Empat Inovasi Hijau Ubah Wajah SDN 5 Pengadegan

Bagikan :

Saat istirahat tiba, murid-murid SDN 5 Pengadegan  bermain di Green Corner Permata  yang dirambati tanaman buah markisa.(Foto: Istimewa/EDUKATOR).

PURBALINGGA, EDUKATOR–Empat inovasi sederhana berbasis lingkungan yang dikembangkan SD Negeri 5 Pengadegan, Kecamatan PengadeGan, Purbalingga kini dirasakan manfaatnya oleh seluruh warga sekolah.

Empat inovasi yang dikembangkan sejak tahun ajaran 2024/2025 itu, terdiri Permata (Pergola Markisa Tanaman), Tikobuka (Tikar berbahan limbah bungkus kopi), Miralima (Minyak rambut lidah buaya paglima), dan Sirup Malima (Sirup markisa pilihan panglima). Berkat inovasi itu, lingkungan sekolah kini tampak hijau, segar sehingga nyaman untuk kegiatan pembelajaran.

“Keempat inovasi itu digagas oleh guru-guru  bersama murid Kelas 3 dan 4 sebagai implementasi Perilaku Ramah Lingkungan Hidup (PRLH) untuk mendukung Program Adiwiyata,” ujar Kepala SD Negeri 5 Pengadegan Musriah, S.Pd.SD., M.Pd kepada EDUKATOR di SDN 5 Pengadegan, Rabu (15/7/2026).

Musriyah mengatakan, pihaknya ingin membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari potensi yang ada di sekolah sendiri.

Sulap Lahan Sempit Menjadi Ruang Hijau
Melalui inovasi Permata, sekolah memanfaatkan lahan terbatas dengan membangun pergola, yaitu rangka penyangga tempat tanaman markisa merambat. Tanaman yang tumbuh secara vertikal itu membentuk Green Corner, ruang hijau yang dimanfaatkan murid dan guru untuk belajar, bermain, berdiskusi, maupun bersantai.

Keberadaan Green Corner tidak hanya mempercantik lingkungan sekolah, tetapi juga menciptakan suasana yang lebih teduh dan nyaman untuk kegiatan pembelajaran.

Limbah Kopi Disulap Menjadi Tikar
Inovasi Tikobuka lahir dari upaya mengurangi limbah bungkus kopi yang sulit terurai. Melalui teknik anyaman dan jahit sederhana, bungkus kopi bekas diubah menjadi tikar yang kuat sekaligus memiliki nilai estetika.

Murid SDN 5 Pengadegan menunjukkan tikar dari bahan limbah bungkus kopi. (Foto: Istimewa/EDUKATOR).

Murid Kelas IV terlibat dalam seluruh proses produksi sehingga memperoleh pengalaman tentang pengelolaan sampah, keterampilan kerajinan tangan, dan kewirausahaan. Tikar yang dihasilkan dimanfaatkan untuk kebutuhan sekolah maupun dipasarkan kepada masyarakat.

Produk Alami dari Kebun Sekolah
Selanjutnya tanaman lidah buaya yang tumbuh di lingkungan sekolah dimanfaatkan melalui inovasi Miralima, yaitu minyak rambut alami berbahan dasar lidah buaya. Minyak rambut ini memanfaatkan kandungan enzim serta vitamin A, C, dan E pada lidah buaya yang dipercaya membantu menjaga kesehatan rambut.

Miralima, minyak rambut alami berbahan dasar tanaman lidah buaya. (Foto: Istimewa/EDUKATOR). 

Murid berperan aktif mulai dari pengolahan bahan, pengemasan, hingga pemasaran kepada warga sekolah dan masyarakat sekitar.

Sementara itu, buah markisa hasil budidaya sekolah diolah menjadi Sirup Malima. Murid Kelas 3 dilibatkan sejak proses panen, pengolahan, hingga pengemasan sebagai bagian dari pembelajaran berbasis proyek.

Selain kaya vitamin C, serat, dan antioksidan, produk ini juga dipasarkan kepada warga sekolah dan masyarakat sekitar sehingga membuka peluang usaha bagi sekolah.

Sirup Malima, berbahan buah markisa, sebuah  inovasi yang dikembangkan  SDN 5 Pengdegan. (Foto: Istimewa/EDUKATOR).

Bukti Nyata Semangat Adiwiyata
Keempat inovasi tersebut membuktikan bahwa Program Adiwiyata tidak harus dimulai dengan fasilitas yang besar. Berbekal kreativitas guru dan murid, lahan sempit, tanaman di lingkungan sekolah, serta limbah sehari-hari berhasil diubah menjadi ruang hijau, produk daur ulang, dan hasil olahan yang memberi nilai edukatif, ekologis, sekaligus ekonomis.

Melalui kolaborasi guru dan murid, SD Negeri 5 Pengadegan menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu lahir dari program berskala besar, melainkan dapat tumbuh dari kreativitas yang dikembangkan di halaman sekolah sendiri. (Prasetiyo)

 

 

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-09-04 at 20.11
Khidmat, Penyambutan ETK Kwarda Jateng di Perbatasan Kebumen-Banjarnegara
TOP_9204
75 UMKM dan 29 Pesantren Ramaikan SELARAS 2026
536188746_1207451184483089_6673379772962767251_n
Dosen DKV UMP Tegar Roli Anugrafianto: AI Ubah Wajah Media, Etika Jadi Taruhannya
FULAD6
Istana di Jakarta, Komando di Solo? Ketika Pengaruh Politik Mulai Membentuk Pusat Gravitasi Kekuasaan
FAUZI MERAH
Belajar dari Fenomena “Hardship Camp” dan Menemukan Kembali Makna Pendidikan Karakter