Mendidik Anak, Menggapai Surga Bersama

Bagikan :

Oleh: Akhmad Fauzi, S.S.,S.Pd., C.PIM
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari, Purbalingga

SETIAP orang tua tentu memiliki harapan yang sama: melihat anaknya tumbuh sehat, berprestasi, dan bahagia. Namun, di balik harapan itu, ada cita-cita yang jauh lebih besar, yakni memiliki anak yang saleh dan salehah. Anak yang tidak hanya membanggakan ketika orang tuanya masih hidup, tetapi juga tetap menghadiahkan doa, amal, dan syafaat ketika mereka telah tiada.

Rasulullah SAW bersabda bahwa ketika seseorang meninggal dunia, seluruh amalnya terputus kecuali tiga perkara, salah satunya adalah doa anak yang saleh. Hadis ini mengingatkan bahwa pendidikan anak sesungguhnya bukan proyek jangka pendek, melainkan investasi yang manfaatnya terus mengalir hingga kehidupan akhirat.

Banyak Murid yang Belum Lancar Membaca Al-Qur’an
Sayangnya, harapan besar itu sering kali belum diikuti dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh. Di banyak sekolah masih dijumpai murid yang belum lancar membaca Al-Qur’an.

Sebagian masih terbata-bata mengenal huruf hijaiyah, sementara hafalan surat-surat pendek yang seharusnya menjadi bekal dasar ibadah pun belum dikuasai dengan baik. Kondisi ini tentu tidak layak dipandang sebagai kekurangan anak semata, melainkan menjadi cermin bagi kita semua: sekolah, orang tua, dan masyarakat.

Anak hanya berada beberapa jam di sekolah setiap hari. Selebihnya, mereka hidup bersama keluarga. Karena itu, pendidikan agama tidak mungkin diserahkan sepenuhnya kepada guru. Orang tualah pendidik pertama sekaligus teladan utama. Apa yang dilakukan ayah dan ibu di rumah jauh lebih mudah ditiru daripada apa yang hanya didengar anak di ruang kelas.

Inilah mengapa komunikasi antara sekolah dan orang tua menjadi sangat penting. Pendidikan akan berjalan lebih kuat ketika keduanya memiliki tujuan yang sama. Sekolah mengajarkan, orang tua membiasakan. Guru membimbing, keluarga menguatkan. Ketika keduanya berjalan beriringan, anak akan memperoleh lingkungan yang konsisten untuk bertumbuh menjadi pribadi yang saleh.

Tema Serumah, Sesurga sesungguhnya mengandung makna yang sangat mendalam. Hidup bersama di bawah satu atap adalah nikmat yang sementara. Namun, setiap keluarga tentu berharap kebersamaan itu tidak berhenti ketika kematian memisahkan. Allah SWT memberikan kabar gembira dalam Surah At-Thur ayat 21 bahwa orang-orang beriman akan dipertemukan kembali dengan keturunannya yang mengikuti mereka dalam keimanan.

Ayat tersebut mengajarkan bahwa berkumpul kembali di surga bukanlah sesuatu yang terjadi dengan sendirinya. Ada syarat yang harus diperjuangkan, yaitu iman, amal saleh, dan pendidikan yang terus ditanamkan sejak anak masih kecil. Surga adalah cita-cita keluarga yang harus diusahakan bersama.

Membiasakan Anak Akrab dengan Al-Qur’an
Salah satu jalan menuju cita-cita itu adalah membiasakan anak akrab dengan Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an bukan sekadar memenuhi target pelajaran agama, tetapi menjadi bekal kehidupan. Hafalan Al-Qur’an pun bukan hanya kebanggaan ketika anak tampil di depan umum.

Dalam banyak hadis dijelaskan bahwa para penghafal Al-Qur’an akan memperoleh kemuliaan di sisi Allah. Bahkan, kedua orang tuanya akan diberikan mahkota kemuliaan sebagai bentuk penghormatan atas usaha mereka mendidik anak mencintai kitab suci.

