Oleh: Akhmad Fauzi, S.S.,S.Pd., C.PIM
Mantan Kepala Sekolah Swasta di Purbalingga
ADA satu pengalaman dalam perjalanan menjadi kepala sekolah yang barangkali tidak pernah benar-benar diajarkan dalam buku kepemimpinan: bagaimana menegur guru yang usianya lebih tua, pengalaman mengajarnya lebih panjang, bahkan mungkin lebih dahulu berada di sekolah daripada kita. Saya pernah berada pada posisi itu.
Hampir dua periode memimpin sebuah sekolah swasta membuat saya memahami bahwa menjadi kepala sekolah bukan sekadar menerima kewenangan untuk mengambil keputusan. Ada situasi ketika seorang kepala sekolah harus berhadapan dengan persoalan yang menyangkut guru senior. Di atas kertas, persoalannya mungkin sederhana: ada aturan yang tidak dijalankan, kedisiplinan yang perlu diperbaiki, atau tanggung jawab yang belum dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Namun, ketika orang yang harus diajak berbicara adalah guru yang jauh lebih senior, persoalannya tidak lagi sesederhana aturan dan pelanggaran. Ada rasa sungkan. Ada pertimbangan tentang hubungan profesional. Ada kekhawatiran bahwa teguran akan dianggap sebagai sikap tidak menghargai senioritas.
Pada saat yang sama, kepala sekolah juga menyadari bahwa membiarkan persoalan hanya karena seseorang lebih senior bukanlah pilihan yang sehat bagi sekolah. Di situlah kepemimpinan sesungguhnya diuji.
Menjadi kepala sekolah berarti memiliki kewenangan. Tetapi kewenangan tidak serta-merta membuat seseorang memiliki pengalaman lebih banyak daripada semua orang yang dipimpinnya. Seorang kepala sekolah baru bisa saja masih muda, sementara di hadapannya ada guru yang telah mengabdikan puluhan tahun untuk pendidikan.
Karena itu, menghadapi guru senior membutuhkan lebih dari sekadar keberanian memberi instruksi. Dibutuhkan kemampuan menempatkan diri.
Guru senior tidak harus selalu benar hanya karena lebih lama mengajar. Sebaliknya, kepala sekolah juga tidak otomatis selalu benar hanya karena memegang jabatan. Di antara keduanya diperlukan sesuatu yang lebih penting: saling menghargai dalam bingkai profesionalitas.
Saya belajar bahwa senioritas seharusnya dihormati, tetapi bukan dijadikan alasan untuk mengabaikan aturan. Sebaliknya, aturan harus ditegakkan, tetapi bukan dengan cara merendahkan pengalaman dan martabat seseorang. Inilah bagian yang tidak mudah.
Menegur Kesalahan, Bukan Merendahkan Orang
Ada perbedaan antara menegur kesalahan dan merendahkan orang yang melakukan kesalahan. Menegur berarti mengatakan, “Ada sesuatu yang perlu diperbaiki.” Merendahkan berarti membuat seseorang merasa, “Dirimu memang tidak baik.” Keduanya sangat berbeda.
Seorang guru yang terlambat masuk kelas, misalnya, tidak perlu diberi label sebagai guru yang tidak disiplin. Yang perlu dibicarakan adalah keterlambatannya.
Bahkan, jika keterlambatan terjadi berulang kali, pembicaraan tetap dapat diarahkan pada fakta dan tanggung jawab, bukan menyerang kepribadian.
Kalimat “Bapak/Ibu sudah beberapa kali terlambat masuk kelas, bagaimana kita mencari jalan keluarnya?” tentu berbeda dengan “Bapak/Ibu memang tidak disiplin.”
Kalimat pertama membuka ruang dialog. Kalimat kedua cenderung membuat seseorang bertahan dan membela diri.
Tujuan teguran bukan membuat orang kalah. Tujuannya adalah membuat sesuatu menjadi lebih baik.
Menjaga Martabat dalam Percakapan
Salah satu pelajaran penting yang saya dapatkan adalah bahwa tidak semua persoalan perlu diselesaikan di depan banyak orang.
Guru yang melakukan kesalahan tidak perlu dipanggil dan ditegur di hadapan guru lain, apalagi di depan siswa. Untuk persoalan pribadi, ada saatnya pintu ditutup dan percakapan dilakukan empat mata.
Bukan untuk menyembunyikan kesalahan, tetapi untuk menjaga martabat orang yang sedang diajak berbicara.
Dalam percakapan tertutup, guru juga memiliki kesempatan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Kepala sekolah pun harus bersedia mendengarkan.
Sebab, seorang kepala sekolah tidak mungkin mengetahui seluruh cerita yang terjadi di lapangan. Apa yang tampak sebagai ketidakdisiplinan mungkin memiliki latar belakang tertentu. Apa yang terlihat sebagai kelalaian mungkin membutuhkan klarifikasi.
Mendengarkan tentu tidak berarti membenarkan semua alasan. Mendengarkan adalah bentuk keadilan sebelum mengambil keputusan.
