
Oleh: Akhmad Fauzi, S.S.,S.Pd., C.PIM
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari, Purbalingga
SUATU pagi, saat pembelajaran baru saja dimulai, seorang murid mengangkat tangan. Saya mengira ia hendak bertanya tentang materi pelajaran. Ternyata bukan. Dengan raut wajah yang ragu namun jujur, ia berkata, “Pak, suaranya kurang keras. Teman-teman yang duduk di belakang sering tidak mendengar.” Seorang kakak kelas yang pernah saya ajar kebetulan berada di ruangan itu. Ia tersenyum lalu menambahkan, “Memang dari dulu begitu, Pak.”
Saya terdiam sejenak. Kalimat itu sebenarnya bisa saja melukai perasaan. Sebagai guru, tentu ada keinginan untuk membela diri. Namun setelah dipikirkan, saya justru mengucapkan terima kasih. Sejak hari itu saya mengubah kebiasaan mengajar. Saya tidak lagi terpaku di depan kelas ketika menjelaskan materi. Saya lebih sering berkeliling agar suara dan perhatian dapat menjangkau seluruh murid.
Peristiwa sederhana itu menyadarkan saya bahwa kritik yang disampaikan secara langsung, santun, dan bertujuan memperbaiki merupakan hadiah yang sangat berharga. Tanpa keberanian murid tersebut, mungkin saya tidak pernah menyadari kekurangan yang selama ini luput dari perhatian.
Keluhan Berubah Menjadi Gunjingan
Sayangnya, keberanian seperti itu belum menjadi budaya di banyak sekolah. Yang lebih sering terjadi justru sebaliknya. Ketidakpuasan tidak disampaikan kepada orang yang bersangkutan, melainkan dibisikkan kepada orang lain. Keluhan berubah menjadi gunjingan. Kritik berubah menjadi gosip. Percakapan yang seharusnya melahirkan solusi justru menghasilkan prasangka dan jarak antarsesama.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di kalangan murid. Orang dewasa pun kerap terjebak dalam pola yang sama. Di ruang guru, misalnya, pembicaraan mengenai rekan kerja terkadang lebih ramai daripada pembahasan mengenai strategi pembelajaran. Ada guru yang memberi label kepada murid sebagai “malas”, “nakal”, atau “tidak punya masa depan”.
Ada pula komentar tentang rekan sejawat yang dianggap mencari muka, kurang kompeten, atau enggan bekerja sama. Sebagian besar pembicaraan itu berhenti sebagai cerita, bukan sebagai jalan keluar. Padahal, sekolah adalah tempat pendidikan karakter. Ironis apabila lembaga yang mengajarkan kejujuran, tanggung jawab, dan saling menghormati justru memelihara budaya berbicara di belakang.
Dalam bukunya Melampaui Keserakahan Seekor Nyamuk, Dadang Kadarusman menyampaikan metafora yang sangat menggelitik melalui kisah “Gajah dan Semut”.
Bayangkan seekor gajah menempel tepat di pelupuk mata kita. Tentu pandangan akan tertutup sepenuhnya. Anehnya, meskipun “gajah” yang melambangkan kelemahan diri sendiri begitu besar, kita masih merasa mampu melihat “semut” yang melambangkan kesalahan orang lain dari kejauhan.
Perumpamaan tersebut menggambarkan kecenderungan manusia untuk lebih mudah menemukan kekurangan orang lain daripada mengakui kelemahan dirinya sendiri. Kita begitu teliti mencari kesalahan rekan kerja, tetapi sering lupa mengevaluasi cara kita berbicara, mengajar, memimpin, ataupun mendengarkan.
Di lingkungan sekolah, “gajah” itu bisa berupa ego, rasa paling benar, kelelahan emosional, atau keengganan menerima masukan. Sebaliknya, “semut” muncul dalam bentuk kesalahan kecil murid, keterlambatan rekan guru, atau perbedaan cara mengajar yang sebenarnya masih berada dalam koridor profesional.
Melampiaskan Frustrasi
Psikologi modern menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan melakukan projection, yakni memproyeksikan ketidaknyamanan dalam dirinya kepada orang lain. Tidak sedikit kritik yang sebenarnya lahir bukan karena ingin memperbaiki keadaan, melainkan karena dorongan untuk melampiaskan frustrasi. Akibatnya, gunjingan menjadi cara yang dianggap paling mudah untuk memperoleh rasa lega, meskipun hanya sesaat.
Yang lebih mengkhawatirkan, budaya gunjing sangat mudah ditiru oleh murid. Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan guru, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari. Jika guru terbiasa membicarakan orang lain di belakang, murid akan menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang wajar.
