
Oleh: Rini Siswanti, S.Pd., M.Psi.
Kepala SMPN 4 Sentolo
Kabupaten Kulonprogo
BERADA di daerah pinggiran Kabupaten Kulon Progo tidak pernah menjadi alasan bagi SMP Negeri 4 Sentolo untuk berkecil hati. Di balik keberagaman latar belakang ekonomi dan tingkat pendidikan orang tua murid, sekolah ini justru membuktikan mampu bertransformasi menjadi laboratorium karakter unggul bagi peserta didiknya.
Di era digital saat ini, masuknya gawai (smartphone) menghadirkan tantangan ganda. Di satu sisi, HP menjadi media belajar yang kaya informasi. Namun, di sisi lain, gawai sering menjadi sumber distraksi, memicu ketergantungan, hingga mengurangi interaksi sosial secara tatap muka. Belum lagi tantangan kedisiplinan, tutur kata yang kurang santun, serta potensi perundungan (bullying) di kalangan remaja.
Menjawab tantangan tersebut, Kepala SMP Negeri 4 Sentolo, Rini Siswanti, S.Pd., M.Psi., bersama seluruh warga sekolah menginisiasi sebuah gerakan pembiasaan budaya yang unik dan edukatif. Mengusung jargon yang mudah diingat, “Minum STMJ Bikin Badan Kuat, Lakukan 5S2TMJ Bikin Karakter Hebat”, sekolah merancang sembilan pilar nilai utama yang dihidupkan dalam keseharian.
Melalui gerakan ini, sekolah menghidupkan nilai-nilai kebaikan yang dikemas dalam akronim 5S2TMJ. Nilai 5S membawa kembali kehangatan budaya Jawa melalui kebiasaan senyum, sapa, salam, sopan, dan santun dalam setiap perjumpaan.
Nilai tersebut kemudian dipadukan secara selaras dengan 2TMJ yang menanamkan integritas serta kepedulian sosial, yaitu keberanian dan kebiasaan mengucapkan kata tolong, terima kasih, maaf, serta jujur dalam interaksi sehari-hari warga sekolah.
Kehangatan Pagi dan Budaya Unggah-Ungguh
Setiap pagi sebelum bel masuk berbunyi, guru piket dan pengurus OSIS telah berdiri rapi di pintu gerbang sekolah. Kedatangan murid disambut dengan hangat.
Ketika bersalaman, murid diajarkan membungkukkan badan sebagai bentuk penghormatan sekaligus mengucapkan permohonan doa restu dalam bahasa Jawa krama inggil, “Sugeng enjing, Bu/Pak, nyuwun pangestu, mugi-mugi kula sukses.”
Sapaan tersebut direspons para guru dengan doa tulus untuk keberhasilan murid-muridnya. Kebiasaan sederhana ini menciptakan ikatan batin yang kuat sejak awal hari sekaligus menanamkan nilai unggah-ungguh dalam kehidupan sehari-hari.
Kotak Kejujuran untuk Pengelolaan HP Mandiri
Setelah menyapa guru, pembiasaan integritas dimulai. Tanpa perlu digeledah atau diperiksa secara ketat, murid secara mandiri, jujur, dan sadar meletakkan HP mereka ke dalam kotak penyimpanan di kelas masing-masing.
HP hanya dikeluarkan ketika jam pelajaran membutuhkan eksplorasi literasi dan numerasi digital. Setelah selesai digunakan, HP dikembalikan ke tempat penyimpanan dan baru diambil kembali secara tertib saat jam pulang.
Kebiasaan tersebut bukan sekadar aturan penggunaan gawai, tetapi menjadi sarana pembelajaran karakter. Murid dilatih untuk bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri sekaligus membangun kepercayaan antara murid dan guru.
Dampak Nyata yang Membahagiakan
Konsistensi dalam merawat pembiasaan kecil setiap hari akhirnya membuahkan perubahan suasana sekolah yang membahagiakan. Salah satu dampak yang paling menyentuh adalah terciptanya lingkungan belajar yang bebas dari perundungan.
Tutur kata yang santun dan kebiasaan saling memaafkan mampu melunakkan ketegangan antarmurid menjadi rasa persaudaraan yang semakin erat. Pengelolaan gawai secara mandiri juga berhasil melatih nilai kejujuran secara nyata. Hal itu terlihat dari tidak adanya kejadian barang tertukar, terlebih kehilangan HP, selama berada di sekolah.
Di dalam kelas, proses pembelajaran berlangsung lebih tenang, fokus, dan kondusif tanpa distraksi gawai. Pada saat yang sama, murid-murid di daerah pinggiran tersebut tumbuh menjadi pribadi yang bangga dan terampil menggunakan bahasa Jawa krama inggil ketika berkomunikasi dengan orang yang lebih tua.
Sinergi dan Pembelajaran Penting
Keberhasilan program tersebut tidak lepas dari peran kolaboratif kepala sekolah sebagai teladan, guru, karyawan, pengurus OSIS sebagai agen perubahan, serta dukungan orang tua.
Praktik baik ini mengajarkan bahwa membentuk karakter murid yang hebat tidak selalu membutuhkan biaya mahal atau teknologi yang rumit. Karakter dibentuk melalui kesungguhan hati, sentuhan kasih sayang, kearifan lokal, serta konsistensi dalam membudayakan kebiasaan-kebiasaan kecil yang bermakna.
Pada akhirnya, pendidikan karakter bukan hanya tentang apa yang diajarkan di dalam kelas, tetapi juga tentang apa yang dibiasakan setiap hari. Dari gerbang sekolah, cara menyapa, cara berbicara, kejujuran dalam menyimpan HP, hingga sikap menghormati orang lain, semuanya menjadi bagian dari proses membentuk karakter murid.
Mari bersama-sama mewujudkan sekolah yang aman, jujur, dan berbudaya luhur untuk menyiapkan generasi masa depan Indonesia.(*)