Wibawa Tumbuh dari Konsistensi
Bagi kepala sekolah yang baru mendapatkan amanah memimpin, ada godaan untuk segera menunjukkan bahwa dirinya memiliki kewenangan. Barangkali muncul keinginan agar guru segera memahami, “Sekarang saya kepala sekolah.”
Padahal, wibawa tidak harus dibangun dengan menunjukkan kekuasaan. Wibawa tumbuh perlahan dari konsistensi.
Guru akan menghormati kepala sekolah bukan semata-mata karena jabatan, melainkan karena kepala sekolah mampu bersikap adil, konsisten terhadap aturan, mau mendengar, dan tidak menggunakan kekuasaan untuk mempermalukan orang lain.
Terlebih ketika berhadapan dengan guru senior, kita tidak perlu menunjukkan bahwa kita lebih berkuasa. Yang perlu kita tunjukkan adalah bahwa kita mampu menjalankan amanah kepemimpinan dengan adil.
Karena itu, mungkin pendekatan yang lebih baik bukanlah, “Saya kepala sekolah, maka Bapak/Ibu harus mengikuti saya.” Melainkan, “Kita sama-sama bertanggung jawab menjaga sekolah ini agar berjalan lebih baik.”
Kalimatnya sederhana, tetapi nuansa kepemimpinannya berbeda.
Tegas pada Aturan, Lembut kepada Manusia
Ada kekhawatiran bahwa sikap manusiawi akan membuat kepala sekolah menjadi terlalu lunak. Menurut saya, tidak demikian.
Sekolah tetap membutuhkan aturan. Guru tetap harus menjalankan tugas. Kehadiran harus diperhatikan. Pembelajaran harus berlangsung. Administrasi harus diselesaikan.
Pelanggaran yang serius tentu harus ditangani sesuai ketentuan. Empati tidak boleh berubah menjadi pembiaran. Tetapi ketegasan juga tidak harus berubah menjadi kekerasan verbal.
Tegas pada aturan, lembut kepada manusia.
Mungkin kalimat sederhana ini dapat menjadi pegangan bagi seorang kepala sekolah. Sebab, yang kita hadapi bukan sekadar “pelanggar aturan”, tetapi manusia dewasa yang memiliki pengalaman, harga diri, dan perjalanan panjang sebagai pendidik.
Teguran Harus Membawa Perubahan
Ada satu pertanyaan yang menurut saya penting bagi setiap kepala sekolah setelah memberikan teguran: “Setelah saya menegur, apa yang menjadi lebih baik?”
Jika jawabannya hanya, “Guru itu sekarang diam,” mungkin kita perlu kembali merenung. Diam belum tentu sadar. Diam belum tentu menerima. Dan diam belum tentu berarti persoalan selesai.
Teguran yang baik seharusnya membawa seseorang menuju perbaikan. Karena itu, setelah menyampaikan persoalan, percakapan dapat dilanjutkan dengan pertanyaan: “Apa yang bisa kita lakukan supaya hal ini tidak terulang?” Atau: “Dukungan apa yang Bapak/Ibu perlukan?”
Dengan pertanyaan semacam itu, kepala sekolah tidak hanya hadir sebagai orang yang menunjukkan kesalahan, tetapi juga sebagai bagian dari proses mencari jalan keluar.
Memimpin Tanpa Merendahkan
Bagi kepala sekolah yang baru menerima amanah, terutama yang harus memimpin guru-guru yang lebih senior, barangkali ada satu hal yang perlu diyakini sejak awal: kita tidak harus menjadi orang yang paling berpengalaman untuk menjadi pemimpin yang dihormati.
Kita hanya perlu belajar menjadi pemimpin yang adil. Hormati guru senior tanpa takut menegakkan aturan. Dengarkan mereka tanpa kehilangan arah kepemimpinan.
Hargai pengalaman mereka tanpa membiarkan senioritas menjadi alasan untuk mengabaikan tanggung jawab. Dan ketika teguran memang harus disampaikan, sampaikanlah dengan cara yang menjaga martabat.
Sebab, kepala sekolah bukan sedang berusaha memenangkan pertengkaran dengan seorang guru. Kepala sekolah sedang menjaga agar seluruh warga sekolah dapat bekerja dalam budaya yang sehat.
Pada akhirnya, wibawa seorang kepala sekolah tidak dibangun dari seberapa keras ia menegur. Wibawa tumbuh dari konsistensi, keadilan, keberanian mengambil keputusan, kesediaan mendengarkan, dan kemampuan memperlakukan manusia dengan hormat.
Guru mungkin lupa kalimat apa yang pernah kita ucapkan. Tetapi mereka mungkin akan mengingat bagaimana kita membuat mereka merasa ketika sedang melakukan kesalahan.
Dan barangkali, itulah salah satu ujian terbesar seorang kepala sekolah: mampukah kita memperbaiki kesalahan tanpa membuat orang kehilangan harga dirinya?
Jika jawabannya ya, mungkin di situlah wibawa kepemimpinan mulai tumbuh. Bukan ketika guru menundukkan kepala karena takut. Melainkan ketika guru mampu mengangkat kepala, mengakui kekeliruan, memperbaikinya, dan tetap merasa dihargai sebagai manusia dan sebagai seorang pendidik.(*)