Oleh: Priyanto, S.Pd.I, M.Pd.I
Kabid Pembinaan SMP Dindikbud Kabupaten Purbalingga
ADA pertanyaan sederhana yang semakin penting di tengah kemajuan teknologi: untuk apa manusia dididik?
Pertanyaan ini menemukan relevansinya ketika kita memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW pada 2026. Di tengah kecerdasan artifisial (AI), banjir informasi, dan perubahan dunia kerja yang berlangsung cepat, pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan bagaimana menggunakan teknologi. Kita perlu kembali bertanya: manusia seperti apa yang hendak kita lahirkan?
Sebab, manusia yang pintar belum tentu manusia yang bijaksana. Pengetahuan yang luas tidak otomatis melahirkan kejujuran. Kecanggihan teknologi tidak dengan sendirinya menghadirkan keadaban.
Seorang peserta didik kini dapat memperoleh jawaban dalam hitungan detik. AI dapat membantu menyusun tulisan, menerjemahkan bahasa, menganalisis informasi, bahkan menghasilkan berbagai gagasan. Namun, teknologi tidak selalu dapat menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: apakah sesuatu yang dapat dilakukan memang layak dilakukan?
AI dapat menemukan jawaban, tetapi manusia tetap harus menentukan apakah jawaban itu benar dan bertanggung jawab. Teknologi dapat membuat pekerjaan lebih cepat, tetapi tidak menentukan apakah pekerjaan tersebut bermanfaat bagi sesama.
Pendidikan Yang Memanusiakan
Di sinilah pendidikan memperoleh tugas yang lebih mendalam. Kita tidak hanya membutuhkan literasi digital, tetapi juga literasi moral: kemampuan memahami konsekuensi dari pilihan, membedakan yang benar dari yang salah, dan menggunakan pengetahuan untuk kemaslahatan. Dalam konteks inilah Maulid Nabi menjadi relevan dibaca sebagai refleksi pendidikan.
Rasulullah Muhammad SAW bukan hanya pembawa ajaran agama, melainkan juga pendidik manusia. Beliau mengubah masyarakat melalui keteladanan, dialog, kasih sayang, kesabaran, penghargaan terhadap martabat manusia, dan ketegasan terhadap nilai.
Pendidikan Nabi menunjukkan bahwa manusia tidak dibentuk hanya melalui transfer pengetahuan. Pengetahuan perlu menjelma menjadi sikap dan tindakan.
Pesan ini penting bagi sekolah. Kita memang membutuhkan ukuran keberhasilan berupa nilai, prestasi, capaian akademik, dan berbagai indikator lainnya. Namun manusia tidak pernah sepenuhnya dapat diringkas menjadi angka. Seorang anak lebih besar daripada nilai rapornya.
Ia memiliki rasa ingin tahu, kecemasan, bakat, keterbatasan, pengalaman, dan masa depan yang belum sepenuhnya terlihat. Ada anak yang unggul dalam matematika, ada yang kuat dalam bahasa, seni, olahraga, teknologi, kepemimpinan, atau kemampuan sosial. Ada pula yang potensinya belum muncul karena membutuhkan waktu dan lingkungan yang tepat.
Karena itu, pendidikan yang memanusiakan tidak menjadikan keseragaman sebagai ukuran keberhasilan. Nilai penting, tetapi harga diri anak tidak boleh ditentukan oleh nilai. Prestasi penting, tetapi peringkat bukan satu-satunya cara melihat keberhasilan. Kegagalan merupakan bagian dari proses belajar, bukan alasan untuk memberi label bahwa seorang anak tidak mampu.
Pendidikan Karakter Sebagai Budaya
Di sekolah, nilai-nilai kebaikan juga tidak cukup diajarkan sebagai konsep. Toleransi harus dialami dalam kehidupan bersama. Kejujuran harus menjadi budaya, bukan sekadar slogan. Gotong royong harus menjadi pengalaman, bukan hanya tema kegiatan. Dengan demikian, pendidikan karakter bukan ornamen tambahan. Ia adalah budaya yang seharusnya menjiwai seluruh proses pendidikan.
Maulid Nabi juga mengajak kita melihat kembali hubungan antara keimanan, ilmu, dan kemajuan. Kecintaan kepada Nabi tidak semestinya membuat kita terjebak dalam romantisme masa lalu. Keteladanan Nabi justru dapat menjadi energi untuk bergerak menuju masa depan.
