Puncak Panen Jadi Penyangga Pangan Banyumas Raya

Bagikan :

Kepala KPw BI Purwokerto Bapak Aswin Gantina. (Foto: Budi Yuswinanto/EDUKATOR).

PURWOKERTO, EDUKATOR–Puncak panen padi musim tanam kedua dinilai menjadi penyangga penting bagi ketahanan pangan Banyumas Raya di tengah potensi dampak El Nino dan musim kemarau. Kondisi lahan pertanian yang masih baik serta ketersediaan air di sejumlah wilayah membuat produksi pangan diperkirakan tetap terjaga.

Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Purwokerto, Aswin Gantina, dalam kegiatan Bincang BI Bersama Media (BBM) di Purwokerto, Senin (24/8/2026). Banyumas Raya yang menjadi cakupan wilayah kerja KPwBI Purwokerto meliputi Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara.

“Kami optimistis El Nino tidak berdampak signifikan.”
Menurut Aswin, kondisi pertanian di lapangan masih cukup mendukung. Hal itu terlihat dari banyaknya persawahan yang tetap hijau serta ketersediaan air di sejumlah sungai dan saluran irigasi.

Kondisi tersebut diharapkan mampu menjaga kesinambungan produksi pangan sekaligus mengurangi risiko tekanan harga akibat gangguan produksi selama musim kemarau.

Ekonomi Banyumas Raya Tumbuh 5,97 Persen
Kondisi sektor pertanian yang relatif baik turut menjadi bagian dari dinamika perekonomian Banyumas Raya. Berdasarkan data KPwBI Purwokerto, ekonomi kawasan tersebut pada triwulan I 2026 tumbuh 5,97 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi, konstruksi, serta aktivitas pertanian saat memasuki periode panen raya. Konsumsi masyarakat meningkat seiring kenaikan upah minimum, pencairan tunjangan hari raya, stimulus pemerintah, serta aktivitas ekonomi selama Ramadan dan Idulfitri.

Secara wilayah, pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 tercatat 6,35 persen di Cilacap, 5,32 persen di Banyumas, 6,57 persen di Purbalingga, dan 5,35 persen di Banjarnegara. Berdasarkan sektor, industri pengolahan menjadi kontributor terbesar dengan pangsa 39 persen, diikuti pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 14 persen.

Pasokan Panen Tekan Tekanan Harga
Dampak meningkatnya pasokan selama musim panen juga tercermin dalam perkembangan harga pada Juli 2026. Purwokerto dan Cilacap mencatat deflasi bulanan yang terutama dipengaruhi meningkatnya pasokan komoditas hortikultura dari daerah sentra produksi.

Purwokerto mengalami deflasi 0,05 persen secara bulanan, sementara inflasi tahunannya mencapai 2,66 persen. Di Cilacap, deflasi bulanan tercatat 0,06 persen, dengan inflasi tahunan sebesar 2,44 persen. Sasaran inflasi 2026 berada pada kisaran 2,5 persen plus-minus 1 persen.

Di Purwokerto, komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap deflasi antara lain bawang merah, cabai rawit, cabai merah, telur ayam ras, dan emas perhiasan. Sementara di Cilacap, penahannya meliputi bawang merah, cabai rawit, telur ayam ras, cabai merah, serta emas perhiasan.

BI Siapkan Mitigasi Hadapi Musim Kemarau
Meski kondisi pertanian masih mendukung, Bank Indonesia tetap menyiapkan langkah antisipasi apabila kemarau berlangsung lebih panjang atau dampak El Nino meningkat.

Strategi dari sisi hulu mencakup optimalisasi jaringan irigasi, pompanisasi, pengelolaan sumber air, serta penggunaan varietas tanaman yang lebih adaptif terhadap kondisi kering.

“Mitigasi dilakukan dari hulu hingga hilir,” katanya.

Pengembangan sentra pangan, optimalisasi lahan, pembinaan kelompok tani muda, dan penerapan digital farming juga didorong untuk meningkatkan produktivitas. Pendampingan kepada kelompok tani, petani muda, dan pesantren diperkuat untuk mengembangkan komoditas pangan strategis.

Kerja Sama Antardaerah Diperkuat
Selain menjaga produksi, kelancaran distribusi menjadi perhatian dalam menghadapi potensi gangguan pasokan. KPwBI Purwokerto mendorong optimalisasi kerja sama antardaerah melalui skema Government to Government (G2G) di Banyumas Raya serta memperluas kerja sama Business to Business (B2B).

Pada sisi hilir, Operasi Pasar (OP) dan Gerakan Pangan Murah (GPM) akan terus dilaksanakan. Penguatan jaringan distribusi melalui Toko Tani juga dilakukan untuk menjaga keterjangkauan harga komoditas pangan.

Pengawasan terhadap harga komoditas strategis sesuai ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) turut diperkuat. Pemantauan dampak perubahan biaya distribusi dan logistik terhadap harga di tingkat konsumen juga dilakukan secara berkelanjutan.

Upaya tersebut membutuhkan koordinasi lintas pemangku kepentingan. Sinergi kebijakan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus diperkuat melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Transaksi QRIS Capai Rp11,64 Triliun
Media Briefing juga memaparkan perkembangan sistem pembayaran digital di Banyumas Raya. Hingga Juli 2026, transaksi QRIS mencapai 153,94 juta transaksi dengan nilai Rp11,64 triliun.

Jumlah merchant QRIS tercatat sebanyak 639.643 merchant. Perluasan penggunaan QRIS dilakukan melalui edukasi dan aktivasi kepada berbagai kelompok masyarakat, termasuk komunitas perempuan, santri, Pramuka, peserta pasar murah, serta lebih dari 6.000 pelari dalam kegiatan yang mencatat rekor MURI.

BI Pertahankan BI-Rate 5,75 Persen
Dalam perkembangan kebijakan moneter, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen berdasarkan Rapat Dewan Gubernur pada 18–19 Agustus 2026.

Keputusan tersebut ditempuh untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah, menjaga inflasi 2026–2027 dalam sasaran 2,5 persen plus-minus 1 persen, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Bank Indonesia juga memperkuat kebijakan makroprudensial untuk mendorong peningkatan kredit dan pembiayaan sektor riil dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan. Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial Pendalaman Pasar Uang (KLM PPU) berlaku mulai 1 September 2026, sedangkan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) efektif 1 Oktober 2026.

Dengan momentum panen yang berlangsung, dukungan sumber daya air, serta langkah mitigasi yang disiapkan dari sisi produksi hingga distribusi, KPwBI Purwokerto berupaya menjaga ketahanan pangan dan stabilitas harga Banyumas Raya selama menghadapi musim kemarau dan potensi El Nino. (Budi Yuswinanto/Prs)

 

 

 

 

 

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-08-24 at 21.32
PMB PKN STAN Dibuka, Purbalingga Dapat Tiga Formasi Jalur Pembibitan
PRIYANTO AGUSTUS 2026
Maulid Nabi dan Pendidikan yang Memanusiakan
WhatsApp Image 2026-08-24 at 20.56
Puncak Panen Jadi Penyangga Pangan Banyumas Raya
FULAD6
Keberanian Tanpa Kejujuran Hanyalah Arogansi: Menata Ulang Indonesia Harus Dimulai dari Kejujuran
Prof ali
Prof. Dr. Ali Rokhman, M.Si. Jabat Plt Rektor Unsoed