
Suasana Nyore Sandĕkala – Kenduren Budaya Dukuh Tjiboen 2026 di di Dusun Tjiboen, Desa Sunyalangu, Kecamatan Karanglewas, Banyumas, Sabtu (8/8/2026).
BANYUMAS, EDUKATOR–Senja di Dusun Tjiboen, Desa Sunyalangu, Kecamatan Karanglewas, Banyumas, Sabtu (8/8/2026), menjadi ruang perjumpaan lintas generasi untuk merawat tradisi sekaligus memperkuat jatidiri masyarakat.
Melalui Nyore Sandĕkala – Kenduren Budaya Dukuh Tjiboen 2026, budayawan, akademisi, seniman, pemerintah, mahasiswa, komunitas, media, dan warga berkumpul dalam rembug budaya bertema “Tradisi: Quo Vadis Pewarisan Nilai dan Orientasi Jatidiri?”
“Budaya bukan sekadar sesuatu yang kita warisi, tetapi sesuatu yang harus kita rawat, kita maknai, dan kita wariskan kepada generasi berikutnya,” kata Dr.Ir Nurul Hidayat, S.Pt, M.Kom, akademisi sekaligus Wakil Dekan III Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed).
Menurut pria yang akrab disapa Doktor Enha ini, pelestarian budaya perlu berjalan beriringan dengan pendidikan, perkembangan teknologi, dan keterlibatan generasi muda agar tradisi tetap hidup serta relevan di tengah perubahan zaman.
Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00–18.00 WIB itu tidak sekadar menghadirkan kenduren atau slametan sebagai tradisi masyarakat. Nyore Sandĕkala juga memadukannya dengan rembug budaya, twilight dinner, live art painting, permainan etnik flute Ancient Galuh, serta kidung macapat Babad Pasir Luhur.
Rembug Budaya Pertanyakan Masa Depan Tradisi
Rembug budaya menjadi salah satu agenda utama Nyore Sandĕkala 2026. Forum tersebut menjadi ruang refleksi mengenai bagaimana tradisi dapat terus diwariskan di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan perubahan pola kehidupan generasi muda.
Panelis yang hadir antara lain Rianto, Maestro Lengger Lanang Indonesia dan pegiat budaya internasional; Puji Irawan, tokoh Dukuh Tjiboen sekaligus pelestari Macapat Babad Pasir Luhur; Nisa Roiyasa, Founder Rumah Cibun; Bangkit Sasongko dari LPPSLH Banyumas; Bambang Widodo, Ketua Bidang Eksternal DKKB; Nasiroen Purwokartun Mandirancan; serta Era Prima Nugraha dari Sthanaluhur Indonesia.
Para panelis membahas bagaimana tradisi tidak hanya dipertahankan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga dapat menjadi sumber nilai, identitas, kreativitas, dan kekuatan masyarakat dalam menghadapi perubahan zaman.
Kehadiran akademisi turut memperluas perspektif diskusi, terutama mengenai hubungan antara pendidikan, teknologi, generasi muda, dan pelestarian kebudayaan. Tradisi diharapkan tidak berhenti sebagai simbol masa lalu, tetapi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat masa kini.
Kenduren Bertemu Seni dan Babad Pasir Luhur
Nuansa budaya semakin kuat melalui perpaduan berbagai ekspresi seni. Tradisi kenduren atau slametan hadir berdampingan dengan seni lengger, kidung macapat Babad Pasir Luhur, musik flute etnik Ancient Galuh, dan seni lukis.
Kidung Babad Pasir Luhur menjadi salah satu bagian penting karena membawa cerita dan nilai lokal ke ruang publik. Melalui macapat, warisan tutur dan sejarah lokal dapat terus dikenalkan kepada generasi berikutnya.
Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pelestarian tradisi tidak harus dilakukan secara kaku. Tradisi dapat dikemas melalui ruang perjumpaan yang terbuka, kreatif, dan melibatkan berbagai kelompok masyarakat.