Dalam pemikiran Nurcholish Madjid, keislaman tidak harus dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan, rasionalitas, kemodernan, dan keterbukaan terhadap perubahan. Keislaman dapat berdialog dengan keindonesiaan dan kemajuan. Semangat itu penting bagi pendidikan kita.
Peserta didik perlu memiliki iman yang kokoh sekaligus pikiran yang terbuka. Mereka perlu memiliki identitas yang kuat, tetapi tidak takut berinteraksi dengan dunia. Mereka perlu memahami tradisi, tetapi tidak menjadikan tradisi sebagai alasan untuk menolak perubahan. Berakar, tetapi tidak terbelenggu. Terbuka, tetapi tidak kehilangan arah.
Guru Di Era AI
Prinsip tersebut semakin penting ketika teknologi mengubah cara belajar. Di tengah derasnya informasi, posisi guru justru semakin strategis. Guru memang bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan, tetapi informasi tidak sama dengan kebijaksanaan.
Guru membantu peserta didik memilah informasi, menguji kebenaran, memahami konteks, membangun nalar, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. AI mungkin dapat membantu seorang anak membuat tulisan, tetapi guru tetap diperlukan untuk mengajarkan mengapa tulisan itu harus jujur. AI dapat memberikan berbagai jawaban, tetapi guru membantu anak memahami konsekuensi dari pilihan.
Karena itu, guru tidak kehilangan peran di era AI. Peran guru justru menjadi semakin manusiawi. Guru bukan sekadar penyampai materi. Guru adalah pendamping pertumbuhan manusia. Dan untuk menjalankan peran itu, guru sendiri harus menjadi pembelajar. Guru yang terus belajar memberikan teladan bahwa belajar bukan kegiatan yang berhenti setelah seseorang memperoleh ijazah.
Pendidikan Untuk Masa Depan Purbalingga
Bagi Purbalingga, gagasan ini dapat menjadi pijakan untuk membangun pendidikan yang memiliki akar sekaligus arah. Anak-anak perlu mengenal budaya, lingkungan, dan nilai-nilai daerahnya, tetapi juga harus mampu membaca perubahan nasional dan global.
Kita tidak hanya ingin menghasilkan generasi yang siap bekerja, tetapi generasi yang siap hidup: mampu mengambil keputusan, menghadapi perbedaan, bekerja sama, menjaga integritas, dan memberi manfaat. Sebab pendidikan bukan hanya investasi bagi masa depan anak. Pendidikan adalah investasi bagi masa depan masyarakat.
Maulid Sebagai Energi Perubahan
Karena itu, mungkin cara paling relevan memperingati Maulid Nabi bukan sekadar bertanya seberapa meriah peringatannya, tetapi apa yang berubah setelah peringatan itu selesai.
Apakah guru menjadi lebih manusiawi? Apakah sekolah menjadi lebih inklusif? Apakah peserta didik semakin mencintai ilmu? Apakah teknologi digunakan dengan lebih bijaksana? Apakah keberagamaan melahirkan kepedulian yang lebih besar kepada sesama? Jika jawabannya ya, Maulid tidak berhenti sebagai seremoni. Ia menjadi energi perubahan.
Kita boleh memiliki AI yang semakin canggih, sekolah yang semakin digital, dan pendidikan yang semakin berbasis data. Namun semua itu akan kehilangan makna jika manusia yang dihasilkan justru kehilangan kejujuran, empati, tanggung jawab, dan keadaban.
Sebab, kemajuan tidak cukup diukur dari seberapa canggih teknologi yang kita kuasai, tetapi juga dari seberapa manusiawi kehidupan yang mampu kita bangun dengannya.
Maka, kita mengenang Nabi bukan untuk tinggal di masa lalu, melainkan untuk membawa nilai-nilai kenabian ke masa depan: membentuk manusia yang beriman tanpa kehilangan nalar, berilmu tanpa kehilangan akhlak, modern tanpa kehilangan jati diri, terbuka tanpa kehilangan arah, dan maju tanpa meninggalkan kemanusiaan.
Pada akhirnya, tugas pendidikan bukan sekadar menyiapkan anak menghadapi masa depan. Tugas pendidikan adalah menyiapkan manusia yang kelak mampu membuat masa depan menjadi lebih baik. (*)