Gambaran ini bukan untuk mengejar kemuliaan semata, melainkan menjadi motivasi agar keluarga menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Karena itu, ikhtiar membimbing anak membaca dan menghafal Al-Qur’an seharusnya tidak menunggu mereka dewasa. Biasakan membaca bersama setelah salat Magrib, mendengarkan murajaah hafalan, memberi teladan dengan ikut membaca Al-Qur’an, serta menghadirkan suasana rumah yang dekat dengan nilai-nilai keislaman.

Jika orang tua memiliki keterbatasan waktu atau kemampuan, mereka dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan Al-Qur’an atau Rumah Qur’an yang terpercaya. Yang terpenting, orang tua tetap hadir sebagai penyemangat, pendamping, dan pengawas perkembangan anak.

Pentingnya Parenting
Di sinilah program parenting memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar pertemuan rutin antara sekolah dan wali murid. Parenting adalah ruang untuk menyamakan visi, memperkuat komitmen, dan membangun komunikasi dua arah.

Melalui parenting, sekolah dapat menyampaikan perkembangan kemampuan membaca Al-Qur’an, hafalan, pembiasaan ibadah, maupun karakter murid. Sebaliknya, orang tua dapat menyampaikan kondisi anak di rumah sehingga solusi yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhannya.

Sayangnya, di banyak sekolah, program parenting masih dipandang sebagai kegiatan pelengkap. Kehadirannya sering kali hanya dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi administrasi atau pembagian hasil belajar.

Padahal, jika dirancang dengan baik, parenting dapat menjadi gerakan bersama yang mengubah budaya pendidikan keluarga. Orang tua tidak lagi menjadi penonton, melainkan menjadi mitra utama sekolah dalam membentuk generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.

Pendidikan sejatinya bukan hanya tentang menghasilkan anak-anak yang cerdas secara akademik. Lebih dari itu, pendidikan adalah ikhtiar melahirkan generasi yang mampu menjaga dirinya, membahagiakan orang tuanya ketika mereka masih hidup, dan tetap menghadiahkan doa serta amal jariah ketika mereka telah kembali kepada Allah SWT.

Mungkin hari ini kita masih bisa menggandeng tangan anak menuju sekolah. Namun, suatu saat nanti justru doa, amal, dan kesalehan anaklah yang akan “menggandeng” kita menuju rahmat Allah. Itulah mengapa mendidik anak menjadi saleh bukan sekadar memenuhi kewajiban sebagai orang tua, tetapi juga menjadi bekal perjalanan menuju kehidupan yang abadi.

Berkumpul Kembali di Surga
Keluarga yang bahagia bukan hanya keluarga yang mampu hidup rukun di dunia, melainkan keluarga yang bersama-sama menyiapkan bekal untuk berkumpul kembali di surga.

Cita-cita itu tidak lahir dari harapan semata, tetapi dari usaha yang terus-menerus: membiasakan anak mencintai Al-Qur’an, memperkuat akhlaknya, membangun budaya ibadah di rumah, dan menghadirkan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

Sekolah tidak mungkin berjalan sendiri. Orang tua pun tidak dapat memikul seluruh beban pendidikan tanpa dukungan lembaga pendidikan. Karena itu, parenting harus menjadi jembatan komunikasi yang hidup, bukan sekadar agenda seremonial.

Ketika sekolah dan keluarga saling mendengar, saling menguatkan, dan saling bertanggung jawab terhadap tumbuh kembang anak, pendidikan tidak hanya melahirkan generasi yang cerdas, tetapi juga generasi saleh yang menjadi penyejuk mata di dunia, penolong bagi orang tuanya di alam kubur, serta jalan untuk dipertemukan kembali dalam kebahagiaan yang kekal di surga.

Semoga setiap ikhtiar kecil yang kita lakukan hari ini menjadi langkah besar menuju keluarga yang benar-benar Serumah di Dunia, Sesurga di Akhirat.(*)

 

 

 

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-08-06 at 05.22
Murid SMPN 1 Maos Diajak Memahami Peran APBN
FULAD6
Jenderal Politik dan Hilangnya Panggilan Perang
FAUZI PAKAIAN JAWA
Mendidik Anak, Menggapai Surga Bersama
WhatsApp Image 2026-08-04 at 15.48
KWT Mardi Rahayu Kalialang - Unperba Ubah Sekam Jadi Arang Briket
FULAD6
Panglima Boneka