Prasasti Tjiboen Teguhkan Komitmen
Salah satu bagian penting dalam Nyore Sandĕkala 2026 adalah hadirnya Prasasti Tjiboen. Prasasti tersebut menjadi simbol komitmen bersama untuk menjaga dan mengembangkan tradisi, alam, serta literasi ilmu pengetahuan dan teknologi di Kampung Tjiboen.
Dalam prasasti tersebut tertulis: “Dengan ini kami menyatakan komitmen kami untuk turut serta menjaga dan mengembangkan tradisi, alam, dan literasi iptek Kampung Cibun.”
Komitmen tersebut diperkuat dengan tanda tangan sejumlah tokoh.
Prasasti itu menegaskan bahwa pelestarian kebudayaan di Tjiboen tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Tradisi, lingkungan, dan literasi ilmu pengetahuan dan teknologi ditempatkan sebagai tiga unsur yang dapat berjalan bersama dalam membangun masyarakat.
Kolaborasi Lintas Komunitas
Nyore Sandĕkala 2026 juga menunjukkan kuatnya kolaborasi lintas komunitas. Kegiatan tersebut mempertemukan berbagai unsur, mulai dari budayawan, akademisi, seniman, pemerintah, mahasiswa, komunitas, media, hingga warga Tjiboen.
Sejumlah pihak turut memberikan dukungan, antara lain Abdul Kholik DPD RI , Rumah Cibun, Nisa Roiyasa, Sthanaluhur Indonesia, Nurul Hidayat, Rianto RDS, Tedjo Hidora Banyuwangi, Rahman Afandi dari LPPM UIN SAIZU, Bambang Dodit DKKB, Imam-Fery Disparbud Banjarnegara, Heri Yuliadi dari Dinas Pendidikan Banyumas, DLH Banyumas, Setya Ari Nugroho DPRD Jawa Tengah, dan Yanuar Arif DPR RI.
Kemudian Koco DPRD Banyumas, Nasirun Mandirancan, Bangkit Sasongko, Kecamatan Karanglewas, Vikri Bilfest, Suara Merdeka, Sri Wulandari dari Vihara Mertadireja, Pyolita Hartadi, Tohiron KUA Lumbir, Kristiono Hadi dari TUMATA Corp, Joni Jonte Karikatur, Alik Setyawan Bumiartyou, Rahman Kamarta Flute, dan Puji Irawan Cibun and Friends.
Selanjutnya dukungan datang dari Didin Toko Damai, Kusmiyati Cibun Cuisine, Wilson Sihombing Jakarta, Ngindana Aghis Zulfa Duta Literasi, Lis Pelukis, Iman Art Painting, Norika and Friends FIB Unsoed, Nafisa and Friends Anak Baik Indonesia, Aufa and Friends Universitas Brawijaya, Fajar Landscape Jakarta, Aris Ertene dan warga Tjiboen, FEIBC Indonesia, serta Pemerintah Desa Sunyalangu.
Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah, dunia pendidikan, seniman, komunitas, media, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam memastikan tradisi tetap hidup dan berkembang.
Dari Tjiboen untuk Indonesia
Nyore Sandĕkala 2026 bukan sekadar kegiatan budaya di tingkat dusun. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa desa dan komunitas lokal memiliki ruang penting dalam merawat keberagaman budaya Indonesia.
Tradisi kenduren, seni lengger, macapat, musik flute, seni lukis, hingga kekayaan cerita lokal seperti Babad Pasir Luhur menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Pesan yang digaungkan dari Tjiboen sederhana, tetapi penting: kemajuan tidak harus menghapus tradisi. Teknologi tidak harus menjauhkan manusia dari akar budayanya. Sebaliknya, teknologi dan tradisi dapat berjalan bersama untuk memperkuat jatidiri generasi masa depan.
Melalui Nyore Sandĕkala 2026, masyarakat Tjiboen menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari ruang yang dekat dengan kehidupan warga. Dari sebuah dusun, tradisi dirawat, nilai diwariskan, dan kebersamaan diperkuat.
Senja di Tjiboen akhirnya bukan sekadar pergantian waktu. Ia menjadi simbol perjumpaan antara manusia, tradisi, seni, alam, dan jatidiri. (Prasetiyo)