Mereka akan melakukan hal yang sama kepada guru, teman sekelas, bahkan keluarganya.
Sebaliknya, ketika guru memberikan teladan menyampaikan kritik secara langsung dengan bahasa yang santun, murid akan belajar bahwa keberanian bukanlah berbicara di belakang seseorang, melainkan berdialog secara jujur dan penuh penghormatan.
Perbedaan antara kritik dan gunjing sebenarnya sangat jelas. Kritik berangkat dari kepedulian. Tujuannya memperbaiki keadaan. Kritik disampaikan kepada orang yang tepat dengan bahasa yang menghargai martabat penerimanya. Sebaliknya, gunjing lebih berorientasi pada pelampiasan emosi. Fokusnya bukan lagi masalah yang harus diselesaikan, melainkan pribadi yang harus dipersalahkan.
Karena itu, sekolah perlu membangun budaya umpan balik (feedback culture). Budaya ini dimulai dari hal-hal sederhana. Guru dapat membiasakan bertanya kepada murid di akhir pembelajaran, “Apa yang sudah baik dari pembelajaran hari ini?
Apa yang perlu saya perbaiki pada pertemuan berikutnya?” Pertanyaan sederhana tersebut mengajarkan bahwa guru pun adalah pembelajar yang tidak anti terhadap kritik.
Pengalaman saya menunjukkan bahwa pada awalnya murid cenderung diam. Mereka takut jika kejujurannya dianggap sebagai bentuk pembangkangan. Namun setelah beberapa kali saya mengucapkan terima kasih atas setiap masukan yang mereka berikan, suasana berubah. Mereka mulai berani menyampaikan pendapat dengan sopan. Kritik tidak lagi dipandang sebagai ancaman, tetapi sebagai bentuk kepedulian.
Supervisi Bukan Ajang Mencari Kesalahan
Budaya yang sama juga perlu tumbuh di antara para guru. Supervisi akademik hendaknya menjadi ruang dialog profesional, bukan ajang mencari kesalahan.
Diskusi di ruang guru seharusnya lebih banyak membicarakan solusi pembelajaran daripada memperbincangkan kelemahan pribadi rekan kerja. Kepala sekolah pun perlu menjadi teladan dalam menerima kritik dan menghindari komentar yang menjatuhkan bawahan.
Amy Edmondson menyebut kondisi ini sebagai psychological safety, yaitu suasana ketika seseorang merasa aman untuk mengemukakan pendapat tanpa takut dipermalukan atau dihukum. Sekolah yang memiliki rasa aman seperti ini akan lebih mudah berkembang karena setiap warga sekolah merasa dihargai, didengarkan, dan diberi kesempatan untuk bertumbuh.
Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya soal menyampaikan materi pelajaran. Pendidikan adalah proses membentuk karakter melalui keteladanan. Guru bukan manusia sempurna.
Murid pun demikian. Kita semua memiliki “retakan” sebagaimana pepatah mengatakan, tak ada gading yang tak retak. Namun retakan itu tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menyalahkan. Justru dari sanalah kita belajar memperbaiki diri.
Saya bersyukur pernah dikritik oleh seorang murid mengenai suara saya yang kurang terdengar. Kritik itu tidak membuat saya menjadi guru yang lebih rendah.
Sebaliknya, kritik tersebut membantu saya menjadi guru yang lebih baik. Seandainya murid itu memilih membicarakan kekurangan saya kepada teman-temannya tanpa pernah menyampaikannya kepada saya, mungkin sampai hari ini saya tetap mengulangi kesalahan yang sama.
Guru Hebat adalah Guru yang Berani Mengakui Kekeliruannya
Inilah pelajaran yang sesungguhnya ingin kita wariskan kepada generasi muda. Sekolah yang hebat bukanlah sekolah yang bebas dari kritik, melainkan sekolah yang mampu mengubah setiap kritik menjadi energi untuk bertumbuh.
Guru yang hebat bukanlah guru yang tidak pernah salah, tetapi guru yang berani mengakui kekeliruannya dan menjadikannya sebagai bahan pembelajaran.
Mari kita mulai dari diri sendiri. Sebelum sibuk mencari “semut” di mata orang lain, beranilah melihat “gajah” di pelupuk mata kita sendiri. Sebelum menyampaikan gunjingan kepada orang ketiga, beranilah berdialog dengan orang yang bersangkutan.
Sebab, perubahan besar dalam dunia pendidikan sering kali dimulai dari keberanian melakukan refleksi yang sederhana.
Ketika budaya gunjing berubah menjadi budaya memberi umpan balik, sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga menjadi ruang bertumbuh bagi setiap insan di dalamnya. Bukankah itulah hakikat pendidikan yang sesungguhnya? (*)