilang saat waktu magrib di wilayah Banyumas beberapa tahun lalu. Dari kisah tersebut lahir sebuah cerita yang dikemas dalam genre thriller psikologis, bukan sekadar film horor.
Film ini dibintangi Masayu Anastasia dan Asri Welas, mengisahkan perjuangan seorang ibu menghadapi ketakutan, tekanan psikologis, serta ketidakadilan yang membayangi keluarganya dengan latar budaya Banyumas Raya pada era 1990-an.
Jay Sukmo Dipercaya Menyutradarai
Film layar lebar ini disutradarai Jay Sukmo, sineas yang telah menggarap sejumlah film nasional, di antaranya Catatan Akhir Kuliah (2015), The Chocolate Chance (2016), Love Reborn: Komik, Musik & Kisah Masa Lalu (2018), Jendela Seribu Sungai (2023), dan Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku? (2026).
Produser memilih Jay Sukmo karena dinilai mampu mengembangkan film pendek menjadi film panjang dengan alur cerita dan pendalaman karakter yang lebih kuat.
Pelumutan Dinilai Paling Sesuai
Produser “Tamu Maghrib”, Anggit Danurendra, mengatakan Desa Pelumutan dipilih sebagai lokasi syuting karena masih memiliki rumah-rumah tradisional, suasana pedesaan yang autentik, serta dialek dan budaya masyarakat yang sesuai dengan kebutuhan skenario.
“Lokasinya masih autentik, begitu juga dialek dan budaya masyarakatnya sangat sesuai dengan skenario,” kata Anggit.
Ia menambahkan, Banyumas Raya, termasuk Purbalingga, masih jarang dijadikan latar film nasional. Karena itu, film ini diharapkan dapat memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat Indonesia.
Syuting Enam Hari, Tayang di Bioskop
Pengambilan gambar di Purbalingga berlangsung selama enam hari, mulai 15 Juli 2026 hingga diperkirakan selesai sekitar 20 Juli 2026. Hingga kini, rumah produksi belum mengumumkan jadwal rampung seluruh proses produksi secara nasional.
Setelah memasuki tahap pascaproduksi, “Tamu Maghrib” dijadwalkan tayang di jaringan bioskop nasional pada akhir 2026 atau awal 2027.
Kehadiran film ini diharapkan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga memperkenalkan potensi wisata, budaya, serta kearifan lokal Banyumas Raya kepada khalayak luas.
Di sisi lain, keterlibatan talenta lokal dalam proses produksi diharapkan mampu memperkuat ekosistem industri kreatif dan perfilman di Kabupaten Purbalingga.(Prasetiyo)